<
Show/Hide
  1. Home
  2. Jawa
  3. Perlukah film “Pengkhianatan G30S” diputar kembali?
  • Minggu, 17 September 2017 — 17:59
  • 611x views

Perlukah film “Pengkhianatan G30S” diputar kembali?

Penggalan film Pengkianatan G30S karya Arifin C Noer. Merdeka.com/Jubi

Papua No. 1 News Portal I Jubi

Jakarta, Jubi - Warganet ramai memperbincangkan soal pemutaran kembali film Pengkhianatan G30S oleh beberapa pihak. Termasuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD).

Respon mereka beragam. Mulai komentar soal sejarah yang belum tuntas, mengkritik orang yang khawatir dengan pemutaran film itu, soal adegan, hingga mengait-ngaitkan kejadian Pengkhianatan G30S tahun 1965 dengan tragedi kemanusiaan Rohingnya di Myanmar.

“Film ‘Pengkhianatan G 30 S penuh rekayasa. Memutar kembali sama halnya menyajikan kebohongan.” Abdul Arif mencuit melalui akun @abdulrif di Twitter.

Beberapa warganet ada juga yang terlibat diskusi, soal pernyataan sejarawan Bonnie Triyana yang menyebut film itu bukan film sejarah. Karena menurutnya adegan dalam film arahan Sutradara Arifin C Noer itu tak sesuai dengan fakta sejarah.

Yang menyamakan krisis G 30S adalah akun @causar4 di Twitter. “Krisis muslim Rohingya itu seperti krisis G 30 S PKI.”

Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S diproduksi PFN pada era kepemimpinan Presiden Soeharto. Film yang dibuat pada 1984 itu disutradarai oleh Arifin C. Noer dan mengisahkan PKI melakukan kudeta pada 30 September 1965. Film ini diperlihatkan upaya tentara menumpas PKI.

Di masa Soeharto, anak-anak sekolah diwajibkan menonton film itu dan ditayangkan di TVRI. Namun, sejak era reformasi film layar lebar itu tidak lagi ditayangkan.

Kali ini, TNI AD menginstruksikan seluruh prajuritnya untuk menggelar nonton bareng film ini.

"Tanggal 30 September merupakan momen yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Saat ini banyak sekali upaya pemutarbalikan fakta sejarah peristiwa 30 September 1965," Kepala Pusat Penerangan TNI Brigadir Jenderal Wuryanto.

Namun, Direktur Komersial dan Operasi Produksi Film Negara (PFN) Elprisdat M. Zen mengakui film G 30 S dibuat dari sudut pandang versi pemerintah Orde Baru.

Namun, menurut dia, tidak akan ada masalah kalau cuma menayangkan film ini sebagai sebuah tontonan.

Menurutnya, film bisa dijadikan sesuatu untuk mengukur isu. Dia juga mengatakan film dapat membandingkan apa yang terjadi di masa lalu dan sekarang ini.

Bikin Soeharto marah

Sementara itu, penulis buku 'Film, Ideologi, dan Militer: Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia', Budi Irawanto mengatakan, penggarapan film digarap dengan serius dengan sumber manusia terbaik di zamannya dan dengan dukungan media, bentuk-bentuk visual yang detail dan penjelasan guru-guru di sekolah kepada siswa.

"Dengan adanya dukungan semua itu, film itu semakin cepat dipahami penonton, seolah-olah itulah kejadian otentik dalam kasus 1965,' kata Budi pada merdeka.com, 2012 silam.

Dari pengamatan Budi dalam karya Arifin C Noer, film Serangan Fajar (1981) dan film Penghianatan G 30 S/PKI (1984), dia menemukan dua hal yang berbeda.

"Dalam film (Serangan Fajar) Arifin masih bisa bernegosiasi dengan idealismenya dengan memasukkan tokoh mitos rekaannya seperti tokoh Temon," ujar Budi lebih lanjut.

Sedangkan dalam film Penghianatan G 30 S/PKI, menurut Budi, Arifin dalam film itu mungkin di bawah tekanan. Dia memprediksi Arifin menggarap film hanya mementingkan unsur sinematografis.

Hal ini bisa dilihat bagaimana riset yang terkait dengan musik, latar, pakaian dalam film dilakukan dengan riset yang serius agar film itu seolah-olah nyata. Bahkan, saking seriusnya penggarapannya, Presiden Soeharto sempat marah dalam proses pembuatan film tersebut.

Kisah itu diceritakan Jajang C Noer, istri Arifin C Noer kepada Budi Irawanto. Saat penggarapan film, Jajang C Noer ikut serta untuk riset kostum yang akan digunakan pemeran Soeharto dalam film itu. Maka mau tidak mau, Jajang harus bertanya langsung kepada Soeharto.

Keinginan untuk sempurna itu membuat Jajang harus bertanya detail kepada Soeharto. Mulai dari warna semua pakaian dinas hingga jenis kain yang digunakan saat bertugas. Bahkan, aksesori lainnya juga ditanyakan sebagai masukan dalam film. Namun, hal itu membuat Soeharto marah.

"Kenapa harus menanyakan hal-hal yang detail dan tidak perlu," ujar Budi menirukan ungkapan marah Soeharto kepada Jajang.

Budi berharap, pemerintah mestinya mendukung pembuatan film tandingan. Membalas film dengan film, bukan sebagai bentuk balas dendam. Namun film yang mengambil sudut pandang korban yang dibantai yang dituduh komunis. (*)

Sumber: Tempo/Merdeka.com

 

Reporter :
Editor : Syam Terrajana

#

Tinggalkan Komentar :

Sebelumnya

Korban penembakan Deiyai Berdarah dirujuk ke Makassar

Selanjutnya

Dinkes Nabire kampanye bahaya rokok

Komen Saya

Laporan Warga

Simak Juga
Terkini

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : redaksionline@tabloidjubi.com

Copyright © 2016. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua