Maria Sanggenafa

Ilustrasi

Ilustrasi

Dan kau tahu, Maria Sanggenafa, gadis manis di depanku ini, yang telah membuatku di awan-awan hanya karena senyum manisnya yang seindah pantai Tobati di negaranya ini telah aku catat di notebook khusus korban petualanganku sebagai gadis ke-26.

Dia tak sadar siapa aku, dan aku pun tak ingin menggubris lagi daftar itu dan urutannya: yang terpenting adalah menikmati moment ke moment yang kian indah ini.

Bila ingin aku jujur, gadis ini istimewa. Seperti gadis Brasil yang kutemui di Miami, pantai dengan pusat narkoba, wanita dan bisnis hitam yang paling membekas dalam ingatanku itu. Mungkin karena keriting rambutnya yang sama. Atau barangkali mata putih mereka, titik di hitam di tengahnya dengan mahkota alis yang tipis dan bulu mata yang lentik.

Aku kini mulai tak sabar menunggu saat-saat yang begitu indah itu.

Tentu saja, bersama gadis ini, yang tak sadar bahwa barangkali aku monster terbaik yang akan memberinya kedamaian yang bakal akan dikenangnya seumur hidup dengan cucuran air mata- seperti gadis-gadis lainnya yang telah kudaftar.

“Bang, aku takut sendiri di rumah. Kedua orang tuaku sedang ke luar daerah. Bolehkan aku mengajak Abang barangkali 5 hari ini bersamaku di rumahku. Rumah sebesar itu membuatku takut.”

“Hmmm.. ya, baiklah Nona.”

Sekilas kulihat senyum mekar di bibirnya. Dan untuk kali ini pun, gadis ini pasti tidak tahu. Aku yang membuat kedua orang tuanya harus berangkat ke luar kota mendadak bekerja sama dengan atasannya untuk urusan ciptaanku di Ibukota negaranya.

Yang terpenting kini, setelah merebut kepercayaan gadis ini di 6 hari pertama, inilah waktunya aku berduaan bersamanya.

“Bang, ini kamar kosong. Abang tinggal di sini. Sekarang sudah sore. Silahkan mandi dan mengganti baju. Aku akan segera menyiapkan makan untuk malam ini.”

Matanya mengedip penuh arti padaku begitu aku melihatnya. Hatiku berbunga. Yang aku harapkan, dan yang aku impikan pasti akan terjadi. Dan mulai malam ini. Ya, malam ini.

Aku bersiul kecil ke kamar mandi, membersihkan tubuhku sebersih-bersihnya. Bahkan dari Leiden pun kupikir aku tak mandi dengan cara seperti ini. Pikiranku melayang jauh. Imajiku singgah satu per satu pada para korbanku.

Di Pantai Kuta, Bali, sebelum peristiwa Bom Bali, aku pernah bersama Ratyaningsih, wanita keturunan Tionghoa yang kuliah semester akhir di Bali. Aku memperkenalkan diriku padanya sebagai pengusaha yang sedang berwisata ke Bali. Untuknya, aku hanya butuh 5 hari untuk akhirnya wanita itu jatuh ke pelukanku.

Juga Sellena di Hawaii, Pasifik. Wanita India keturunan Jepang itu hanya butuh 6 hari untuk membuatnya tertidur lemas di sampingku. Juga Marry, wanita kulit hitam asal Afrika Selatan itu. Mengenai dia, aku sudah mulai lupa. Baginya, aku butuh sepekan saja. Dia sahabat sepekanku di urutan dua daftar korbanku.

Barangkali kau menyebut aku ahli di bidang ini. Aku tak akan mengomentarinya. Itu benar.

“Bang, mari makan.”

Pages: 1 2 3 4

  • kemana harus membaca lanjutannya,min ?