Seratus Tahun Lalu, Cinta

“Kau bikin sakit tetua adat punya anak.” Seseorang menuduh tanpa perasaan.

“Tidak! Saya tidak bikin sakit siapa pun.” Yetfa meronta membela dirinya, yang benar-benar hanya seorang diri.

“Tetua punya anak itu demam. Saya bisa bikinkan obat dari menggio sir (2).”

“Kau diam!”

Ilustrasi Sagu - IST

Ilustrasi Sagu – IST

Aku tak pernah bisa mengerti jalan pikiran para lelaki itu. Tubuh Yetfa yang masih lemah setelah melahirkan diseret-seret begitu rupa.

“Ambil dia punya bayi!” perintah seseorang.

Yetfa melolong ketika bayinya terenggut dari dekapan. Kali ini ratapannya berisi amarah yang tak pernah tersampaikan, luka yang tak mungkin sembuh, juga cinta yang sia-sia. Yetfa seolah memehuni rawa-rawa sagu kami dengan rintihan penyesalan, dan mungkin sumpah-sumpah atau bahkan doa-doa. Kubayangkan dalam gelap ini air mata dan darah dari jalan rahim Yetfa mengalir sama deras.
Jika aku cukup punya keberanian, akan kuhadang para lelaki itu, yang semuanya kukenali. Tapi ternyata aku lebih pengecut dari matahari yang setiap malam bersembunyi, membuat rawa-rawa sagu kami gelap pekat.

“Yanggi,”

Seseorang memegang pundakku, dan begitu yakin menyebut namaku seolah sudah mengenaliku sejak berabad lalu. Suara yang sekilas tak dapat membuatku percaya bahwa ia bapakku. Tapi telapak tangannya tak bisa kutepis.

Telapak kekar yang menyembunyikan kerapuhan.

“Bapa, kenapa di sini?”

“Seharusnya Bapa yang tanya kau. Bikin apa mengintip Yetfa?”

“Saya harus lihat pahlawan itu untuk yang terakhir, sebelum dia punya tubuh terjatuh ke pangkuan bumi.”

Bapak diam. Kegelapan menghalangi pandanganku untuk bisa melihat sorot matanya. Tapi kemudian, pelan-pelan bapak menuntun tanganku agar meraba pipinya. Ada yang basah. Sepanjang hidup, baru sekarang aku tahu bapak punya air mata. Apa yang membuatnya bersikap demikian?

“Kau tidak sedang melihat pahlawan, Anak,” kata bapak lirih, seolah suaranya terhimpit di rahang.

“Yetfa itu, saya punya pahlawan.”

“Bukan. Itu masa lalu kita yang diulang kembali oleh alam.”

Aku tak mengerti maksud bapak. Tapi aku percaya bapak tidak akan membiarkan aku bertanya-tanya lebih jauh.

“Waktu itu Bapa tak bisa berbuat apa-apa ketika kau punya mama dituduh suanggi, diseret ke dalam hutan untuk diadili.”

Seperti puncak Manena dan Temar yang mendadak runtuh, lalu bebatuan raksasa menghantam-hantam jantungku, tapi aku tak mati-mati. Begitulah kalimat bapak muncrat setelah belasan tahun ditimbun. Sejenak, aku tak tahu lagi tentang kepedihan, sebab akulah luka itu, yang sakitnya menghunjam tak tertahankan.

“Kelak, bayi perempuan Yetfa akan jadi seperti Yanggi, dan suami Yetfa akan jadi seperti Bapa,” kata bapak datar, seperti mengabarkan bahwa besok waktunya memanen buah merah di tepi rawa.

“Tapi mungkin Yetfa menyumpahi kita, Bapa.”

“Untuk apa?”

“Menghentikan kepedihanpara perempuan. Mungkin seratus tahun lagi kita tinggal cerita. Kita akan punah, Bapa.”
Tak ada kata apa pun lagi yang diucapkan bapak. Dia meninggalkanku dalam kegelapan. Sementara Yetfa tak lagi meronta. Kubayangkan wajahnya mengeras, sorot matanya tajam, dan bibirnya mengatup penuh wibawa. []

Kampung Yoka, Jayapura, Februari 2015

1. Salah satu kelompok masyarakat adat di Papua yang tinggal di pedalaman Kabupaten Keerom. Mereka menggunakan dua bahasa untuk berkomunikasi, yaitu bahasa Yetfa dan bahasa Towei.
2. Menggio sir adalah tumbuhan menjalar dengan aroma daunnya mirip balsam, salah satu tanaman obat

Pages: 1 2 3