Maria Sanggenafa

“Iya. Sendiri.”

“Kok sendiri, Bang. Belum punya keluarga ya?”

“Ya, belum.”

“Harusnya Abang sudah punya keluarga.”

Gadis ini kemudian tersenyum kecil. Senyuman indah yang tepat seperti senyum ideal seorang wanita idaman dalam bayanganku.

“Bang Matiew punya keluarga di Belanda?”

Ilustrasi

Ilustrasi

Kali ini mimik mukanya serius. Gadis itu kutatap dahulu. Berbaju merah muda tipis. Jeans menutupi tulang kaki rampingnya. Dia sempurnya untuk ukuran gadis Biak umumnya.

“Masih belum punya Nona. Kan sudah aku bilang, aku masih kuliah S2 di Jerman.”

Karena aku telah berbohong padanya di awal, kini aku harus berbohong lagi. Berbohong bukan kesukaanku, tetapi kali ini harus.

Bila kau menyalahkanku, salahkan aku di 3 hari yang lalu, bukan aku di sore ini. Aku, juga kau pastinya, akan memutuskan untuk menipu daripada malu di depan gadis idaman secantik Maria. Kulihat dia puas dengan jawabanku.

Dia masih tak tahu bahwa aku adalah seorang petualang. Dia masih tak tahu aku adalah anak seorang pebisnis internasional kenamaan asal Leiden, Belanda. Dan aku, Matiew, anak ketiga Muninghoof, ayahku, tugasku hanya menikmati hidup dan berpetualang keliling dunia.

Usai tamat dari Universitas Leiden jurusan bahasa, aku lebih tertarik berpetualang. Sebelum menginjak tanah ini, aku sudah pernah ke 13 negara. Ini Negara ke-I4.

Negara pertama yang kukunjungi tentu saja Indonesia -untuk menghormati rempah-rempahnya yang telah membuat ayahku salah satu orang terkaya di Nederland- dan terakhir kali sebelum di negara ini adalah Australia.

Dengan penampilanku yang necis dan gayaku yang khas, mengandalkan tampangku yang di atas rata-rata, aku harus jujur mengakui, telah ada 25 gadis di 13 negara yang telah kuperdayai.

Pages: 1 2 3 4

  • kemana harus membaca lanjutannya,min ?