Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Kepala Kampung Puai jadi ujung tombak program KB
  • Sabtu, 04 November 2017 — 06:47
  • 1280x views

Kepala Kampung Puai jadi ujung tombak program KB

"Bisa menjadi kampung percontohan, tentu melalui tantangan penolakan dari warga awalnya," katanya, Jumat (3/11/2017).
Kegiatan komunikasi, informasi dan edukasi di Kampung Puai - Jubi/Benny
Benny Mawel
Editor : Galuwo
LipSus
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:37 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:24 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 08:58 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi - Kepala Kampung Puai, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Yusak Ibo, menjadi ujung tombak realisasi program Keluarga Berencana (KB).

Ia mengatakan kampungnya menjadi percontohan program KB pada Mei 2016 lalu.

"Bisa menjadi kampung percontohan, tentu melalui tantangan penolakan dari warga awalnya," katanya, Jumat (3/11/2017).

Lanjutnya, ketika dirinya menyetujui kampungnya menjadi percontohan program KB, banyak warga mengkritiknya. Warga mengkritik lantaran tahu KB itu membatasi kelahiran anak. 

"Banyak sorotan, kampung masih kecil baru mengapa ikut program KB. Tanahnya masih luas," ungkap Yusak, dalam sambutan pembukaan kegiatan PT Stars Yudatama dalam rangka komunikasi, informasi dan edukasi  (KIE) kreatif program BKKBN 2017, di Kampung Puai.

Tambahnya, dengan adanya sikap penolakan warga, dia menjelaskan dampak baik mengenai program KB yang bisa terwujud untuk kesejahteraan keluarga. 

"Saya katakan, pemerintah sudah programkan untuk masyarakat sejahtera. Bukan menekan agar tidak melahirkan," katanya.

Sementara Kabid KB Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Ida Aisyah Bustaman, Kota Jayapura, mengatakan KB hanyalah sebagai alat yang disediakan untuk mengatur jarak kelahiran.

"Bukan membatasi kelahiran. Kita tidak membatasi tetapi usia kelahiran itu harus diukur. Kita ukur atas keputusan sendiri, bukan karena ikut sosialisasi," sampainya.

Ia menambahkan, ada tantangan program KB di Papua, sebab orang Papua tidak setuju dengan pembatasan kelahiran anak.

"Orang anggap Papua masih luas. Kitab suci mengajarkan beranak cucu. Karena itu, Papua tidak bisa dikatakan 'dua anak cukup'. Papua lebih pas kalau dikatakan, dua anak saja lebih baik," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Petugas kesehatan diharap kaderisasi penginjil dan tokoh masyarakat Korowai

Selanjutnya

Ratusan mahasiswa Uncen ikut seleksi Pemilu kampus

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34018x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18533x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17506x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe