Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Berita Papua
  3. HUT ke-55 GIDI : Dulu diabaikan, kini jadi rebutan dunia
  • Senin, 12 Februari 2018 — 15:11
  • 1245x views

HUT ke-55 GIDI : Dulu diabaikan, kini jadi rebutan dunia

Awal 1960-an, di pedalaman Papua, orang tidak pernah tahu, dan pasti tidak dipedulikan. Orang melihat wilayah yang penuh dengan dosa, peperangan, stigma kanibal dan kafir. Tidak satu pun mau masuk kecuali para pewarta Injil.
Presiden Gereja Injili di Indonesia, Pendeta Dorman Wandikbo - Dok. pribadi
Benny Mawel
Editor : Timoteus Marten

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Sambutan presiden GIDI menyambut HUT ke-55 Gereja Injili di Indonesia

Jayapura, Jubi – Ketika penginjil Ottow dan Geisler menginjakkan kaki di Pulau Mansinam, Manokwari (5/2/1955), Papua tidak pernah tersentuh. Papua dalam pandangan dunia sebagai dunia yang gelap, kafir, jahat, bahkan dunia tanpa penghuni.

Dunia yang gelap itu mulai terbuka melalui pertobatan Injil. Kabar masuk ke wilayah pedalaman Papua awal 1937 di wilayah Meepago dan ke Lapago pertengahan 1950 dan hingga ke wilayah Lani pada 1960-an.  

Awal 1960-an, di pedalaman Papua, orang tidak pernah tahu, dan pasti tidak dipedulikan. Orang melihat wilayah yang penuh dengan dosa, peperangan, stigma kanibal dan kafir. Tidak satu pun mau masuk kecuali para pewarta Injil. 

Di sana, Misi CAMA, ABMS, Misis APCM, Misi UFM merintis pemberitaan Injil dan menyerukan pertobatan “Nabelan-nggabelan”.

Buah-buah pertobatan mulai terlihat. Tanggal 29 Juli 1962 umat dibaptis. Anggota awalnya hanya 8 orang menjadi 15.032 orang dalam kurun lima tahun.

Tepatnya, 12 Februari 1963, pit River, pedalaman Papua berlangsung  Konferensi I, yang menjadi cikal bakal lahirnya gereja GIDI. Notulen rapat memang tidak ada, tetapi menunjukkan terbentuknya suatu organisasi.

Gereja GIDI sudah lahir, tumbuh dan berkembang.  Gereja sudah memasuki 50 tahun. Kini, gereja menjalani generasi 50 tahun kedua, menuju satu abad. Satu tugas penting itu, semua jemaat GIDI dalam berbagai profesi haruslah berdiri tegak di atas batu karang Yesus, bersatu dalam iman dan tema peringatan “Gereja yang Menabur Injil” (Kis 1:8), dan haruslah menata dan melestarikan nilai rohani sebagai berkat bagi bangsa-bangsa di dunia.

Umat GIDI yang saya hormati dan kasihi,                

Sangat tidak berlebihan bila di hari yang berbahagian ini, saya mengatakan Gereja ini unik dan spesial. Gereja spesial karena gereja ini hasil asli Papua dan gereja pribumi terbesar di negeri ini. Gereja ini bukti dari nubuat para penjil awal di negeri ini.   

“Sekalipun orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat, tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan bangkit memimpin dirinya sendiri,” ungkap I.S Kijne.

Kebangkitan revolusiner telah dilakukan. GIDI telah lahir, tumbuh, berkembang dan terus berkembang menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Berkat itu telah menjadi nyata melalui para misioner GIDI dan karya-karyanya.

Statistik GIDI menunjukkan 6.643 pendeta, 216 penginjil yang tersebar di seluruh dunia, 63 klasis dan 11 calon klasis, 1.000 jemaat lokal, 1 juta anggota jemaat, 1 rumah sakit dan 2 klinik kesehatan, 12 sekolah teologia, 9 SMP-SMA dan 5 TK/PAUD.

Umat GIDI yang saya hormati dan kasihi,

Tak ada pilihan lain, kita harus maju dan berkembang. Kita harus pantang menyerah, maju dan menang menggapai visi dan misi yang sudah kita sepakati bersama. Perjuangan hidup apa saja boleh, tetapi tidak boleh lupa bahwa semua orang harus masuk surga. Itulah tugas dan tanggung jawab jemaat GIDI.

Kita harus punya obsesi selaku orang beriman. Kita harus memiliki alasan yang jelas mengapa kita ada sekarang dan kemana kita harus pergi. Karena itu, sangatlah harus. “Bangkitanlah generasi muda, bangkit…dan melangkah bersama Tuhan, karena masa depan Gereja ini ada di pundakmu.”

Kebangkitan ini penting karena kita hidup di tengah dunia yang terus berubah, arus globalisasi menembus sampai ke kampung-kampung. Arus yang deras itu bukan hanya arus biasa, melainkan arus kapitalisme yang mengejar potensi ekonomi yang dulu diabaikan.  

Generasi muda yang saya banggakan. Tantangan menghadapi nafsu dunia merebut dunia dan kekayaan alam kita sangat besar. Itu tantangan terbesar kita. Kita memiliki panggilan bersama menjawab tantangan itu yang merasuk di bidang keagamaan, ekonomi, sosial, politik dan keamanan di Papua.

Kita memerlukan pendekatan mental dan spiritual guna menciptakan  suasana Papua yang kondusif, aman dan pada akhirnya melahirkan kemandirian dan kesejahteraan sesuai cita-cita bersama karena Papua ini Tanah Injil dan Tanah Berkat dan Tanah Damai.

Umat GIDI yang saya kasihi dan hormati,

Pada kesempatan yang bersejarah ini, saya atas nama gereja GIDI menyampaikan duka yang mendalam bagi saudara-saudari kita, jemaat GIDI yang sedang mengalami musibah. Banyak di antara mereka yang dipenjarakan karena “korban hukum bukan karena melanggar hukum, terbunuh karena politik dan hilang karena penyakit HIV yang terus meluas di negeri ini”.

Situasi ini membuat air mata terus mengalir. Karena itu, saya menyerukan kepada pimpinan Gereja dan pemerintah, mari kita sama-sama dengan kepala dingin, berhati bening, memeluk dan menghapus air mata mereka. Karena, mereka juga adalah anak-anak tercinta kita, yang harus dirangkul, dibina dan dididik secara manusiawi dan beradab sehingga tidak ada kesan diskriminatif.

Praktik diskriminatif kita harus hapus mulai dari mimbar-mimbar gereja. Jika mimbar GIDI sudah mendoakan pemerintah, TNI-Polri berarti juga mendoakan TPN-OPM, KNPB, ULMWP, bukan hanya mendoakan teroris, ISIS, dll., karena semua orang sama di mata Tuhan.

Umat GIDI yang saya hormati dan kasihi,

Tahun 2018 merupakan tahun politik. Pemilihan kepala daerah kabupaten dan provinsi, temasuk wilayah mayoritas GIDI. Karena itu, perlu dan sangat penting kita ketahui bahwa Gereja tidak melibatkan diri di dalam politik dan bersikap netral dan tidak melibatkan diri dalam politik praktis.

Umat GIDI yang saya hormati dan kasihi,

Berdirinya gereja GIDI, bukan kehendak manusia, melaikan “atas kehendak dan rencana Tuhan” di balik gunung "honai" kampung sunyi, jauh dari dunia maju, tak terhitung dan tak terpandang, namun berharga di mata Tuhan.

Pada saat itulah Allah menunjukkan kuasa kasih-Nya: kini yang lemah dikuatkan, yang miskin dan hina diangkat dan diubahkan oleh kasih karunia dan kebenaran, kuasa dan mukjizat Tuhan menyertai mereka yang ditandai pertobatan dan pembaptisan orang percaya yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan, dan mereka pun bersekutu, bertumbuh dan berakar dan berbuah di dalam Dia. Dalam waktu Tuhan, mereka disatukan dalam satu tubuh Kristus yang secara de facto dinyatakan pada konferensi umum gereja-gereja Lani 12 Februari 1963.

“...karena Allah akan tinggal bersama-sama kami, maka kami ingin diberi nama sendiri” sebuah tonggak peradaban yang mengubah hidup manusia hitam dan keriting di tanah ini.

Sebuah keputusan iman revolusioner, ekstrem dan radikal dan tanpa kompromi yang diikrarkan oleh generasi pertama Gereja Pribumi. Suatu era restorasi, era revival, era reformasi bagi umat manusia di negeri ini sepanjang masa.

Dengan berjalannya waktu, Gereja Pribumi dapat bertumbuh dan berkembang yang diikuti pula nama gereja dari Gereja Injili di Irian Barat (1963), menjadi Gereja Injili Irian Jaya (1973), kini Gereja Injili di Indonesia (GIDI).

Atas dasar keputusan itu, terbentuklah sebuah gereja pribumi yang independen, otonom dan demokratis dengan sistem pemerintahan gereja presbiterian-kongregasional.

Sebuah keputusan spektakuler yang diproklamirkan pendiri pada detik-detik lahirnya GIDI 12 Februari 1963 adalah “Kami Ingin Berdiri Sendiri” dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.

Sesuai dengan amanat-Nya, dalam HUT GIDI ke-55, Dia menyertai kita dan selalu memelihara kita dengan komitmen “Satu Tuhan, satu raja, satu visi, satu iman, satu pengharapan, satu tubuh, satu keluarga GIDI di dalam Yesus Kristus,” yang memberkati bangsa-bangsa di dunia. 

Akhirnya, saya menyampaikan selamat merayakan HUT GIDI ke-55! (*)

loading...

Sebelumnya

Umat beragama Papua tidak terprovokasi penyerangan Gereja di Yogyakarta

Selanjutnya

Nasib pangan lokal Papua di tangan Pemerintah

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34476x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23186x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19033x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15594x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe