Seratus Tahun Lalu, Cinta

Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh Dzikry el Han

AKU tahu Yetfa sejak kecil. Pembawaannya lembut. Caranya mandi di sungai membuatku tidak telaten menunggu. Biasanya aku memanjat pohon kasuari (Casuarina equasetifolia), memandangi puncak bukit Manena dan Temar, sementara Yetfa masih mandi.

Aku membayangkan ada kehidupan lain di luar sana, yang jauh dari dusun kami di tepi rawa-rawa sagu tanpa batas ini. Dunia yang tidak sepi, atau yang menempatkan perempuan sebagai simbol kehidupan. Aku membayangkan Yetfa berada di sana. Mungkinkah ia masih lembut dan begitu pasrah?
“Yanggi, kau cepat turun. Kita harus memasak sekarang”

Yetfa memanggilku setengah hati. Ia segera sibuk menyiapkan pembakaran untuk memasak makan malam kami. Buah-buah sukun dan pisang mengkal, juga buah-buah pandan yang berwarna merah darah, semuanya tampak serasi dengan Yetfa yang cekatan. Bulir-bulir keringat di pelipisnya seperti cerita yang ingin menentukan jalannya sendiri. Sementara Yetfa adalah perempuan yang tak pernah mungkin terpisahkan dari tata cara kehidupan kami sebagai orang Towe. (1)
“Saya akan segera dinikahkan, Yanggi,” bisik Yetfa gugup, seolah makanan kami di liang pembakaran tak mungkin tanak.

Demikianlah. Beberapa waktu setelah sore itu, Yetfa menikah. Sementara aku masih suka memanjat pohon kasuari dan berusaha menerawang dunia lain di balik Bukit Manena dan Temar.

Kemudian tubuh Yetfa mulai berubah. Ia mengandung. Aku bersedih untuk Yetfa di ambang misteri baru kehidupannya. Hingga tiba saat Yetfa harus mengendap-endap sendirian ke tengah hutan, masuk jauh ke dalam,hingga tak siapa pun mendengar teriakan kesakitannya.

Kuikuti dia dari jarak yang aman, dengan rasa gugup berlebihan. Sementara Yetfa melangkah tenang tanpa satu kali pun menoleh ke belakang. Mungkin hutan dan rawa-rawa sagu kami telah mengajari Yetfa secara rahasia.Ia terlihat seperti sudah puluhan kali melahirkan. Yetfa tahu kapan harus berjongkok di atas daun-daun muda yang dibentangkannya di bawah pohon kasuari dengan kedua pahanya membuka.

Yetfa memegangi batang pohon kuat-kuat. Wajahnya penuh peluh, matanya nanar, alisnya mengerut, hidungnya seperti akan lepas, mulutnya nganga tertarik-tarik tak beraturan. Aku tahu, itulah ungkapan rasa sakit yang ditanggungkannya demi melanjutkan garis keturunan klan kami.

Yetfa terengah-engah,sekali lagi mengerahkan seluruh tenaga.Kemudian di ujung teriakannya yang penuh rasa sakit, sesuatu meluncur di antara pahanya, luruh ke tanah. Suara tangis bayi langsung memecah berhambur-hambur. Yetfa lunglai menyandarkan keningnya di pohon. Tapi aku tahu, ia tak punya banyak waktu. Jari-jari Yetfa yang gemetar segera meraih bayinya.Mataku tak mau lepas memandangi Yetfa, meski perasaanku tergores-gores. Yetfa memejam sejenak, seperti memastikan letak yang tepat. Ia lalu menggigit kuat-kuat tali pusar bayinya sampai terputus.

Pages: 1 2 3