Mengingkari Kecerdasan Lokal

 

Image

Hiu Berjalan atau Walking Shark (Hemiscyllium Henryi) yang laku seharga 500 ribu dollar AS dalam pelelangan nama di Monaco tahun lalu, berasal dari Kepulauan Raja Ampat (Foto : Gerry Allen/konservasipapua.blogspot.com)

 

“Penemu Untung, Yang Punya Gigit Jari”

 

JUBI- Dalam beberapa tahun belakangan ini, beberapa penemuan penting bagi dunia pengetahuan terjadi di Papua. Beberapa diantaranya adalah penemuan spesies Kangguru Pohon, katak dan ikan. Ironisnya, expose terhadap penemuan ini bahkan tidak menempatkan masyarakat di lokasi penemuan tersebut sebagai bagian dari penemuan tersebut. Padahal, jauh sebelum “para penemu” itu datang, masyarakat di kampung tersebut telah lebih dulu menemukan spesies tersebut. Apakah ini yang disebut sebagai kejahatan terhadap Kearifan Lokal Orang Papua?

Kearifan lokal (local wisdom) adalah sebuah tema humaniora yang diajukan untuk memulihkan peradaban dari krisis modernitas sekaligus sebagai “pengetahuan” yang “benar” berhadapan dengan standar “saintisme” modern, yaitu semua pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan positivisme (suatu cara penyusunan pengetahuan melalui observasi gejala untuk mencari hukum-hukumnya). Sains modern dianggap memanipulasi alam dan kebudayaan dengan mengobyektivkan semua segi kehidupan alamiah dan batiniah) dengan akibat hilangnya unsur “nilai” dan “moralitas”. Sains modern menganggap unsur “nilai” dan “moralitas” sebagai unsur yang tidak relevan untuk memahami ilmu pengetahuan. Bagi sains, hanya fakta-fakta yang dapat diukurlah yang boleh dijadikan dasar penyusunan pengetahuan. Itulah prinsip positivisme. Sedangkan kearifan lokal didasarkan pada kebenaran pengetahuannya pada ajaran-ajaran tradisional yang sudah jadi dan hampir tidak mempersoalkan lagi kandungan politik ajaran-ajaran tradisional itu.
“Masyarakat di Kampung sudah bertahun-tahun menjaga dan merawat alam di sekitarnya,” ujar Abner Mansai pegiat Lingkungan dari Yayasan Lingkungan Hidup Papua (YALI-Papua) kepada Jubi belum lama ini di ruang kerjanya.
Namun tambah dia, mereka tak memperoleh penghargaan atau sesuatu sebagai imbalan yang pantas dari tanaman dan hewan piaraan mereka. “Ini bukan karena kita mengharapkan balas jasa tetapi justru yang terkenal biasanya para penemu atau ilmuwan yang turun ke kampung,”ujar Abner.
Lebih lanjut Mansai memberikan contoh kejadian di tempat kelahirannya di Kabupaten Yapen Provinsi Papua.
“Beberapa tahun lalu di Kampung Warironi Distrik Teluk Kabupaten Yapen, Provinsi Papua salah seorang peneliti David Price warga Negara Amerika Serikat menemukan kodok spesies terbaru di dunia pada lokasi Samemi.Kemudian kodok itu diberi nama Samemi Prices sesuai lokasi dan penemunya,” kata Mansai.
Padahal menurut Mansai sejak dulu masyarakat  sudah mengetahui dan mengenal kodok-kodok tersebut. “Seharusnya masyarakat setempat yang dihargai karena memelihara kodok tetapi justru penemunya yang diberi penghargaan,” tambahnya.
Menurut dia, saat ini David Price termasuk salah satu dari lima ahli kodok di dunia sebab berhasil menemukan spesies baru di Kampung Warrironi. “Saya pernah mengkritiknya tentang hasil temuannya dan memprotesnya,”ujar Mansai.
Begitu pula dengan Sekretaris Dewan Adat Mamberamo Raya, Simon Tawane menambahkan Kangguru Pohon yang paling cantik di Pegunungan Foja Mamberamo atau dalam suku Kawera bahasa Kwerba menyebutnya Kwawi, yang artinya Kangguru Pohon yang paling indah. Kangguru pohon ini sesuai dengan nama spesiesnya, pulcherrimus, berarti paling cantik.
Dr Yance de Fretes dalam Tropika Vol.10 No:1 Maret 2006  mengatakan keberadaan spesies ini di Pegunungan Foja telah menjadi perhatian dan spekulasi para ahli mammalia selama hampir 25 tahun, karena sejak dilaporkan tahun 1981 oleh Jared Diamond, belum pernah ada informasi atau bukti penunjang lainnya. “Apalagi melihat daerah penyebaran yang hanya terbatas di Pegunungan Torricelli di Papua New Guniea (PNG),” ujar de Fretes.
Meski bagi para peneliti Kangguru Pohon merupakan hasil temuan baru bagi mereka tetapi kata Simon Tawane, kangguru itu sudah lama tinggal di Pegunungan Foja sehingga dia tidak setuju kalau memberikan nama spesies hasil temuan sesuai dengan nama peneliti. “Masyarakat Kwerba sejak dulu menyebut kangguru pohon dengan nama Kwawi, jadi saya tidak terima kalau memakai nama latin sesuai penemunya,” ujar Simon Tawane.
Sebenarnya apa yang dialami Simon Tawane ataupun Abner Mansai  bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat adat atau penduduk asli di dunia termasuk masyarakat di Papua.
Hal ini bisa terlihat juga di dalam Suku Besar Malind Anim dengan kepercayaan dan totemisme mayo, marga-marga di Kabupaten Merauke memakai simbol flora dan fauna. Misalnya Marga Gebze mempunyai totem burung Taontaon, Marga Kaize burung Kasuari dan Gambir, Marga Balagaise memakai Elang dan Buaya, Marga Samkakai memakai totem Saham atau Kangguru, Marga Ndiken memiliki totem  burung Bangau dan Kura-Kura sedangkan Marga Basik-Basik memakai totem Babi. Ini membuktikan bahwa orang Papua mengenal dengan baik semua spesies disekitar mereka.

Lelang Ikan di Monaco
Kepulauan Raja Ampat termasuk salah satu wilayah di Utara Pulau Papua yang kaya akan keanekaragaman hayati tetapi kini terancam kepunahannya. Aktivitas tambang hingga pencurian kekayaan alampun mulai digerogotinya.
Seperti dilansir Kantor Berita Antara, pada 28 September 2007  memberitakan sebanyak 10 nama ikan spesies baru asal Raja Ampat, Papua telah dilelang Balai Lelang Christie di Monaco.
Seekor hiu yang bisa berjalan di dasar laut (walking shark) dari genus Hemiscyllium terjual dengan harga 500 ribu dollar.
Ini bukan soal jual beli ikan tetapi lelang nama. Si pemesan akan membeli nama kemudian akan menyerahkan nama pilihannya untuk didaftarkan ke International Commission on Zoological Nomenclature (IC ZN), suatu badan dunia di bidang penamaan spesies yang telah berusia 112 tahun. Hasil dari lelang itu berhasil mengumpulkan dana hingga dua juta dolar Amerika Serikat (AS).
Pelelangan dengan nama “The Blue Action” itu  diadakan di Oceanographic Museum of Monacom, melelang nama nama ikan temuan baru dua ilmuwan Conservation International (CI), Mark Erdmann dan Gerry Allen.
Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), DR Suharsono mengatakan hasil lelang memang besar tetapi  karena yang melelang adalah Pangeran Albert II dari Monaco. “Sekitar 400 ribu dolar AS menjadi hak Monaco Society, satu juta dolar dikelola oleh Conservation International (CI) dan 500 ribu dolar diserahkan kepada LIPI,”ujar Suharsono
Menurut Suharsono kegiatan melelang nama-nama spesies baru tersebut merupakan yang pertama di dunia. Walaupun kata dia sebelumnya, memang pernah ada perdagangan nama 120 spesies baru oleh para ilmuwan Jerman dan lembaga Biopat dan menghasilkan 514 dolar AS. Tetapi bukan dalam bentuk pelelangan.
Sesuai dengan fakta selama ini nama spesies biasanya merupakan hak penemu, namun kedua penemu  telah merelakan spesies temuannya dilelang untuk menggunakan nama orang lain.
Dana hasil lelang sebesar 500.000 dolar AS yang diserahkan ke LIPI akan digunakan untuk pengembangan kapasitas taksonom kelautan muda yang sangat minim di Indonesia. Apalagi keanekaragaman hayati laut di Indonesia sangat luas terbentang antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Sedangkan dana yang dikelola CI akan dimanfaatkan bagi program pendidikan kelautan di masyarakat Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat. Pasalnya di daerah tersebut menyedot dana operasional yang cukup tinggi. Selain itu dana sebesar 400.000 dolar milik Monaco Society merupakan dana untuk kegiatan non-spesies seperti ekspedisi menggalakkan kegiatan kelautan serta membeli kapal patroli.
Conservation International (CI) sebagai lembaga swadaya Internasional yang mensponsori kegiatan lelang di Monaco mengaku sukses sebab target Rp 18, 3 miliar tercapai. Menurut pihak CI dana sebesar itu akan dipakai untuk membiayai sejumlah program di kawasan timur Indonesia.Peneliti Allen dan Erdmann adalah kedua pakar yang sudah memberikan nama puluhan spesies sehingga mereka bersedia memberikan haknya. (Dominggus A Mampioper/Victor Mambor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *