Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Perubahan iklim, punahnya bahasa dan identitas yang hilang
  • Selasa, 30 Januari 2018 — 10:41
  • 1010x views

Perubahan iklim, punahnya bahasa dan identitas yang hilang

Meningkatnya ancaman bencana alam akibat perubahan iklim dapat mempercepat punahnya bahasa-bahasa yang sudah rentan. Ini akan menjadi kehilangan yang tragis bukan hanya untuk masyarakat dan budayanya langsung, namun juga untuk ilmu kognitif.
7000 bahasa di dunia diperkirakan akan punah akhir abad ini; satu bahasa punah dalam 14 hari (National Geographic) - languagereach.com
Elisabeth Giay
Editor : Zely Ariane

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Port Vila, Jubi - Perubahan iklim menimbulkan gambaran atas gletser yang mencair, permukaan air laut yang meningkat, kekeringan, banjir, habitat yang terancam, spesies terancam punah, dan orang-orang terlantar.

Kita tahu ia mengancam keanekaragaman hayati, tapi bagaimana dengan keanekaragaman bahasa?

Manusia adalah satu-satunya spesies di planet ini dengan sistem komunikasi yang memiliki keragaman besar.

Keragaman linguistik sangat penting untuk memahami kemampuan berbahasa kita. Meningkatnya bencana alam akibat perubahan iklim dapat mempengaruhi keanekaragaman bahasa.

Salah satu contohnya adalah Vanuatu, sebuah negara kepulauan di Pasifik yang mengalami kenaikan permukaan laut cukup drastis.

Ada lebih dari 7.000 bahasa yang digunakan di seluruh dunia saat ini. Bahasa-bahasa ini menunjukkan keragaman yang sangat besar, dari jumlah suara yang khas secara fonologi dengan berbagai macam urutan kata, serta struktur dan konsep kata yang digunakan sebuah bahasa untuk menyampaikan makna.

Keanekaragaman ini adalah bukti dari tingginya fleksibilitas dan plastisitas otak manusia dan kapasitas komunikasinya.

Bahasa-bahasa semakin terancam punah setiap tahunnya. Sering kali kepunahan bahasa diketahui saat pembicara terakhir telah meninggal dunia.

Sekitar 35% bahasa di dunia saat ini kehilangan penggunanya atau terancam punah akibat hal lainnya. Sebagian besar bahasa ini tidak pernah didokumentasi dan akan hilang selamanya. Ahli bahasa memperkirakan sekitar 50% bahasa yang digunakan hari ini akan hilang dalam 100 tahun ke depan.

Beberapa bahkan berpendapat bahwa sampai 90% bahasa yang digunakan saat ini di seluruh dunia berpotensi hilang pada tahun 2115.

Mengapa bahasa-bahasa punah?

Ada banyak alasan mengapa bahasa punah. Alasannya seringkali bersifat politik, ekonomi atau budaya.

Pengguna bahasa minoritas mungkin, misalkan, memutuskan bahwa lebih baik bagi masa depan anak-anak mereka jika diajarkan bahasa yang dapat menjamin kesuksesan mereka secara finansial. Contohnya sebagian besar imigran generasi kedua ke Amerika Serikat tidak dapat berbicara bahasa orang tua mereka dengan lancar.

Berbicara bahasa Inggris lebih bermanfaat secara ekonomi dan budaya bagi mereka.

Migrasi juga memainkan peran besar dalam perubahan bahasa dan kepunahan bahasa. Ketika penutur bahasa Proto-Indo-Eropa bermigrasi ke Eropa dan wilayah Asia antara 6.000 dan 8.000 tahun yang lalu, dampaknya mungkin termasuk perubahan bahasa dan kepunahan bahasa secara besar-besaran. Di Eropa Barat, bahasa Basque bisa menjadi satu-satunya bahasa modern yang bertahan dari arus masuk orang Indo-Eropa.

Di abad-abad mendatang, kita akan mengalami peningkatan migrasi terkait perubahan iklim. Bencana alam terkait perubahan iklim telah memindahkan sekitar 20 Juta orang pada tahun 2008.

Keragaman bahasa Vanuatu

Daerah yang terkena dampak bencana alam akibat perubahan iklim seringkali merupakan daerah dengan keragaman bahasa yang besar, terutama bahasa-bahasa yang memiliki jumlah pengguna terbatas, yang merupakan bahasa paling rentan kepunahan.

Ancaman yang dihadapi penduduk di Vanuatu bukan hanya karena naiknya permukaan air laut. Selain itu gerak tektonik juga menyebabkan tenggelamnya beberapa bagian dari sejumlah pulau negara itu. Akibatnya, satu desa di daerah pesisir harus dipindahkan lebih jauh ke daratan dari tahun 2002 hingga 2004.

Menurut siaran pers Program Lingkungan PBB pada tahun 2005, evakuasi ini menyebabkan penduduk desa itu dikatogorikan sebagai pengungsi perubahan iklim pertama di dunia. Pengungsi perubahan iklim ini kebetulan tinggal di negara dengan salah satu tingkat keanekaragaman bahasa tertinggi di dunia.

Vanuatu adalah negara dengan keragaman bahasa tertinggi ketiga di dunia bila diukur dengan indeks Greenberg.

Indeks Greenberg ini mengukur kemungkinan bahwa dua pembicara yang dipilih secara acak di suatu negara akan memiliki bahasa asli yang berbeda. Indeks Greenberg Vanuatu adalah 97,3%.

Vanuatu memiliki 110 bahasa asli yang digunakan di wilayah dengan luas daerah sekitar 15.000 kilometer persegi - ini berarti sekitar satu bahasa digunakan setiap 136 kilometer persegi. Setengah dari bahasa yang digunakan di Vanuatu memiliki 700 pengguna atau kurang dari itu.  

Kehilangan bahasa akibat bencana alam

Sejumlah negara yang terkena gempa dan tsunami yang menewaskan sekitar 230.000 jiwa pada tahun 2004 juga merupakan area dengan keragaman bahasa yang tinggi. India memiliki 447 bahasa pribumi dan indeks keragaman bahasa Greenberg sebesar 91,4% sementara Indonesia memiliki 706 bahasa peribumi dan indeks keragaman Greenberg sebesar 81,6%.

Peneliti baru saja menemukan bawa bahasa Dusner, yang hanya memiliki sedikit pengguna yang tersisa, saat bencana banjir pada tahun 2010 menghancurkan wilayah Papua di Indonesia, dimana desa Dusner berada. Untungnya, beberapa pembicara bahasa ini selamat, sehingga bahasanya dapat didokumentasikan.

Seringkali, kita tidak tahu persis dampak bencana alam terhadap bahasa yang digunakan di daerah bencana. Yang kita tahu pasti adalah bahwa tekanan lingkungan meningkatkan mobilitas dan migrasi masyarakat dan bahwa migrasi ini dapat mempengaruhi perubahan bahasa dan bahwa mengancam keberlajutan bahasa.

Meningkatnya ancaman bencana alam akibat perubahan iklim dapat mempercepat punahnya bahasa-bahasa yang sudah rentan. Ini akan menjadi kehilangan yang tragis bukan hanya untuk masyarakat dan budayanya langsung, namun juga untuk ilmu kognitif. (The Conversation)

*Anouschka Foltz adalah Dosen Psikolinguistik di Universitas Bangor, Wales.

loading...

Sebelumnya

PNG jadi tuan rumah KTT MSG di bulan Februari

Selanjutnya

Perekrut pekerja musiman di Solomon mengaku diintimidasi

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34459x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23152x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19019x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15588x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe