<
Show/Hide
  1. Home
  2. Nasional & Internasional
  3. Dr. Pala Molisa: “Respon delegasi Indonesia arogan dan menyesatkan”
  • Senin, 11 September 2017 — 06:05
  • 4242x views

Dr. Pala Molisa: “Respon delegasi Indonesia arogan dan menyesatkan”

Dr. Pala Molisa, pengajar Victoria University asal Vanuatu berbasis di Selandia Baru - IST

Papua No. 1 News Portal I Jubi,

Jayapura, Jubi – Komentar yang dilontarkan Tantowi Yahya, Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru, Tonga dan Samoa, yang mengritik demo masyarakat Samoa mendukung aspirasi West Papua di Pertemuan Para Pemimpin Forum Kepulauan Pasifik (PIF) di Apia, Samoa(7/9), dianggap arogan dan menyesatkan.

Baca Warga Samoa demo bawa isu West Papua di pertemuan PIF ke-48

Hal itu dipaparkan oleh Dr. Pala Molisa, seorang pengajar Victoria University asal Vanuatu yang berbasis di Selandia Baru melalui surat eletroniknya kepada Jubi Minggu (10/9/2017).

Menurut dia pernyataan Duta Besar Tantowi Yahya yang menginginkan Pasifik harus tetap fokus pada agenda utama konferensi yaitu ‘Blue Pasifik’ dan tidak menggubris isu West Papua, menunjukkan Duta Besar tidak memahami sejarah dan kepedulian fundamental seluruh negeri-negeri Kepulauan Pasifik terhadap West Papua.

Baca 32 ribu pekerja Selandia Baru dukung hak penentuan nasib sendiri West Papua

“Sejak kapan, dari mula kedatangan para penjajah ke Pasifik—baik Eropa, Asia atau lainnya—dekolonisasi dan kemerdekaan tidak masuk dalam agenda seluruh rakyat Pasifik? Dan sejak kapan hal itu tidak lagi jadi isu yang menentukan segala hal yang kita pedulikan?” lanjutnya.

Baca Isu referendum West Papua didorong dalam PIF ke-48

Bagi Molisa, jika forum pemimpin PIF “bukan tempat” untuk berdiskusi tak hanya soal-soal pelanggaran HAM namun juga kemerdekaan dan dekolonisasi bagi West Papua, maka forum itu hanya akan jadi corong lidah imperialisme Barat dan kolonisasi Indonesia.

Molisa yang juga aktif sebagai anggota Run it Straight Collective dan aktivis pendukung Free West Papua Movement di Selandia Baru itu juga mengritik Albert Joku, bagian delegasi Indonesia asal Papua.

“Komentar Albert Joku, seorang wantok West Papua yang dulu pernah mendukung kemerdekaan Papua, harus diletakkan dalam konteks dirinya kini sudah bekerja untuk pemerintah Indonesia. Sehingga sebagai juru bicara pemerintah, tentu saja dia hendak bubarkan protes-protes di Pasifik yang mendukung kemerdekaan Papua,” ujar Molisa.

Sebelumnya, Franz Albert Joku dan Tantowi Yahya di sela-sela pertemuan Forum Pimpinan PIF ke-48 di Apia (7/9), seperti dilansir Samoa Observer, menggelar konferensi pers mengritik aksi damai yang dilakukan beberapa serikat buruh dan kelompok sipil Samoa.   

Duta Besar Tantowi Yahya meminta fokus agenda PIF haruslah tetap pada topik “Blue Ocean” dan isu West Papua bukan “pada tempatnya” dibicarakan di sana.

Sementara Joku bersikeras bahwa apa yang disuarakan para pendemo di Samoa tidak relevan, “Mereka menggugat kemerdekaan dan kolonisasi serta menuntut referendum bagi Papua yang padahal sudah masuk halaman sejarah masa lalu. Sudah banyak perubahan konstitusional terjadi sejak itu,” kata Joku yang juga menekankan PIF bukanlah forum untuk membicarakan soal-soal semacam itu.(*)

Reporter :Zely Ariane
zely.ariane@tabloidjubi.com
Editor : Admin Jubi
Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Model cilik Papua, Ertyn Lani, juarai Indonesia Junior Top Model 2017

Selanjutnya

28,75 persen, Papua tertinggi buta aksara

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua