Maria Sanggenafa

Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh : Topilus B. Tebai

Ketika perempuan berambut pirang berombak itu datang lagi dengan mendorong motornya ke arah rumahku, aku kini mulai memuji kreativitasnya merebut hatiku. Lihat bajunya, matanya, wajah bulat ovalnya, rambut pirang yang keriting yang dibiarkan terurai hingga sebahu itu diterpa mentari sore.

Dia mungkin saja made in tulang rusuk kiriku oleh Tangan Tuhan. Dan untuk kalimat ini, aku samar-samar ingat ajaran kuno dari Ibuku ketika usiaku 5 tahun. Dan ini hanya untuk membenarkan aksiku pada umumnya.

Aku tersenyum kecil sambil menutup notebook yang merekam semua aksi petualanganku dan bergegas menemui gadis itu di bengkel depan rumahku.

Saya kenal gadis itu sejak seminggu yang lalu. Kami sudah 6 kali bertemu dan ini yang ketujuh dengan posisi pertemuan yang sama: dia membeli bensin padaku. Mulai Senin hingga Minggu sore ini.

“Abang Matiew, bensin.”

“Ok. Berapa liter Nona?”

“Dua liter saja, Bang.”

Abang? Akh, aku tak percaya gadis itu memanggilku demikian. Yang aku tahu, namanya Maria Siranda Sanggenafa. Ayahnya asli Papua, kerja di lingkungan pemerintahan kabupaten Biak, tempat kami tinggal. Rumahya aku tahu, tak jauh dari rumahku. Ibunya orang Maumere, Ende, Flores. Mungkin karena ibunya orang Flores, aku dipanggilnya Abang. Entahlah.

“Bang, tinggal sendiri di rumah sebesar ini?”

Aku tak menyangka gadis cokelat manis yang tingginya kutaksir 159 cm dengan mata indah ini akan memberiku pertanyaan demikian.

Pages: 1 2 3 4