Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Ingat luka lama, Bougainville hentikan rencana tambang Panguna
  • Minggu, 24 Desember 2017 — 12:56
  • 2725x views

Ingat luka lama, Bougainville hentikan rencana tambang Panguna

Tambang itu adalah katalis perang sipil di wilayah yang sekarang berada dibawah Papua Nugini yang ditutup selama hampir 28 tahun.
Tambang Panguna adalah katalis perang saudara di Bougainville pada tahun 1990an dan telah diabaikan sejak 1989. - RNZI/Supplied
Elisabeth Giay
Editor : Kyoshi Rasiey
LipSus
Features |
Rabu, 19 Desember 2018 | 06:43 WP
Features |
Selasa, 18 Desember 2018 | 16:32 WP
Features |
Senin, 17 Desember 2018 | 13:10 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Buka, Jubi - Bougainville telah mengambil keputusan untuk menunda rencana pembangunan kembali tambang tembaga Panguna yang kontroversial.

Tambang itu adalah katalis perang sipil di wilayah yang sekarang berada dibawah Papua Nugini yang ditutup selama hampir 28 tahun.

Pemerintah otonom Bougainville dalam tahun ini telah berusaha untuk membuka kembali Panguna untuk meningkatkan potensi ekonomi kawasan ini dalam persiapannya untuk referendum kemerdekaan pada tahun 2019.

Namun jurnalis lokal Aloysius Laukai melaporkan bahwa Presiden John Momis mengatakan pemerintahnya telah mengambil keputusan untuk memberlakukan moratorium atas rencana dan ijin eksplorasi dan penambangan di Panguna.

Momis mengatakan keputusan mereka diambil demi kepentingan terbaik para pemilik tanah dan masyarakat Bougainville dan setelah menerima saran dari Dewan Penasehat Pertambangan Bougainville.

Dia mengatakan bahwa pemerintahnya “tidak akan membiarkan proyek ini membuka kembali luka lama masyarakat Bougainville akibat perang dan mengalihkan perhatian kita dari upaya untuk memulihkan perdamaian dan mematangkan persiapan kita untuk referendum tahun 2019”.

Keputusan ini diambil di tengah-tengah perseteruan antara mantan operator tambang Panguna, Bougainville Copper Ltd, atau BCL, dan perusahaan Australia, RTG, untuk memenangkan hak untuk melanjutkan eksplorasi dan operasinya.

Momis mengatakan bahwa perusahaan tambang BCL, dimana pemerintahnya memiliki kepentingan karena kepemilikan saham, tidak dapat memenangkan persetujuan para pemilik tanah, sesuatu yang tidak dapat membenarkan pemberian ijin mengingat keadaan saat ini.

RTG telah mengklaim bahwa mendapat dukungan dari Asosiasi Special Mining Lease Osikaiang Landownwers Association (Asosiasi para pemilik tanah Osikaiang pemegang ijin pertambangan), yang menguasai tanah di lokasi tambang, namun ABG sangat kritis terhadap keterlibatan perusahaan asal Australia tersebut.

Sementara itu, Momis mengatakan bahwa pemerintahnya akan “terus berkonsultasi dengan para pemilik tanah Panguna dan masyarakat Bougainville mengenai pengaturan yang tepat atau model-model alternatif pembangunan yang lebih baik apabila masyarakatnya masih memiliki minat” untuk mengembangkan Panguna di masa depan. (*)

loading...

Sebelumnya

RUU Kekejaman terhadap hewan ancam tradisi sabung ayam di Guam dan Mariana

Selanjutnya

Catatan Politik Pasifik sepanjang 2017, gejolak menuju stabilitas (Bagian 1)

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23611x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19246x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15693x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12765x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe