Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Berburu penyihir di Papua Nugini abad 21, mengapa masih terjadi?
  • Rabu, 24 Januari 2018 — 12:05
  • 1305x views

Berburu penyihir di Papua Nugini abad 21, mengapa masih terjadi?

Satu jawaban dapat ditemukan dalam westernisasi pola makan dan perubahan gaya hidup, yang membawa masalah kesehatan baru seperti HIV/AIDS, diabetes, dan penyakit jantung. Kondisi kesehatan yang buruk berkontribusi pada lebih banyak kekerasan berbasis tuduhan (seperti sihir) dimana sanak saudara yang berduka mencari kambing hitam untuk mengurangi kegetiran mereka.
Suku dari Pegunungan Tinggi PNG mengenakan pakaian tradisional saat tampil di depan Pangeran Charles di Port Moresby, Papua Nugini (4 November 2012) - The Diplomat/AP Photo/Rob Griffith
Elisabeth Giay
Editor : Zely Ariane
LipSus
Features |
Rabu, 19 Desember 2018 | 06:43 WP
Features |
Selasa, 18 Desember 2018 | 16:32 WP
Features |
Senin, 17 Desember 2018 | 13:10 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Di sebagian besar belahan dunia, cerita tentang perburuan penyihir terbatas pada dokumenter dan serial mini. Tapi di Papua Nugini, insiden perburuan penyihir di kehidupan nyata, yang berakhir dengan penyiksaan atau pembunuhan, telah menjadi hal umum sehingga jarang diliput dalam berita.

Sebagian besar kasus tidak diinvestigasi oleh polisi. Pembiaran ini terus terjadi meski telah ada ancaman hukuman mati untuk perburuan penyihir pada tahun 2013.

Namun akhir tahun lalu, ketika berita mengenai seorang gadis berusia enam tahun yang dituduh melakukan sihir disiksa oleh sekelompok pria dan hanya berhasil lolos setelah sebuah misi penyelamatan heroik oleh misionaris Anton Lutz dari Iowa dilaporkan, kisahnya menjadi berita utama bukan hanya di PNG tapi juga di seluruh dunia.

Drama ini dimulai ketika seorang pria jatuh sakit di sebuah kampung terpencil di Provinsi Enga di dataran tinggi PNG. Mungkin dia terkena HIV/AIDS atau hanya sakit perut biasa. Namun penyakitnya didiagnosis sebagai kaikai lewa (memakan jantungnya), di mana penyihir menggunakan sihir gelap untuk diam-diam mengeluarkan dan memakan jantung korban.

Sebagai anak perempuan dari seorang perempuan yang juga dituduh melakukan kejahatan yang sama, gadis berusia enam tahun itu langsung ditunjuk sebagai tersangka utama. Sekelompok penduduk kampung menyeretnya, menelanjanginya, dan menyiksanya selama berhari-hari, menggunakan pisau yang telah dipanaskan untuk mengupas kulit dari punggung dan bokongnya.

Pada saat Lutz tiba di kampung tersebut, pria yang sakit itu telah pulih. Para pelaku penganiayaan malah melihatnya sebagai pertanda bahwa perlakukan mengerikan mereka telah berhasil menyembuhkan laki-laki itu. “Setelah beberapa jam bernegosiasi dengan masyarakat, saya berhasil membebaskannya dari tangan mereka dan melarikannya ke rumah sakit,” kata Lutz.

Disinilah kisah itu berakhir - hanya satu kejadian lagi dari seribu perburuan penyihir penuh kekerasan yang menurut Oxfam berlangsung di negara ini setiap tahunnya.

Tapi ketika Yayasan New Guinea Tribal Foundation, badan amal yang membantu Lutz merencanakan dan melakukan penyelamatan tersebut, menerbitkan foto anak perempuan itu di Facebook, ceritanya menglobal.

Perdana Menteri PNG Peter O'Neill memperingatkan para pelaku bahwa mereka telah melakukan pelanggaran berat. Menteri Kepolisian Jelta Wong mengumumkan pembentukan sebuah gugus tugas khusus. “Kami akan mengejar orang-orang ini,” katanya.

PNG telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan pembangunan jalan, telepon seluler, dan internet yang menghubungkan ratusan komunitas yang dulunya terisolasi dengan seluruh daerah lainnya di negara itu dan abad ke-21. Jadi mengapa mayoritas orang PNG masih percaya ilmu sihir? Dan apa yang dapat dilakukan untuk mengakhiri semua bentuk terorisme sosial yang laknat ini?

Melihat ke belakang

Untuk memahami mengapa kepercayaan terhadap sesuatu yang kuno seperti ilmu sihir tetap merupakan fakta kehidupan sehari-hari di sepanjang wilayah geografis dan sosio-ekonomi di PNG, pertama-tama kita harus memahami sejarah kontemporer bangsa tersebut.

Pada akhir 1800-an, lebih dari 800 suku kanibal yang terus berperang dipaksa oleh penjajah Jerman untuk memasuki era modern, sementara itu daerah dataran tinggi seperti Enga masih belum ditemukan sampai akhir 1930-an. Konstruksi sosial seperti animisme, pemujaan leluhur, dan ilmu sihir, yang telah digunakan untuk memahami dunia mereka sejak dahulu kala, tidak mudah dikesampingkan, bahkan di antara kaum berpendidikan PNG.

Itu, menurut Lutz, adalah inti masalahnya. “Mereka mungkin memiliki ijazah namun mereka masih berpikir bahwa vampir itu nyata karena mereka tidak memiliki sudut pandang rasional dalam segala hal (dan) percaya pada legenda urban,” katanya. “Saya menyebutnya memiliki pendidikan tapi tidak berpendidikan.”

Kepercayaan terhadap ilmu sihir di Amerika Utara dan Eropa padam sejal awal tahun 1800an - sebuah periode yang terjadi bersamaan dengan revolusi industri dan perkembangan sosio-ekonomi yang signifikan. Tapi di PNG, di mana pertambangan telah membawa perubahan besar dalam bentuk lapangan pekerjaan dan mobilitas selama 30 tahun terakhir, kelihatannya dampak yang terjadi justru sebaliknya.

Serangan terhadap orang-orang yang dituduh mempraktikkan ilmu sihir telah menyebar dari daerah-daerah terpencil di dataran tinggi ke kota-kota besar dimana masalah ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Westernisasi makanan, industrialisasi dan hukum

Satu jawaban dapat ditemukan dalam westernisasi pola makan dan perubahan gaya hidup, yang membawa masalah kesehatan baru seperti HIV/AIDS, diabetes, dan penyakit jantung. Kondisi kesehatan yang buruk berkontribusi pada lebih banyak kekerasan berbasis tuduhan dimana sanak saudara yang berduka mencari kambing hitam untuk mengurangi kegetiran mereka.

Selain itu, dalam beberapa tahun akhir ini juga lebih banyak serangan terhadap kaum lelaki yang dituduh karena masalah lahan dan melonjaknya harga tanah terkait industrialisasi.

Satu lagi alasan lain di balik kekerasan tersebut adalah karena sebenarnya tidak ada konsekuensi hukum bagi perburuan penyihir di PNG. Sebuah studi 20 tahun oleh Australian National University terhadap 1.440 kasus penyiksaan dan 600 kasus pembunuhan menemukan kurang dari satu persen pelaku diadili.

Saksi-saksi sudah tahu bahwa jika mereka bersaksi rumah mereka akan dibakar setelah polisi kembali ke kota. Hal itu bahkan meluas ke korban sendiri karena tidak ada program perlindungan saksi di PNG. Kepolisian kekurangan tenaga, dibayar rendah, dan tidak mengikuti pelatihan yang sesuai, dan kemungkinan besar juga percaya bahwa terdakwa bersalah atas penggunaan sihir gelap.

Akademisi percaya bahwa jawaban untuk menghentikan kekerasan ini terletak pada advokasi dan pendidikan akar rumput. “Harus ada cara tertentu untuk mengatasi kekhawatiran tentang sihir melalui dialog, mediasi, informasi medis, konseling kesedihan, dan proses pengadilan kampung,” kata Dr. Miranda Forsyth, seorang antropolog Australia.

Sekarang korban berusia enam tahun itu sudah membaik. “Dia berada di lokasi yang aman dan sudah membaik,” kata Lutz.(The Diplomat)

loading...

Sebelumnya

Kepulauan Cook tegas soal bantuan Tiongkok

Selanjutnya

Perdana Menteri dan anggota parlemen Tonga terpilih dilantik

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23632x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19265x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15696x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12766x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe