Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah
  • Senin, 08 Januari 2018 — 17:22
  • 2640x views

Rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah

“Jika MBR memiliki penghasilan di bawah Rp3 juta per bulan, maka kemampuannya untuk mengangsur rumah dari program sejuta rumah semakin menurun,” ujarnya.
Perumahan dari program rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah di Kota Jayapura – Dok.Jubi
Sindung Sukoco
Editor :

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Memiliki sebuah rumah adalah impian Firmansyah, 30 tahun. Pegawai kontrak di salah satu stasiun radio di Jayapura tersebut memang baru akan menikah pertengahan tahun ini. Namun ia ingin lebih siap dengan memiliki sebuah rumah sendiri begitu berkeluarga.

Salah satu cara yang memungkinkan untuk membeli rumah baginya adalah melalui KPR (Kredit Pemilikan Rumah) bersubsidi. Sejak 2015 pemerintah telah meluncurkan program sejuta rumah yang 70 persen diperuntukkan bagi MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah). Program tersebut juga tersedia di Kota Jayapura.

Dengan pendapatan Rp3 juta sebulan, Firmansyah yakin ia memenuhi syarat. Namun ternyata setelah ia mengurus tidak gampang untuk mendapatkan rumah tersebut.

“Kalau gaji cukuplah untuk mencicil setiap bulan, tapi yang menjadi persoalan menyediakan DP (Down Payment) atau uang muka lebih Rp10 juta,” katanya kepada Jubi.

Ia mengaku hanya sanggup menyediakan DP Rp5 juta dan menyerah jika di atas Rp10 juta. Padahal developer memintanya untuk menyediakan DP Rp15 juta.

Berdasarkan perhitungan Firmansyah yang tinggal di Kota Jayapura tersebut dengan harga KPR untuk MBR (mengacu harga 2016) sebesar Rp193,5, ia bisa kredit selama 20 tahun ke bank dengan angsuran per bulan Rp1,4 juta.

Sementara Firmansyah masih berupaya untuk mendapatkan rumah, Agung telah sukses melakukan akad kredit untuk KPR-MBR yang berlokasi di kawasan Koya Barat, Distrik Muaratami, Kota Jayapura.

“Sangat menguntungkan, harganya masih murah dan terjangkau,” kata karyawan di sebuah perusahaan farmasi di Kota Jayapura tersebut kepada Jubi.

Ayah dua anak ini membeli rumah seharga Rp193,5 juta. Ia membayar DP Rp16 juta dan angsuran Rp1,9 juta per bulan selama 15 tahun di Bank Papua.

“Mengurus persyaratan administrasinya tak sulit dan tak rumit,” ujarnya.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Real Estate Indonesia (DPD REI) Provinsi Papua Nelly Suryani mengatakan, sejak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) meluncurkan program kepemilikan rumah untuk kelompok masyarakat berpenghasilan rendah pada 2015, anggota REI Papua sudah membangun sekitar 2.700 unit di sejumlah lokasi di daerah perkotaan kecil.

“Tapi saya masih menunggu angka pastinya dari perbankan,” ujar Nelly Suryani yang akrab dipanggil Maria.

Ia menjelaskan, syarat kepemilikan program subsidi MBR ini harus berpenghasilan di bawah Rp4 juta per bulan untuk pembelian rumah tapak. Artinya, keluarga yang berpenghasilan di atas Rp4 juta tidak bisa mengambil rumah bersubsidi ini.  
Peserta program bisa menikmati berbagai fasilitas dari pemerintah, di antaranya suku bunga tetap sebesar 5 persen bertenor 20 tahun dan uang muka sebesar 1 persen. Bandingkan dengan pembelian rumah tanpa subsidi yang diwajibkan membayar DP 30 persen dari harga rumah dengan suku bunga angsuran KPR sedikitnya 9 persen.

Hanya saja program perumahan subsidi ini akan semakin memberatkan konsumen, terutama di Papua. Menurut Maria, pada 2018 ini rata-rata diproyeksikan harga naik 5,5 persen di tiap provinsi.

“Namun harga jual rumah subsidi paling mahal ada di Papua, yaitu Rp205 juta per unit,” katanya.

Harga setinggi ini tentu saja berdampak pada syarat penghasilan pengaju kredit. Sebab kredit paling aman 35 persen dari total penghasilan keluarga. Jika penghasilan MBR Rp3 juta, maka alokasi untuk angsuran rumah maksimal Rp1,05 juta selama 20 tahun. Artinya, ia masih mampu melakukan angsuran rumah tersebut.

“Jika MBR memiliki penghasilan di bawah Rp3 juta per bulan, maka kemampuannya untuk mengangsur rumah dari program sejuta rumah semakin menurun,” ujarnya.

Karena itu, menurut Maria, jalar keluarnya perlu ada insentif tambahan agar MBR dapat tetap mampu mengangsur rumah atau dengan menaikkan syarat gaji kurang dari 5 juta agar bisa membayar angsuran.

Selain itu, mewujudkan rumah untuk MBR lewat program sejuta rumah ini juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Persoalan ketersediaan lahan siap bangun dan kemudahan perizinan pembangunan rumah juga belum diterapkan merata di daerah.

“Kemudahan perizinan yang dimaksud adalah Peraturan Pemerintah (PP) No. 64/ 2016 tentang Pembangunan Perumahan Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang mulai berlaku pada 29 Desember 2016, sepertinya tak berjalan maksimal di daerah,” kata Maria.

Terlepas dari masalah itu, Bank Papua tetap memberikan peluang lebih kepada masyarakat berpenghasilan rendah untuk mendapatkan rumah subsidi pada 2018.

Kepala Departemen Konsumer Divisi Pengembangan Ekonomi Rakyat Bank Papua Kurubiah mengatakan, secara umum aturan main untuk membeli rumah bersubsidi tidak berubah tahun ini. Kriteria MBR yang mendapatkan fasilitas KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) masih tetap sama.

“Misalnya, MBR memiliki penghasilan tetap maupun tidak tetap paling banyak Rp4 juta per bulan untuk rumah tapak dan maksimal Rp7 juta untuk rumah susun, pemohon tidak memiliki rumah dan belum pernah menerima subsidi perumahan,” jelasnya.

Selain itu, pemohon juga telah berusia 21 tahun atau telah menikah. Memiliki masa kerja atau usaha minimal satu tahun dan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau Surat Pemberitahuan (SPT) tahunan PPh orang pribadi.

Kurubiah mengatakan, Bank Papua telah ditarget Kementerian PUPR menyalurkan kredit 3.000 unit rumah untuk MBR.

“Karena itu dalam penyaluran ke depan kami melakukan beberapa strategi, di antaranya mengoptimalkan target penyaluran khususnya bagi MBR dan sistem kerja sama dengan SMF (PT Sarana Multigriya Finansial),” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Banyak rute penerbangan, jumlah penumpang kapal tujuan Jayapura turun

Selanjutnya

Bulog Papua siap tekan HET beras medium 

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34143x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 20527x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17863x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe