Cerpen : Senja Kelabu di Ataidimi

“Saya sudah bilang. Besok pagi Yulianus akan datang kesini. Rina harus kawin dengan Yulianus. Kalau tidak, nanti saya panah Rina,” ancam Matiyuti.

“Tapi, Yulianus itu sudah ada dua istri. Rina itu masih SMP. Rina harus sekolah…”

“Plaaaaakk..!”

Kayu berukuran besar menghujam di kepalanya. Mama Rina tersungkur. Darah bercucuran. Beberapa pukulan pakai kayu juga mendarat di bagian tubuh lain. Ia terkulai.

***

“Saya punya anak itu masih kecil. Saya juga mau, saya punya anak harus jadi pegawai besar. Kalian jangan pernah berharap. Kasihan kamu. Kalian, pikir bisa. Yulianus itu sudah punya istri dua dan banyak anak. Saya punya anak harus sekolah. Jangan pernah ganggu saya punya anak,” teriak Mama Rina pagi-pagi dari depan rumahnya.

Hitamnya rambut berubah menjadi merah akibat darah. Darah keluar banyak. Rasa peningnya masih terasa.

Beberapa tetangganya datang ke rumah. Mama Rina ceritakan semua. Ia mencoba melawan dalam ketidakberdaayaan. Dan, hal itu menjadi bahan cerita bagi kampung di sekitar.

Matiyuti ingin anaknya harus kawin dengan salah satu temannya, Yulianus. Bagi Matiyuti, masa depan bagi Rina sama sekali tidak penting. Dalam waktu yang dekat, Rina harus masuk di rumah Yulianus walau sebagai istri ketiga, ambil maskawin. Lalu, turun ke Nabire. Itu saja.

Masa depan Rina, Matiyuti pernah pikirkan? Sama sekali tidak.

***

Pages: 1 2 3 4 5