Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Bercocok tanam bukan kebiasaan masyarakat Korowai
  • Selasa, 31 Oktober 2017 — 15:41
  • 1678x views

Bercocok tanam bukan kebiasaan masyarakat Korowai

"Mereka tidak bisa mengikuti cara kami (orang Lani) berkebun dan buka lahan baru di sekitar halaman dan dusun mereka. Setiap minggu ibadah, saya dan penginjil lain selalu ingatkan mereka untuk berkebun, apalagi Pdt. Trevol kasih tahu ke mereka tapi tidak pernah dikerjakan. Berkebun penting, karena dengan kebun dan tanaman yang ada dapat mengurangi gizi buruk mereka, dan membantu mereka untuk mandiri serta jauh dari kelaparan dan selalu hidup sehat," kata Jimmy.
Masyarakat Korowai - Jubi/Agus Pabika
Agus Pabika
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Danowage, Jubi - Masyarakat Korowai sulit bercocok tanam karena mereka masih bergantung dengan hasil alam yang ada di sekitar mereka.

Hal tersebut dikatakan Jimmy Weyato penginjil di Danowage kepada Jubi, Kamis, (26/10/2017), lalu.

"Masyarakat tidak memiliki budaya berkebun, mereka lebih mengandalkan hasil berburu dan pisang hutan yang ada di sekitar dusun mereka. Untuk mencari makan mereka berburu babi hutan, burung, kus-kus hutan, sagu, ulat sagu, sayur lilin dan ikan serta udang hasil tangkapan dari kali-kali besar yang ada di Korowai dan sekitarnya," katanya.

Lanjutnya, sebenarnya pihaknya pernah mengajarkan masyarakat Korowai cara untuk becocok tanam atau berkebun dengan memberikan mereka bibit jagung, ubi, kacang-kacangan dan lainnya tapi mereka enggan menanamnya. Mereka lebih suka berburu dan makan pisang hutan.

"Mereka tidak bisa mengikuti cara kami (orang Lani) berkebun dan buka lahan baru di sekitar halaman dan dusun mereka. Setiap minggu ibadah, saya dan penginjil lain selalu ingatkan mereka untuk berkebun, apalagi Pdt. Trevol kasih tahu ke mereka tapi tidak pernah dikerjakan. Berkebun penting, karena dengan kebun dan tanaman yang ada dapat mengurangi gizi buruk mereka, dan membantu mereka untuk mandiri serta jauh dari kelaparan dan selalu hidup sehat," kata Jimmy.

Sementara itu salah satu guru di sekolah Yayasan Lentera Harapan (YLH) Danowage, Iren Wato, mengatakan pihaknya hanya bisa mengajarkan melalui anak didik saja.

"Kami didik anak-anak murid asli Korowai untuk hidup sehat. Dengan pola hidup sehat di sekolah mereka bisa lakukan juga di rumah dan mengajarkan ke orangtua mereka. Misalnya mengajarkan mereka MCK, makan makanan bergizi. Kami juga ajarkan cara berkebun di halaman sekolah dengan harapan itu bisa menjadi bekal mereka ke depan, dan juga bisa dipraktikkan langsung di sekitar halaman rumah mereka." (*)

loading...

Sebelumnya

Masyarakat Korowai berharap tenaga medis menetap

Selanjutnya

HP menjadi sarana komunikasi antara orang tua dan guru 

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34502x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23246x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19051x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15606x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe