Sumber Air Minum Kota Jayapura Terancam Rusak

 

 JUBI—Air minum merupakan kebutuhan utama yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Bagaimana jika kemudian sumber air tersebut rusak atau tercemari?

Tercemarinya sumber air minum di wilayah Jayapura sebenarnya bukan masalah baru. Telah semenjak dulu hal tersebut selalu terjadi. Tidak saja di wilayah Abepura, di Distrik Sentani yang letaknya di bawah kaki Gunung Cykloop pun kerap mengalami masalah yang sama. Yakni selalu kekurangan suplai air minum ke rumah penduduk dan juga ke Bandara Sentani. Akibatnya, Bandara inipun harus terpaksa menanti giliran mendapatkan air jika mengalir  pada malam harinya.
Dari berbagai informasi yang dihimpun JUBI beberapa waktu lalu, ternyata diketahui debit air minimal dari sumber air di Cykloop hanya sekitar 70 liter per detik. Itupun kini telah berkurang menjadi 18 liter per detik. Kurangnya debit air tersebut sangat mempengaruhi kelancaran distribusi air hingga ke para pelanggan.
Guna menanggulangi kekurangan pasokan air, PDAM Sentani akhirnya membangun sumber air baru yang lokasinya juga berada di sekitar Pos VII. Diperkirakan sumber baru ini bisa menaikan debit  air hingga mencapai 30 liter per detik. Bukan tidak mungkin dengan debit air sebesar itu, kekurangan air yang selama ini menimpa warga dapat ditanggulangi.
Kawasan Cagar Alam Cykloop adalah tolok ukur keseimbangan dan keselamatan lingkungan hidup warga Kota Jayapura. Kalau Cykloop yang di depan mata kita sudah tak dijaga pelestariannya maka bagaimana dengan wilayah lain yang jauh di sana,” ungkap Drs. Ben V. Mambai  MSc, Direktur World Wild Fund (WWF) Regio Sahul Papua kepada JUBI belum lama ini.
Kekhawatiran Mambai tidaklah berlebihan karena Cagar Alam Cykloop merupakan kawasan tangkapan air hujan dan sumber utama kehidupan bagi semua makluk hidup di sekitarnya. Teristimewa sebagai pemasok utama sumber air minum dari Danau Sentani. Kawasan Cykloop sendiri sejak jaman Pemerintahan Belanda sudah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung. Mulai 1974, pemerintah Indonesia menetapkannya menjadi kawasan Cagar Alam Cykloop. Kebijakan ini lalu dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian  No.56/Kpts/Um/101/1978 tanggal 26 Januari 1978. Luas areal dalam Kawasan Cagar Alam ini kemudian ditetapkan seluas 22.520 Ha.
Cykloop dulu dan kini memang berbeda. Jika pada pertengahan 1970an, kita dapat melihat pemandangan yang bagus sekaligus air yang bersih di sana, kini Cykloop mulai “meluntur”. Lihat saja di sekitar lereng-lereng bukit Cykloop yang kini sudah jadi lahan pemukiman penduduk. Mereka telah mulai merambah kawasan Cagar Alam Cykloop dan kemudian merusak sumber air di situ. Gejala pengrusakan ini diperkirakan terjadi semenjak pertengahan 1980an hingga jelang 1990an. Dimana aktivitas perambahan hutan untuk berbagai keperluan misalnya di Waena, Skyline, Ifar Gunung, Sereh, Pos Tujuh, Polomo, Kemiri dan Doyo terjadi.
Pada tahun 1993, kegiatan penggalian bahan Golongan C juga mulai mengusik Cykloop. Misalnya penggalian batu dan pasir di beberapa aliran sungai. Kegiatan penggalian tersebut memang merupakan tindakan merusak. Ternyata perilaku tersebut berjalan beriringan pula dengan jumlah penduduk yang semakin bertambah. Kota Jayapura misalnya telah mencapai 300.000 jiwa. Bayangkan pula jika ditambah dengan Kabupaten Jayapura yang mencapai 200.000 jiwa. Lajunya jumlah penduduk ini memang semakin memperkeruh persoalan Cagar Alam Cykloop. Persoalan dasarnya hanya dilatari oleh adanya tekanan ekonomi dan lahan permukiman yang terbatas.

Debit Air Menurun
Menurut data dari WWF Region Sahul Papua, di kaki Gunung Cykloop terdapat 34 anakan sungai. Yang masih mengalir lancar hanya 14 anak sungai saja.
Yance Inggamer, Staf Air Minum dari Yayasan Pengembangan Desa Papua di Jayapura kepada JUBI menjelaskan, debit-debit air di sungai-sungai ini pun sudah mulai menurun. “Lihat saja Kali Anafre di jantung Kota Jayapura. Dulunya mempunyai debit air sebesar 80m3/det sekarang hanya 30 m3/det. Begitu pula Kali Camp Walker di Waena. Dulunya sebesar 45m3/det sekarang tinggal tersisa 30m3/det,” tuturnya.
Menurut Inggamer, menyusutnya hutan di kawasan Cagar Alam yang tadinya berfungsi sebagai daerah tangkapan air hujan telah mempengaruhi menurunnya debit  air tersebut. Dikatakannya, standar WHO tentang penggunaan air minum sesuai rumusnya adalah 300.000 x 80/86,400=277,780 liter/hari. Itu jika penduduk kota Jayapura hanya sebanyak 300 ribu jiwa saja. Bagaimana jika lebih dari itu? Bagaimana pula nantinya jika kerusakan hutan terus terjadi sementara di tempat lain jumlah penduduk tiap harinya semakin meningkat?. “Namun kalau debit air semakin hari terus menyusut dan ditaksir kebutuhan air perhari untuk satu orang sebesar 13 liter. Kondisi ini cukup memprihatinkan kalau tak ada upaya baik dari semua pihak,” sebut  Inggamer.
Pendapat senada juga diungkapkan mantan Kasubdin Pengairan Dinas PU Provinsi Papua yang kini menjabat Kabag Fisik dan Prasarana Bappeda Provinsi Papua, Ir. Ch. Wajoi MM. “Kelangkaan air baru dirasakan warga Kota Jayapura saat musim panas dan kemarau panjang. Pembangunan model apapun harus menghindari sumber-sumber air minum,” ujar Wajoi. Ditegaskannya, Indonesia saat ini termasuk urutan kedua negara-negara di dunia yang kekurangan air minum. Jika tidak ada upaya untuk mengamankan sumber air tersebut, dikhawatirkan krisis air pasti akan terjadi.  Krisis air ini pernah pula dijelaskan Vandhana Shiva dalam bukunya Water Wars. Pada 1998 kata Shiva, terdapat 208 negara mengalami kekurangan atau kelangkaan air. Angka ini diperkirakan akan mengalami peningkatan dari 131 juta menjadi 817 juta dalam tahun-tahun mendatang.
Di Jayapura, kekhawatiran Shiva dan Wajoi tentang krisis air bukan tidak mungkin bisa saja telah ada di depan mata. Karena tanpa disadari, seperti diakui pula oleh Humas PDAM Kota Jayapura, ternyata dalam tahun 1994, misalnya, debit air di Kali Anafre yang awalnya berkisar antara 36-37 liter per detik. Enam tahun setelahnya telah menurun menjadi 20 liter per detik. Begitu pula dengan Kali Klofkamp sebesar 90 liter per detik kemudian turun menjadi 10 liter per detik. Kali Entroppun sama. Awalnya sebesar 62-125 liter per detik kini menukik jauh menjadi 45 liter per detik. Suatu penurunan drastis yang tidak dapat disangka sebelumnya. Jika angka yang terpatok pada tahun 2000 lalu telah begitu, bagaimana pula debit  air dari anakan sungai itu pada tahun 2009?. “Ini sudah pasti akan bertambah kurang debit airnya. Jika tidak ada upaya pembenahan dari sekarang,” keluh Lope Karubaba, petugas kebersihan sumber air minum di Kali Anafre
Menurut petugas kontrakan itu, sumber air minum di Kali Anafre misalnya dipasok juga ke RS UD Dok II Jayapura. Biasanya juga disebarkan ke kantor Polda Papua, sejumlah ruko termasuk di kantor Gubernur Papua. Bahkan sumber air ini juga disalurkan hingga ke wilayah Mandala yang dihuni oleh ribuan orang. “Saya sudah mengusulkan ke pihak PDAM agar harus ada penambahan tenaga dan fasilitas pendukung. Namun hingga saat ini belum ada jawabannya. Yang ditakutkan adalah bagaimana kalau sumber air ini rusak? Kalau semua rusak, kita mau minum dari mana nanti,” kata dia. Dia juga meminta agar pihak PDAM harus mengunjungi dan memantau setiap kerusakan yang terjadi. Karena selama ini jika ada kerusakan  maka dirinya biasa menanggulanginya. “Orang tua saya juga membantu menghijaukan sumber air tersebut dengan menanam pohon,” ujar Karubaba.
Sebenarnya keluhan atas kekurangan air minum bukan terjadi di kawasan Kota Jayapura saja  tapi juga merembes hingga ke warga yang bermukim di wilayah Distrik  Abepura maupun Padang Bulan. “Kalaupun  mengalir terkadang hanya di siang hari. Itupun tak sederas biasanya. Kalau sampai terlambat menampung di bak air maka kita akan kekurangan air. Saya merencanakan akan membuat sumur pompa,” tutur Ny Nelly M, warga Perumahan Dosen Universitas Cendewasih Abepura. Dia berharap agar pemerintah dapat memperhatikan kebutuhan warga menyangkut ketersediaan air minum. “Aliran PDAM yang tadinya mengalir lancar kini sudah berjalan secara bergiliran, mudah-mudahan saja tidak sampai mati,” tuturnya. (Carol Ayomi/Dominggus A Mampioper)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *