<
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Terkait dugaan trafficking, Pengacara: "Kenapa hanya Yosep Paragaye yang ditahan?"
  • Jumat, 31 Maret 2017 — 08:22
  • 1237x views

Terkait dugaan trafficking, Pengacara: "Kenapa hanya Yosep Paragaye yang ditahan?"

Keluarga korban dan SHDRP usai melakukan jumpa pers di Asrama Nayak II Tanah Hitam Kamkey – Jubi/Agus Pabika

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Pengacara terduga pelaku perdagangan orang, Yosep Paragaye (46) yang saat ini menjadi tahanan Kejaksaan di LP Kefamenanu, Distrik Kefa Kota, Kabupaten Timur Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT) menganggap penahanan Paragaye cacat secara hukum.

Dyonisius F.D.R. Opat, SH, menjadi penasehat hukum Paragaye satu minggu setelah penahanannya 13 Oktober 2016 lalu.

“Saat pemeriksaan awal tertanggal 25 Oktober 2016, sudah kami damping sesuai surat kuasa dari pihak keluarga, disitu Yosep diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang dalam Pasal 2 ayat 1 Junto pasal 10 UU No 21/2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Junto pasal 55 ayat 1 KUHP,” ujar Dyonisius ketika dihubungi Jubi Kamis, (30/3/2017).

Baca juga: Dituduh perdagangkan orang, Yosep Paragaye asal Papua ditahan di NTT

Menurut dia pengenaan Pasal 2 tersebut agak dipaksakan karena status perbuatan Yosep yang setuju pergi bersama 13 orang warga NTT yang hendak bekerja di Papua, belum memenuhi unsur pidana.

“Jadi kalau dikenakan Pasal 2 menurut hemat kami perbuatan melakukan itu mau dibilang percobaan pun belum memenuhi unsur. Kalaupun dipaksakan maka ini adalah kegiatan permulaan percobaan. Sehingga seharusnya bisa diupayakan penangguhan dan perdamaian. Apalagi (ketiga belas) korban sulit dikategorikan sebagai korban karena mereka dapat keuntungan (kemungkinan pekerjaan) dan ikut dengan sukarela,” ungkap Dyonisius.

Dia membenarkan hingga saat ini pihaknya belum menerima surat dakwaan dari Jaksa Penuntut, namun di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pasal-pasal tersebut sudah dinyatakan.

Hanya menahan Paragaye

Dyonisius juga menyesalkan pihak kepolisian hingga saat ini hanya menahan Paragaye saja, padahal berdasarkan Junto Pasal 55 yang dikenakan padanya menunjukkan dugaan perdagangan orang itu tidak dilakukan sendirian.

“Junto Pasal 55 ayat I KUHP, disitu maksudnya berarti bukan pelaku tunggal Pak Yosep sendiri. Pasal itu ada makna yang menyuruh dan membantu melakukan. Kegiatan ini bukan pelaku tunggal, misalnya Pak Yosep saja yang mengumpulkan sampai memberangkatkan orang ke Papua,” kata dia.

Menurut pengacara, seharusnya pihak-pihak yang ikut mengetahui keberangkatan Yosep dan ketiga belas orang tersebut semestinya juga ditangkap, seperti Herman Nahak, warga NTT tempat dia tinggal dan yang memiliki hubungan cukup lama dengan Yosep, dan Kepala Desa Tuamese yang justru lebih mengetahui biodata ketiga belas orang tersebut.

Pihak pengacara menjelaskan, walaupun dalam keadaan sehat, tapi secara psikis kondisi Yosep saat ini cukup terpukul. Karena niatnya hendak membantu namun malah menjadi korban.

Pengacara juga mengatakan pengetahuan Yosep tentang aturan-aturan ketenagakerjaan sangat minimm apalagi terkait perdagangan orang. Pengacara sudah mengajukan eksepsi dan permintaan penangguhan penahanan, namun tidak dipenuhi pihak yang berwenang.

“Kami berharap kepada keluarga Pak Yosep untuk bisa terus dukung proses ini, juga berdoa agar proses pendampingan hukum ini bisa meringankan tuduhan terhadap Yosep,” ujar Dyonisius.

Sebelumnya seperti diberitakan Jubi, Rabu (29/3) Yosep Paragaye adalah warga Kampung Maam, Kabupaten Mappi asal Wamena yang bekerja pada PT.  Dongin Prabawa, milik Korindo Group. Kedatangannya ke Kupang awal Oktober 2016, untuk mengurus anak perempuannya yang hendak masuk pendidikan di salah satu kesusteran di wilayah itu.

Dia ditangkap pada 13 Oktober 2016 bersama ketiga belas orang warga NTT yang ingin ikut ke Papua untuk bekerja di perusahaan sawit.

Mewakili pihak keluarga Yosep Paragaye, Yorna Hubi pada jumpa pers Solidaritas Hukum HAM dan Demokrasi Rakyat Sipil Papua (SHDRP) di Jayapura, Selasa (28/3), mengatakan penahanan saudaranya itu tidak sah karena tidak memiliki bukti dan saksi yang jelas.

"Kami berharap Yosep dapat pulang dengan keadaan selamat dan sehat dan itu harapan anak dan istrinya serta keluarga besar lainnya,” ujar Hubi. (*)

Reporter :Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor :
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Tim Pemprov Papua bangga atas prestasi pelajar Papua di Selandia Baru

Selanjutnya

Terkait masa depan Freeport, MAI bersikukuh: tutup, audit, baru berunding

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua