Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lingkungan
  3. Menanti aliran air di Buper
  • Kamis, 22 Februari 2018 — 09:49
  • 903x views

Menanti aliran air di Buper

“Pemerintah sudah mau pasang pipa air, tapi belum ada juga (airnya),” kata Wakur.
Perumahan warga di sekitar TPU Buper, Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura – Jubi/David Sobolim
David Sobolim
Editor : Timoteus Marten

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Hingga kini, mereka belum menikmati air bersih. Malah kuburan lebih dulu dibuat daripada bak air.

Dengan nada meninggi, pekan lalu, Peneas Wakur, warga kompleks Bunda Maria, sekitar Tempat Pemakaman Umum (TPU) Buper, Distrik Heram, Kota Jayapura, mempertanyakan komitmen Wali Kota Benhur Tomi Mano mendatangkan air bersih bagi mereka.

Pasalnya, wali kota berencana membangun bak besar, untuk menampung air dan dipasok kepada masyarakat—sekitar dua puluhan rumah, di sekitar lokasi TPU.

“Pemerintah sudah mau pasang pipa air, tapi belum ada juga (airnya),” kata Wakur.

Wakur berujar, ada tiga titik atau sumber air yang biasa digunakan warga sekitar lokasi itu.

“Tiga titik semua sumber air berasal dari bawah bukit kecil ini,” ujarnya.

Tempat pemakaman umum (TPU) muslim yang berlokasi di kawasan Buper (Bumi Perkemahan), Distrik Heram, Kota Jayapura harus dilalui dengan ekstra hati-hati.

Akses ke lokasi ini baru dibuka. Jalannya belum beraspal. Tanjakan dengan kemiringan kira-kira 45 derajat itu melewati rumah warga.

Pemerintah Kota Jayapura, tahun 2016, berencana membangun TPU Buper. Gayung bersambut, rencana itu direspons Dinas Sosial Provinsi Papua.

Kepala Dinas Sosial Papua Ribka Haluk ketika itu mengaku sudah mempersiapkan dana lima miliar rupiah. Namun, hal itu gagal pada Oktober 2016. Pemenang lelang pun diumumkan tanggal 10 Agustus 2017

Wakil Wali Kota Jayapura Rustan Saru berharap akhir 2017 TPU Buper itu sudah tersedia (beroperasi) dan gratis. Beberapa waktu lalu, 6 Februari 2018, TPU seluas 10 hektare dengan daya tampung 25.000-an jenazah ini sudah beroperasi.

Saat peresmian TPU ini, Wali Kota Benhur Tomi Mano dalam sambutannya mengatakan, demi rakyat apa yang masyarakat minta akan ditepati. Mereka membutuhkan air bersih.

Lokasi ini, sebutnya, tidak bermasalah sebab sudah dilakukan penelitian melalui AMDAL (analisis melalui dampak lingkungan).

“Pemerintah hadir bukan untuk menyiksakan warga, tetapi mensejahterahkan warganya,” kata wali kota.

Soal tanah, menurutnya, hal itu sudah selesaikan seluas lima hektare, sedangkan lima hektarenya belum diselesaikan (pembayarannya).

“(Lokasi) yang sisa itu adalah tanggung jawab pemerintah. Jalan dan lampu untuk menuju ke tempat pemakaman Islam semua akan dipasang oleh Pemkot Jayapura,” ujarnya.

Ondoafi Buper Waena Anton Kaigere menyebutkan bahwa proses penyelesaian lahan TPU sudah selesai. Hanya saja, masyarakat belum menikmati sumber air bersih.

“Hanya yang menjadi masalah air bersih di sekitar atau di bawah bukit TPU muslim,” katanya.

Dosen Geografi Universitas Cenderawasih (Uncen) Yehuda Hamokwarong menjelaskan, dilihat dari geomorfologinya, daerah Buper dan sekitarnya merupakan daerah dimitasi dan rawan erosi.

Ada dua daerah rawan dimitasi, yakni, tampak terhadap fisik pembangunan, yaitu mengalami retak-retak, dan biaya perawatan yang tinggi.

Selanjutnya, tampak pada masyarakat di lingkungan sekitarnya. Erosi diangkut air banjir ke sungai atau mata air. Hal tersebut menyebabkan air keruh dan tidak dapat digunakan warga.

Namun, sekitar 30 kilometer dari lokasi TPU terdapat pemukiman warga, persis berada di dataran tinggi, dan perkampungan warga di dataran rendah.

Warga setempat berkeyakinan jika lokasi kuburan berada di atas perbukitan, akan mendatangkan penyakit kulit dan penyakit menular.

“Jika itu kuburan pasti akan bikin banyak alur-alur, dan pada saat hujan akan menciptakan parit-parit sendiri, karena tempat-tempat itu di atas bukit,” kata Hamokwarong.

Saat hujan pun, lanjutnya, lubang-lubang tercipta. Dampaknya pun dirasakan masyarakat.

“(Warga) yang tinggal di situ dapat air dari mana? Tentu masyakat akan kesulitan air bersih,” katanya.

Ketua Nadhatul Ulama (NU) Kota Jayapura, Kahar Yelipele ketika dikonfirmasi Jubi melalui sambungan telepon selulernya mengaku, soal TPU Buper adalah tanggung jawab wali kota.

“Bukan kami karena kami hanya gunakan. Semua dibayar lunas oleh wali kota Jayapura,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

Sampah dari perkotaan kotori Danau Sentani

Selanjutnya

Aktivis lingkungan : penuhi hak konstitutional OAP dan hukum berat perusak lingkungan

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34375x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 22851x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18931x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe