Film Lost In Papua : Menebalkan Rasa Tidak Percaya Masyarakat Papua

Oleh : Justizia Lantipo

Lost In Papua sebuah film baru karya Irham Acho Bachtiar, bercerita tentang sebuah suku di Papua. Aktor Fauzi Baadilah berperan sebagai David. Dia diculik dan ditahan oleh “Suku Korowai” dan diperkosa oleh 16 Perempuan Korowai. Suku ini digambarkan sebagai “suku terasing” di hidup hutan terlarang, semuanya perempuan, sehingga David dijadikan sapi pejantan. Aktris Jakarta adalah Fanny Febriani. Dia berperan sebagai Nadia yang terpaksa menerima tugas dari atasannya berangkat ke Papua dan mengantarkan titipan untuk sebuah suku di pedalaman Papua. Lost In Papua didukung oleh figuran Orang Asli Papua.

Sebagian besar isi cerita lebih kepada petualangan dan komedi. Sekilas setelah mendengar judul film ini, penulis langsung menebak bahwa film ini akan bercerita tentang orang yang tersesat di Papua. Barangkali di tengah hutan rimba Papua. Terlintas dalam pikir tentang keindahan alam Papua. Dan ada juga alam yang telah dirusak oleh orang asing dan meninggalkan masalah bagi Orang Asli Papua. Saking penasaran, penulis menonton thriller film, membaca sinopsis serta keributan di jejaring Facebook beberapa aktivis Papua Barat. Intinya, film ini, ternyata banyak mengandung cerita yang tidak benar dan penulis melihat ada unsur rasisme.

Rasialisme pertama. Menurut Fauzi Baadilah kepada Okezone, “Ceritanya itu memang mengangkat Penduduk Papua dengan dramanya. Mental lawan main gue itu kan orang setempat yang nggak pernah main film. Jadi tugas gue double, pendekatan psikologis mereka, agar mereka lebih santai.” Orang Papua dianggap tidak pernah main film sehingga terbelakang. Rasialisme begini biasa dalam media Indonesia.

Rasialisme kedua. Fauzi juga menceritakan. “Jadi waktu itu ceritanya gue tersesat di daerah Papua. Tiba-tiba gue ketemu suku yang semuanya cewek. Jadi mereka kalau melihat pria hasratnya langsung deh. Cukup kacau juga deh, 16 orang secara bergantian perkosa gue.” Orang Papua memerlukan sapi pejantan dari Jawa. Perempuan Papua digambarkan sebagai perempuan yang lebih baik bisa berhubungan seks dan mendapat “bibit penerus” dari lelaki Jawa. Suku Korowai digambarkan sebagai suku yang hanya terdiri dari kaum perempuan dan juga pemerkosa laki-laki. Ini merendahkan harkat dan martabat Perempuan Papua. Judul dalam sebuah blog menyebutkan, “Korowai: Suku Kanibal Terakhir: Hidup di atas rumah pohon selama berabad-abad di tengah rimba Papua, Korowai lebih dikenal sebagai suku pemakan manusia. Jumlah sukunya terus berkurang akibat perang, penyakit, berkurangnya pohon-pohon besar dan program merumahkan yang dilakukan pemerintah.” http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3992092

Ini tentu tidak benar. Korowai sebuah kelompok etnik yang dulu hidup di pepohonan di Daerah Boven Digul. Mereka tentu saja bukan eksklusif perempuan, ada juga Lelaki Korowai. Lelaki Korowai adalah salah satu suku di Papua yang tidak memakai koteka. Kaum lelaki suku ini memasukan alat kelamin mereka ke dalam kantong jakar (scrotum) dan pada ujungnya mereka balut ketat dengan sejenis daun. Kaum perempuan hanya memakai rok pendek terbuat dari Daun Sagu. Sagu adalah makanan utama mereka. Ulat Sagu juga menjadi makanan tambahan yang dibakar terlebih dahulu. Untuk menghindari binatang buas dan ancaman perang antar suku, mereka membuat rumah di atas pohon bahkan ada rumah yang mencapai tinggi 40 meter.

Melalui film Lost In Papua, penulis khawatir akan muncul banyak interpretasi yang salah terhadap Orang Papua. Kesalahan interpretasi terhadap Suku Korowai. Soal anggapan lucu dari Irham Acho Bachtiar bahwa ada “mitos” suku perempuan, dia tampaknya perlu membongkar arsip TV One. Tokoh masyarakat Papua, Yorris Raweyai, pernah melakukan ekspedisi Mamberamo bersama TV One pada pertengahan Tahun 2010. Raweyai menjelaskan bahwa suku perempuan tidak ada. Dia menyatakan bahwa ada kesalahan interpretasi terhadap salah satu suku di Mamberamo. Ketika itu ada sekelompok orang yang menuju kampung tersebut, dan karena takut para perempuan mengambil peralatan perang dan mengejar kelompok asing tersebut. Para laki-laki sedang pergi ke kebun dan berburu sehingga tidak tampak laki-laki di kampung tersebut.

Penulis kira kejadian ini biasa saja. Di Jawa pun, kalau kaum lelaki pergi, kaum perempuan harus membela diri sendiri bukan? Irham Bachtiar adalah alumnus Institut Kesenian Jakarta, orang Jawa, anak transmigran kelahiran Muting, Merauke. Dia, tentu saja, juga tahu budaya Jawa. Ada banyak bahan yang bisa digunakan untuk mengangkat nama Papua. Lewat kebudayaan Orang Asli Papua yang kaya akan suku, bahasa dan adat istiadat. Atau belajarlah dari Jared Diamond dalam buku best seller New York Times: Guns, Germs and Steel. Diamond menyatakan bahwa Bangsa Papua kurang beruntung karena mereka kalah dengan bibit penyakit serta teknologi logam namun Orang Papua adalah orang yang cerdas. Ada pula banyak persoalan yang menimpa alam dan Orang Asli Papua namun belum banyak yang menyuarakan dan mempublikasikan persoalan yang sedang terjadi. Sayang, mata hati Irham Bachtiar tidak terbuka. Pikiran dia juga tertutup.

Dia tidak melihat eksploitasi besar-besaran terjadi di Papua, mulai dari Freeport McMoran hingga Lost in Papua. Hutan Papua dirampas, dijadikan lokasi tambang dan tempat transmigrasi. Ada suku-suku yang tergusur di atas tanah mereka sendiri. Keberagaman adat dan budaya Orang Asli Papua yang disalah interpretasikan sehingga menimbulkan pandangan-pandangan yang tidak benar terhadap Orang Asli Papua. Pada Tahun 1963, ketika Indonesia mengambil alih tanah Papua, jumlah penduduk Papua ada sekitar satu juta orang dengan sekitar empat persen pendatang. Kini, total penduduk Papua total 3.9 juta dan dengan jumlah penduduk pendatang 51 persen. Orang Asli Papua didiskriminasi dan dibinasakan di atas tanah kami sendiri. Kami biasa menerima pendatang namun tak semua pendatang berbuat baik. Tampaknya, kebaikan Orang Papua menerima orang tua Irham Bachtiar di Merauke dibalas dengan pembuatan film yang keji, kotor dan jahat.

(*) Penulis adalah aktivis Aliansi Mahasiswa Papua di Jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *