Cerpen : Senja Kelabu di Ataidimi

“Jangan pernah lupa Doa. Mama juga akan selalu doakan” lanjut mamanya.

Seusai ibadah hari minggu raya, dengan terpaksa Rina keluar dari rumahnya. Rumahnya di Kampung Debei. Kampung yang tenang, jauh dari hiruk – pikuk kota.

Rina sudah berhasil lewati beberapa kampung. Hingga tiba di Kampung Deemago. Kampung terakhir dari Debei yang berbatasan langsung dengan lembah Kamuu – Dogiyai. Di ujung rumah, ia lari sekuat tenaga. Ia tidak menoleh ke belakang ataupun ke samping kiri dan kanan.

Tiba-tiba ia langkahnya berhenti. Sebuah lantunan suara Wiiyai terlantun merdu. Dedaunan menari. Dahan-dahan pun ikut bergoyang. Hembusan angin dingin dari Muguboopa memukul dadanya perlahan.

Muguboopa, sebuah tebing dan lobang besar yang ada di ujung perkampungan Debei. Muguboopa menyimpan berbagai cerita misteri.

Rina mencoba untuk mengakhiri segala ceritanya, “Itu cara tepat,” pikirnya. Biar tidak berlanjut. Tapi, kalbunya merontak. Keinginannya meminta paksa untuk mencoba. Mencoba untuk membuat cerita baru. Lompat di Muguboopa. Cerita yang tidak akan pernah diketahui oleh siapapun, kecuali TUHAN.

Tapi, kalbu merontak. Sama sekali tidak mengizinkan Rina. “Rina, masalah itu hanya proses pendewasaan. Masalah pasti ada ujungnya. Walau sakit, harus tahan. Kuatkan hati dan tetap bersabar,” tuah hati kecilnya.

Rina diam sejenak. Kalbunya menang.

Gelap sudah menyelimuti. Rina sudah ada di bawah sebuah batu besar. Dan diam seorang diri di sana. Pasukan nyamuk datang silih berganti menemani. Gemintang di langit menjadi lampunya. Kesepian tak bertepi hadir dalam angannya.

Sementara itu, di rumah kembali ribut. Amarahnya sudah di ubun-ubun. Berbagai kata yang tak pantas mulai mengalir dari mulut Matiyuti, bapaknya Rina. Beberapa pukulan sudah mendarat di badan mama.

Pages: 1 2 3 4 5