Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Anim Ha
  3. Petani di kampung Bersehati Erom dililit hutang bank
  • Jumat, 26 Januari 2018 — 17:26
  • 1018x views

Petani di kampung Bersehati Erom dililit hutang bank

“Oleh karena adanya program dimaksud, petani di Kampung Bersehati Erom meminjam dana di bank yang nilainya bervariasi antara Rp 15 juta sampai Rp 25 juta. Uang pinjaman dari bank itu untuk membuka lahan dalam skala lebih luas untuk menanam ubi jalar,” ujar Helena Hagot.
Tiga orang mama dari Kampung Bersehati Erom, Lusia Anselina (kiri), Helena Hagot (tengah), dan  Sisilia Swenti (kanan) – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Dewi Wulandari
LipSus
Features |
Rabu, 19 Desember 2018 | 06:43 WP
Features |
Selasa, 18 Desember 2018 | 16:32 WP
Features |
Senin, 17 Desember 2018 | 13:10 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Merauke, Jubi – Petani di Kampung Bersehati Erom, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, dililit dengan masalah hutang di salah satu bank. Itu karena pinjaman yang tak kunjung diselesaikan.

Dua orang ibu dari Kampung Bersehati Erom, Helena Hagot dan Lusia Anselina, saat ditemui Jubi, Jumat (26/1/2018), menuturkan tahun 2015 silam, ada program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke untuk membangun pabrik ubi jalar di kampung tersebut.

“Oleh karena adanya program dimaksud, petani di Kampung Bersehati Erom meminjam dana di bank yang nilainya bervariasi antara Rp 15 juta sampai Rp 25 juta. Uang pinjaman dari bank itu untuk membuka lahan dalam skala lebih luas untuk menanam ubi jalar,” ujar Helena Hagot.

Saat itu, katanya, hampir semua masyarakat di Kampung Bersehati Erom meminjam dana di bank dengan jaminan sertifikat tanah.

“Memang dananya keluar dan pembukaan lahan dilakukan untuk menanam ubi jalar,” tuturnya.

Namun sayangnya, jelas dia, di saat  ubi jalar telah ditanam dan panen, datang kabar kalau pabrik batal dibangun. Sementara harapan besar agar setelah ubi jalar dipanen dan dijual ke pabrik menjadi sia-sia.

“Kami berharap begitu pabrik dibangun, ubi jalar yang dipanen dalam jumlah banyak itu dapat dijual dan uangnya sebagian untuk membayar cicilan kredit,” katanya.

“Saya sendiri meminjam uang di bank Rp 20 juta. Namun sekarang baru menyetor cicilan Rp 3 juta. Karena ubi jalar yang dijual di pasar tidak dibeli,” tuturnya.

Hal serupa disampaikan Lusia Anselina.

“Saat itu, saya meminjam dana sebesar Rp 25 juta. Harapan besar kami pabrik ubi jalar dibangun, sehingga hasil panen dapat dijual ke sana. Namun sayangnya pabrik dibatalkan tanpa ada pemberitahuan resmi kepada masyarakat,” ungkap dia.

“Mau buat bagaimana. Setiap bulan, orang dari bank selalu datang di kampung menagih hutang. Meskipun menyetor cicilan, namun sangat berat. Karena hasil panen ubi tak laku terjual di pasar,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Tahun ini Merauke cetak lahan sawah 56 ribu hektar

Selanjutnya

Petani kampung Sidomulyo butuh bantuan alat pertanian

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23631x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19264x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15696x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12766x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe