Maria Sanggenafa

Pintu kamarku diketok, dan aku sengaja membukanya hanya dengan celana pendek yang tak pantas. Ketika pintu terbuka, kulihat Maria Sanggenafa telah berdandan rapi. Melihatku tak berbaju, dia dengan sopan mempersilahkanku memakai baju dan menungguku di meja makan sambil menutup pintu kembali.

Ketika memandang matanya, ada seberkas sinar putih yang masuk menembus mataku. Sinar itu hangat, dan ketika getarannya mengena di hatiku, aku menjadi malu. Malu telah berpenampilan demikian di depannya.

Setelah berdandan rapi, aku ke luar menjumpainya di meja makan.

Ketika tanganku hendak mengambil piring dan memindahkan nasi dari tempatnya, tanganku dicegat wanita ini. Kini, dia kulihat lain. Dia bersahaja, dan aku tak tahu kesalahanku.

“Kita berdoa dahulu, Bang.”

Aku tiba-tiba merasa kerdil di hadapannya, gadis kecil ini. Aku merasa malu.

Ilustrasi

Ilustrasi

“Bang Matiew, silahkan pimpin doa sebelum kita makan.”

Kini aku semakin dalam menunduk dan tak mampu memandangnya. Ketika tangannya menyentuh bahuku, aliran hangat yang sama memaksaku mengangkat muka. Dengan lemas aku jawab dia.

“Aku tak tahu berdoa.”

Sebelum makan, Maria Sanggenafa mengajariku berdoa. Aku yang sedari kecil tak tahu menahu soal berdoa sejak Ibu kandungku meninggal saat aku berusia 5 tahun itu seperti remaja kerdil di hadapan gadis bersahaja berjiwa besar.

Setelah makan, Maria mengantarku ke tempat tidur, mengajariku membaca dan merenungkan firman Tuhan dan berdoa sebelum tidur dari Madah Bakti miliknya.

Aku benar-benar merasa kerdil. Gadis Negara ini tak seperti gadis yang telah kujumpai di Negara Indonesia dan gadis-gadis di negara lain.

Dan ajaibnya kini, ada kitab hitam di tanganku. Kubuka kitab itu, dan kudapati kutipan ini di 1Yohanes 1 : 9, berbunyi: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Malam itu, air mata menetes jatuh. Aku menyesali dosa-dosaku, berharap dosaku diampuni, dan mengikat janji akan berubah.

Petualanganku mungkin terhenti di kota ini. Dari Negara ini, aku mungkin akan menempuh jalan baru yang lebih indah. Malam itu, aku tidak lagi tidur sebagai binatang jalang yang dilahirkan harta dan kenikmatan. Aku terlelap tidur sebagai Matiew Muninghoof, anak Tuhan dari keluarga Muninghoof. (*)

Sumber : lemari-sastra.blogspot.co.id

Pages: 1 2 3 4

  • kemana harus membaca lanjutannya,min ?