PASCA PATAH PANAH, TIM PENYELESAIAN BATAS ULAYAT DIBENTUK

share on:
Bentrok Antar Warga di Timika Lalu. (Doc.Jubi)
Bentrok Antar Warga di Timika Lalu. (Doc.Jubi)

Jayapura, 12/6 (Jubi) – Pasca prosesi patah panah sebagai simbol perdamaian dua kelompok warga dari suku Moni dan Dani yang bertikai di Kabupaten Mimika Papua, Rabu (11/6) kemarin, Pemerintah Daerah (Pemda) setempat membentuk tim gabungan untuk menyelesaikan batas ulayat yang selama ini disengketakan kedua kubu.

Kapolda Papua, Inspektur Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengatakan, tim tersebut dibentuk Pemda Mimika, Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Provinsi Papua dan melibatkan ilmuwan Universitas Cenderawasih serta lembaga adat dan beberapa kepala suku setempat.

Tim ini akan bekerja menentukan batas ulayat. Jika sudah disepakati, akan dipatok dengan melibatkan badan pertahanan sehingga masalah batas ulayat ini tuntas,” kata Kapolda, Kamis (12/6).

Menurutnya, prosesi patah panah hanya tahap awal perdamaian kedua kubu. Namun Pemda, aparat keamanan serta Lembaga Masyarakat Adat (LMA) masih harus bekerja mencari akar masalah agar perdamaian bisa sepenuhnya terjadi.

Jadi yang harus dilakukan selanjutnya adalah mencari akal masalah dan menyelesaikannya agar tak ada lagi konflik di kemudian hari. Diharapkan, tim itu bekerja dengan baik agar ada kesepakatan mengenai batas ulayat,” ujarnya.

Namun kata Kapolda, aparat kepolisian yang melakukan pengamanan sejak pertikaian antar warga awal tahun lalu masih disiagakan di lokasi.

Pasukan yang bertugas selama ini dari gabungan dari Polres dan Brimob Mimika, Kodim serta Batalyon. Jadi semua pasukan yang memang di sana sehingga tidak ada yang ditarik ke Jayapura,” katanya. (Jubi/Arjuna) 


Editor : CUNDING LEVI
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  PASCA PATAH PANAH, TIM PENYELESAIAN BATAS ULAYAT DIBENTUK