<
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. Rendahnya indeks kesehatan bangsa Indonesia
  • Minggu, 17 Desember 2017 — 18:41
  • 1844x views

Rendahnya indeks kesehatan bangsa Indonesia

Ilustrasi. Shutterstock/Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi - Isna Umiyati (49) masih terlihat lelah. Ai (8) anaknya, terkena Difteri. Dia berjuang keras agar anaknya mendapatkan perawatan dan pelayanan yang tepat dan terbaik.

Isna bercerita, sebelum positif dinyatakan terjangkit difteri, Ai sempat batuk-pilek selama tiga hari di hari-hari menjelang pengujung November. "Saya pikir pusing biasa,”

Namun karena suhu badan buah hatinya itu terus naik. Isna membawanya ke Rumah sakit Citama Bogor. Anaknya dinyatakan terjangkit virus Difteri. Tapi pihak RS tak sanggup menangani.

Dia lalu memboyong anaknya ke RSUD Pasar Minggu. Tapi disana, dia justru kecewa.

Pasalnya saat masuk di Instalasi Gawat Darurat, pasien yang diperiksa hanya diminta duduk di bangku, tak peduli separah apapun kondisi pasien. Pihak RSUD juga bersikukuh, anaknya tidak menginap difteri.

Pihak RSUD lantas hanya merujuk Ai ke dokter anak. Padahal, menurutnya, pemeriksaan yang dilakukan belum menyuruh.

“Karena prediksi pertama difteri, saya kan deg-degan juga. Ini kan masalah nyawa,” ucap Isna emosi.

Dia akhirnya pindah ke Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Suliyanti Saroso, Jakarta Utara. Benar saja, anaknya positif Difteri. Namun kini kondisinya beranjak membaik. Apa yang dialami Isna adalah cermin buruk pelayanan kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, pada Oktober hingga November 2017, ada 11 provinsi menaikkan status penyakit difteri ke level kejadian luar biasa (KLB) di antaranya Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur.

Yang menyedihkan, salah satu penyebab tingginya penyebaran difteri akibat sebagian warga menolak melakukan vaksinasi.

Sekitar 66 persen penduduk Indonesia yang terserang difteri ternyata tidak mengalami imunisasi. Selain itu, meski sudah pernah dilakukan vaksinasi, untuk mencegah difteri tidak hanya cukup sekali vaksinasi, namun harus dilakukan lagi setelah 10 tahun. Vaksin difteri juga diklaim dapat mencegah wabah ini hingga 95 persen.

Selain wabah difteri atau campak, Indonesia juga sedang menghadapi berbagai epidemi, seperti malaria. Dalam laporan A Baseline Analysis from the Global Burden of Disease Study 2015 memaparkan bahwa malaria, tuberkolosis dan HIV mendapat nilai rendah yang artinya Indonesia harus berjuang keras melawan penyakit tersebut.

Di tengah berbagai serangan virus dan bakteri, sayangnya setengah populasi dunia tidak dapat memperoleh layanan kesehatan yang memadai menurut laporan Bank Dunia dan WHO. Situasi itulah yang menempatkan sejumlah negara di posisi rendah dalam indeks kesehatan yang rendah.

Dalam indeks kesehatan global terakhir, Indonesia berada di posisi ke 101 dari 149 negara menurut laporan The Legatum Prosperity Index 2017.

Indeks ini didasarkan pada kesehatan fisik, mental, infrastruktur kesehatan dan perawatan guna pencegahan berbagai wabah atau penyakit. Dibandingkan Singapura, posisi Indonesia sangatlah jauh. Negara maju yang hanya seluas DKI Jakarta dengan penduduk sekitar 5 juta jiwa ini, punya indeks kesehatan terbaik nomor dua di dunia.

Singapura berada di bawah Luksemburg yang menjadi negara dengan indeks kesehatan terbaik dunia. Lima negara teratas memang dipegang negara-negara maju termasuk Jepang, Swiss dan Austria.

Negara-negara dunia ketiga, khususnya dari Afrika, yang sangat minim dalam layanan kesehatan yang memadai seperti Chad, Afrika Tengah, Guinea dan Liberia menempati posisi terbawah sebagai negara dengan indeks kesehatan berburuk di dunia.

Dibandingkan negara ASEAN lainnya pun posisi Indonesia masih keteteran. Thailand menempati posisi 35. Sedang Malaysia menempel Thailand di posisi 38. Indonesia bahkan kalah dari Vietnam yang berada di posisi 69 atau Laos di posisi 94.

Malaysia bahkan istimewa. Dalam 10 tahun terakhir pemerintah setempat gencar melakukan perbaikan sistem kesehatan dengan biaya murah. Tidak heran jika berbagai layanan kesehatan seperti rumah sakit di Malaysia pun mendapat akreditasi tinggi.

Malaysia bahkan berani membangun wisata medis bagi turis atau pasien luar negeri.

Pada 2011, misalnya, sekitar 643 ribu turis asing datang mengunjungi Malaysia untuk memperoleh layanan kesehatan. Jumlah itu semakin melonjak pada 2016 yang bahkan mencapai 921 ribu.

Di Indonesia, hingga kini, 120 juta warga masih hidup dalam lingkungan dengan sanitasi yang buruk. Setiap tahun bencana asap mengancam saluran pernafasan warga di Sumatera dan Kalimantan. Mutu air sungai di Indonesia termasuk buruk karena 52 sungai berstatus tercemar berat.

Dari sisi pemerintah, sejak awal 2017, pemerintah berjanji meningkatkan layanan kesehatan dengan merilis Epidemiology Operation Center (EOC). Sistem itu akan memantau penyakit yang muncul di seluruh Indonesia selama 24 jam. Namun upaya ini ternyata belum mampu mencegah dua kematian karena difteri di Jakarta.

BPJS atau kartu Indonesia Sehat? Ternyata belum cukup mengangkat indeks kesehatan Indonesia di tingkat global.(*)

Sumber: Tirto.id/CNN Indonesia

 

Reporter :
Editor : Syam Terrajana

#

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Socratez Yoman terpilih kembali sebagai Presiden Gereja Baptis Papua

Selanjutnya

Usai Gempa Jabar

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua