Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Sikapi situasi Freeport, FPR long march bertelanjang dada
  • Selasa, 21 November 2017 — 18:03
  • 1842x views

Sikapi situasi Freeport, FPR long march bertelanjang dada

"Mulai dari pelanggaran HAM, terjadi perebutan saham antara Indonesia dan Freeport, sampai izin usaha pertambangan yang Maret lalu menjadi perdebatan hangat antara Amerika dan Indonesia, terkait keberadaan Freeport," katanya.
Agus Pabika
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi - Front Persatuan Rakyat (FPR) untuk Freeport melakukan aksi long march jalan kaki dan bertelanjang dada, Selasa (21/11/2017), dari auditorium Universitas Cenderawasih (Uncen) sampai Perumnas II Waena, guna menyikapi situasi yang sedang memanas di Freeport, Timika.

Samuel Womsiwor mengatakan aksi FPR menyinggung bagaimana ketidakadilan yang terjadi di tanah Papua.

"Itulah sebabnya kami bertelanjang dada, lalu jalan kaki sekaligus membagikan selebaran. Karena kalau melihat situasi akhir-akhir ini di Freeport, rakyat pribumi di sana katanya dievakuasi keluar. Dari kabar terakhir 234 warga yang dievakuasi yang dibahasakan beberapa media sebagai penyanderaan," sampainya.

Lanjutnya, FPR tidak berdiri pada poros masalah penyanderaan tersebut, tapi lebih kepada sisi kemanusiaan karena sejak Freeport ada, kerap terjadi kejanggalan di Papua.

"Mulai dari pelanggaran HAM, terjadi perebutan saham antara Indonesia dan Freeport, sampai izin usaha pertambangan yang Maret lalu menjadi perdebatan hangat antara Amerika dan Indonesia, terkait keberadaan Freeport," katanya.

Tambahnya, pada Kamis (23/11/2017) nanti, aksi yang sama akan digelar dengan menuntut agar Freeport ditutup.

Sementara itu penanggung jawab umum FPR, Paskalis Boma, mengatakan aksi spontanitas tersebut sebagai bentuk kekecewaan terhadap dinamika yang terjadi di Papua.

"Pemerintah Indonesia mengirim begitu banyak pasukan TNI dan Polri untuk mengamankan daerah konflik, itu terlalu berlebihan. Karena kita bisa lihat sendiri masyarakat pribumi di sana seperti dipaksakan untuk keluar dari kampung tempat tinggal mereka," katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Penetapan majelis rakyat Papua Barat diprotes

Selanjutnya

Dorongan publik agar Freeport ditutup terus bergulir

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34360x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 22830x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18916x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe