Cerpen : Senja Kelabu di Ataidimi

Ilustrasi - godets9photo.wordpress.com

Ilustrasi – godets9photo.wordpress.com

Oleh : Philemon Keiya

AIR matanya terus mengalir. Wajah hitam manis itu ternoda oleh butiran perak yang mengalir. Sejak pagi Rina duduk seorang diri di atas bukit Ataidimi. Mulutnya terkunci, tak mampu bicara.

Matanya memerah dan bengkak. Tubuh indah bak gitar spanyol. Rambut keritingnya tak terlalu panjang itu sengaja dibiarkan tergerai tak terurus.

Dibawah sebuah pohon besar, kaos oblong warna hijau yang membungkus tubuhnya, terlihat kontras dengan warna kulitnya. Rina mengenakan celana hitam panjang, dengan jaket besar di samping tubuhnya. Rina, anak pertama dari tiga bersaudara.

Wajahnya yang dahulu selalu ceria, kini berubah. Murung, diam dan kusut. Seorang diri, di dalam hutan. Di atas gunung Kemuge.

Tak terasa, matahari kini condong ke bagian barat, tertutup awan kelabu. Mentari sendu seperti hati Rina. Angin sore bertiup dari Kampung Puweta. Senja kelabu. Rina mencoba berdiri dan rentangkan kedua tangannya, menarik nafas lalu menghebuskan perlahan. Ia berusaha mengusir bebannya yang ada di dadanya.

Ia meraih noken yang ia jahit sendiri beberapa bulan lalu. Ia jahit dengan dengan menggunakan hakpen dan benang manila.

Sebenarnya, noken itu ingin ia berikan kepada Sonny, teman sekelasnya di SMP. Diam-diam Rina suka dengannya. “Tapi saya seorang perempuan. Sonny yang harus ungkapkan perasaannya kepada saya,” katanya dalam hati.

Pages: 1 2 3 4 5