<
Show/Hide
  1. Home
  2. Berita Papua
  3. Lima kali kunjungan ke Papua, pengamanan Jokowi sudah libatkan 20.000 personel
  • Rabu, 10 Mei 2017 — 08:07
  • 2583x views

Lima kali kunjungan ke Papua, pengamanan Jokowi sudah libatkan 20.000 personel

Mobil RI 1 yang digunakan oleh Presiden Joko Widodo dalam perjalanan dari Bandara Sentani menuju Skouw untuk meresmikan Tapal Batas RI-PNG, Selasa (9/5/2017) - Jubi/Yuliana Lantipo

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Jayapura, Jubi – Joko Widodo (Jokowi), sejak terpilih sebagai Presiden Indonesia pada tahun 2014 telah lima kali berkunjung ke Tanah Papua. Selasa – Rabu (9-10 Mei 2017) ini, adalah kunjungan kelima mantan Gubernur Jakarta ini.

Sebagai seorang presiden, tentu pengamanan kunjungannya sangat ketat. Setiap kunjungan Jokowi di Tanah Papua, sejak ia menjadi presiden, selalu melibatkan lebih dari seribu personel keamanan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi (Polri).

20.228 personel TNI dan Polri

Kunjungan pertama Jokowi sebagai presiden dilakukan pada 27 Desember 2014. Kunjungan pertama ini melibatkan 6.200 personel TNI dan Polri.

"Polda Papua siapkan 3.000 pasukan untuk mengamankan kunjungan Presiden Jokowi ke Papua pada pekan depan," kata Irjen Pol Yotje Mende, Kapolda Papua saat itu.

Sedangkan Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cendrawasih Kolonel Rikas Hidayatullah menyebutkan, pihaknya telah menyiapkan sekitar 3200 personil untuk pengamanan kedatangan presiden di Papua. Tidak hanya itu, jika dibutuhkan, masih ada satu batalyon yang digunakan sebagai pasukan cadangan.

Pada kunjungan kedua Jokowi, 9-10 Mei 2015, pasukan pengamanan gabungan TNI dan Polri berjumlah 6.000 personel.

"Dari jumlah tersebut, anggota TNI yang akan dikerahkan sebanyak 3.260 personel," kata Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI Fransen Siahaan, kepada wartawan di Jayapura.

Selain personel gabungan ini, Mabes TNI juga akan menggerahkan dukungan berupa helikopter, pesawat hercules, dan kapal perang.

Tercatat lima helikopter, di antaranya dua helikopter super puma, pesawat boeing 400 dan dua KRI yakni KRI Sultan Nuku nomor lambung 373 dan KRI Sultan Slamet nomor lambung 352. Empat pesawat tempur jenis Sukhoi juga dikerahkan untuk mengamankan kunjungan kerja Presiden Joko Widodo.

Kunjungan ketiga Jokowi pada 30-31 Desember 2015 dilakukan selang beberapa hari setelah serangan kelompok orang bersenjata di Polsek Sinak, Puncak, Papua. Jokowi berkunjung ke Merauke, Wamena, Sorong, dan Raja Ampat. Tidak diketahui berapa personel aparat keamanan yang diturunkan di Wamena. Namun sebanyak 1.528 personel dirutunkan untuk pengamanan di Merauke.

Danrem 174/Anim TI Waning Berigjen TNI Supartodi sebagai penanggung jawab keamanan kunjungan presiden memastikan bahwa total personil yang disiagakan untuk menjaga keamanan sebanyak 1.528 orang.

Tahun 2016, Jokowi hanya berkunjung satu kali ke Papua, pada 17-18 Oktober.  2.500 personel diturunkan dalam pengamanan rangkaian kunjungan Jokowi.

Dan pada kunjungan kelima, 9-10 Mei 2017, pengamanan Presiden Jokowi melibatkan 4.000 personel TNI dan Polri.

Total pengamanan yang diberikan kepada Presiden Jokowi selama lima kali kunjungannya ke Papua telah melibatkan 20.228 personel TNI dan Polri.

Pengamanan dinilai berlebihan

Personel keamanan yang selalu berjumlah ribuan ini dianggap berlebihan oleh aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang peduli Papua, baik di Jakarta maupun Papua.

“Jokowi selama ini bilang di Papua tidak ada masalah. Pengerahan 4.000 personel aparat keamanan secara tidak langsung mengakui bahwa memang ada masalah di Papua,” kata Veronica Koman, pengacara Komunitas PapuaItuKita, Senin, 8 Mei 2017.

“Kesannya insecure sekali. Seakan-akan Jokowi mau diserang orang Papua,” tambahnya.

Veronika mengutip hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis pekan lalu, dimana disebutkan Jokowi masih cukup populer dan 90 persen masyarakat Papua puas dengan kinerja mantan Gubernur Jakarta itu.

“Kalau rakyat Papua puas terhadap kinerja presiden, kenapa perlu pengamanan besar begitu?” ujar Veronica mempertanyakan.

Sedangkan Peneas Lokbere, aktivis HAM Papua beranggapan banyaknya personel TNI/Polri yang dikerahkan hanya akan menambah trauma masyarakat Papua.

“Masyarakat masih trauma dengan kehadiran aparat TNI,” jelas Lokbere, Kordinator Bersatu Untuk Kebenaran (BUK), organisasi yang mengorganisir korban pelanggaran HAM Papua.

Pengamanan Jokowi tak hanya libatkan TNI dan Polri

Dandim 1702 Jayawijaya Letkol Lukas Sadipun mengatakan pengamanan selama kujungan Presiden Jokowi di Wamena (Rabu, 10/5/2017) tidak berlebihan. Selain itu, tak hanya TNI dan Polri yang mengamankan kunjungan Jokowi. Masyarakat juga terlibat melalui lembaga masyarakat adat.

“Kita menjamin rasa nyaman masyarakat. Itu saja dulu. Pengamanannya lebih soft, dan komunikatif dengan semua pihak. Kerja sama TNI/Polri, dukungan masyarakat, media masa, lembaga masyarakat adat,” jelas Letkol Sadipun. 

Ditambahkannya, yang terpenting adalah komunikasi

“Kurang lebih 1000-an personil gabungan dikerahkan untuk pengamanan selama kunjungan presiden di Jayawijaya,” ujar pria asal Maumere, Nusa Tengara Timur ini. (*)

Benny Mawel berkontribusi dalam penulisan artikel ini

Reporter :Victor Mambor
victor_mambor@tabloidjubi.com
Editor :
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Kemensos himbau penerima PKH di Jayawijaya gemar menabung

Selanjutnya

Jokowi batal resmikan pasar, mama-mama Papua usir Kordinator Pokja Papua

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua