<
Show/Hide
  1. Home
  2. Mamta
  3. Ada apa dengan bukit Jokowi?
  • Minggu, 04 Maret 2018 — 16:48
  • 1609x views

Ada apa dengan bukit Jokowi?

Pengunjung menikmati es kelapa muda di Bukit Jokowi – Jubi/youtube
◕‿◕Sore menjelang malam, purnama, lampu-lampu kota, dan kaki langit semakin memanjakan mata. Itulah sekelumit pemandangan di kawasan Bukit Jokowi.◕‿◕

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Beberapa waktu belakangan, Bukit Jokowi menjadi incaran warga. Foto-foto dan videonya berseliweran di jagat maya.

Sejauh mata memandang, biru lautan dan langit menyatu. Seakan dipisahkan butiran awan tipis. Sedangkan pepohonan hijau melambai kaku.

Kontras dengan bunga-bunga kecil berwarna-warni yang menari ria. Menambah selera penikmat es kelapa muda. Sedangkan angin darat mengantarkan decak kagum akan eksotisme alam ini.

Sore menjelang malam, purnama, lampu-lampu kota, dan kaki langit semakin memanjakan mata. Itulah sekelumit pemandangan di kawasan Bukit Jokowi.

Bukit ini berada di kawasan Skyline, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua. Sekitar lima belas menit lamanya dari Abepura, atau setengah jam dari jantung kota.

Dinamai demikian, sebab Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) sempat mengunjungi kawasan ini, usai meninjau jembatan Hamadi-Holtekam, 2014 silam.

Sambil bersantai di pondok-pondok dan kursi kayu, melihat lautan pasifik, perkampungan warga, dan pulau-pulau kecil di sekitar Teluk Youtefa, beliau menikmati es kelapa muda.

“Sebenarnya minum es kelapa muda juga bisa dilakukan di rumah ataupun di sepanjang jalan Skyline,” kata Monalisa Mambrasar, salah satu pengunjung ketika ditemui Jubi, akhir pekan lalu.

“Namun, itu tidak sebanding dengan view yang ditawarkan Bukit Jokowi. Ini yang membuat saya datang ke sini walau harus berkali-kali,” lanjutnya.

Pengunjung lainnya, Dadang Hermansyah mengaku suasana Bukit Jokowi cukup ramah dan tenang. Tempatnya asik untuk nongkrong.

“Apalagi kalau menjelang malam, taman Jokowi memberikan saya rasa nyaman sehingga kadang harus berlama-lama di sini,” kata Dadang.

Pengelola Bukit Jokowi, Erik Korwa sebenarnya tidak mempunyai rencana untuk mengelola tempat tersebut, sebab dirinya tidak punya modal.

“Selepas kunjungan Pak Jokowi itulah baru saya mulai mengumpulkan dana sedikit demi sedikit. Awalnya hanya dua tenda, tapi sekarang sudah banyak, karena pengunjungnya juga mulai berdatangan,” kata Korwa.

Ia mengaku tak mematok tarif masuk dan lahan parkir. Yang penting pengunjung merasa nyaman. Tempat duduk pun gratis. Menu makanan juga disesuaikan dengan kantong pengunjung, terutama anak-anak muda.

“Saya di sini diuntungkan dengan view (pemandangan) Kota Abepura, Youtefa dan jembatan Hamadi-Holtekamp yang nantinya menjadi salah satu jembatan terpanjang di Papua,” ujarnya.

Pengunjung ke kawasan ini didominasi kaum muda. Sabtu dan Minggu paling banyak pengunjung atau sekitar 50 orang.

“Bahkan ada pengunjung yang tak kebagian tempat duduk. Namun itu bukan persoalan karena kedatangan mereka ke sini hanya untuk menikmati pemandangan yang ada,” katanya.

Mengelola Bukit Jokowi menjadikan pendapatan Korwa meningkat. Dulu dirinya hanya seorang petani biasa. Meski demikian, ia tak menyebutkan keuntungan. Hanya sekira Rp 1 juta per hari dengan rata-rata 20 sampai 25 pengunjung.

“Melihat peluang ini saya sedikit bisa tarik napas. Daerah ini tanpa ada bantuan sedikit pun dari pihak terkait,” katanya.

Ia bahkan mengelola lokasi ini berkat usaha dan kerja kerasnya. Ia berjuang sendiri mencari modal. Lama-kelamaan uang yang didapat ditabung dan menjadikan modal untuk pengembangan lokasi.

“Saya akan membangun tempat duduk gantung, sehingga pengunjung bisa lebih dekat ke arah lereng bukit,” kata Korwa sembari memandang ke bukit-bukit di sekelilingnya.

Di sektor pariwisata, taman (lokasi) tanah adat yang dikelola perseorangan belum mendapat bantuan dari Pemkot Jayapura.

“Kami akui memang kami masih kekurangan dana untuk pengembangan venue pariwisata seperti yang saat ini sedang ramai-ramainya, yaitu Bukit Jokowi di Skyline dan Kafe Payung di Angkasa,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Jayapura, Bernard Fingkreuw, Senin, 26 Februari 2018.

Meski demikian, lanjutnya, objek-objek wisata pantai tetap diberikan bantuan, misalnya, Pantai Base-G di Distrik Jayapura Utara dan Pantai Hamadi di Jayapura Selatan. Bantuan diberikan untuk pembangunan pondok-pondok bagi pengunjung.

“Itu pun tidak seberapa. Namun, kami akan terus berupaya ke depannya agar semua sektor pariwisata akan disupor,” kata Bernard.

Menurutnya, sektor pariwisata belum signifikan memberikan pendapatan asli daerah (PAD). Pengelolaan kawasan Pantai Hamadi misalnya, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pendapatan Daerah Kota Jayapura untuk penarikan karcis masuk.

“Masih banyak memang yang harus kami benahi,” katanya.

Sekretaris Umum Perhimpunan Hotel Republik Indonesia (PHRI) Papua, Salim mengharapkan agar pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pariwisata di kota dan kabupaten-kabupaten, mengingat destinasi pariwisata di Papua cukup menjanjikan.

“Harapan kami seperti itu, karena berharap pemasukan dari tamu reguler pihak hotel tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Salim.

Dikatakan, PHRI hanya sebagai penyedia sarana dan prasarana dengan menyediakan kamar hotel dan restoran bagi pengunjung. Pemerintah harus berperan penting mendatangkan pengunjung ke Papua.

“Berbicara pariwisata ada tiga unsur, yaitu objek, sarana dan prasarana, serta pengelola,” kata Salim lagi.

Ia menegaskan, PHRI dapat mengelola sarana prasarana dan pengelola, sedangkan objeknya adalah tugas dari pemerintah daerah maupun provinsi. (*)

Reporter :Roy Ratumakin
Editor : Timoteus Marten
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Sering tergenang, kantor kelurahan Wai Mhorock akan dipindah

Selanjutnya

SAMNP dan BNN sepakat sosialisasikan bahaya Miras dan Narkoba

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua