Jayapura

Forkorus Yaboisembut Minta Merah Putih dan Bintang Fajar Dikibarkan Bersama

Jayapura (15)---Menjelang  perayaan peringatakan satu tahun deklarasi Negara Federal Republik Papua Barat, Presiden Forkorus Yaboisembut telah mengirimkan surat negosiai ke Preisden Republik Indonesia agar pemerintah RI menunjukan sikap  pembinaan dalam perayaan setahun Deklarasi Pemulihan dalam Kongrres Papua III.

 “Memberitahukan dan sekaligus meminta dukungan pembinaan secara damai dalam perayaan setahun Deklarasi Pemulihan Kemerdekaan Bangsa Papua di Negeri Papua Barat yang akan dilaksanakan pada 19 Oktober 2012,” poin pertama surat Forkorus kepada Presiden  Republik Indonedsia, yang di bagikan panitia Perayaan kepada wartwan dalam jumpa pers di Kantor DAP, Expo, Kota Jayapura, Papua, Senin (15/10).

 Pada poin kedua, Forkorus mengirimkan sejumlah materi negosiasi. Materi untuk disepakati bersama dalam proses pengakuan Negera Federal Republik Papua Barat. “Menyampaikan pesyaratan dialog (Negosiasi) Bangsa Papua dan NKRI untuk mendapat pengakuan dan peralihan kekuasan admintrasi pemerintah dari NKRI kepada NFRPB,”tegasnya.

 

Poin pertama materi negosiasinya, Forkorus sebagai Presiden NFRPB menyampaikan pemerintah Indonesia menunjukan sikap negosiasi damai dengan pengibaran bendera Bintang Fajar berdampingan Merah Putih. “Sebagai wujud dari pembinaan perdamaian, dapat hendaknya secara wajar dikibarkan bendera Indonesia (Merah Putih), bersama-sama dengan Bendera Papua (Bintang Fajar) mulai tanggal 19 Oktober 2012 pada tujuh titik, masing-masing satu pasang di setiap wilayah Adat (Negara Bagian) secara setara,”katanya.  

 

Setelah poin pertama, Forkorus menyampaikan sejumlah poin lain, termasuk mengundang perwakilan pemerintah Indonesia menghadiri perayaan  setahun Deklarasi NFRPB. “Mengundang kehadiran Pemerintah Indonesia dalam perayaan 19 Oktober 2012,”katanya.

 

Dalam poin terakhir materi negosiasi, haruf (P), Forkorus menulis batas waktu negosiasi. “Waktu pranegosiasi dan negosiasi (perundingan) mulai bulan Agustus 2012 sampai dengan 1 Mei 2013, sekaligus mengakhiri 50 tahun masa aneksasi (1Mei 1963-1 Mei 2013), ”tulis pihak NFRPB. (Jubi/Mawel)