Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. 27 lumba-lumba bebas setelah disekap di Solomon
  • Rabu, 02 November 2016 — 15:03
  • 799x views

27 lumba-lumba bebas setelah disekap di Solomon

Tim operasi gabungan telah berhasil menyelamatkan 27 ikan lumba-lumba yang disekap dalam sebuah kandang mengapung di Mbungana, provinsi Central Islands, Kepulauan Solomon.
Lumba-lumba. --reference.com
PINA
Editor : Lina Nursanty
LipSus
Features |
Selasa, 18 Desember 2018 | 16:32 WP
Features |
Senin, 17 Desember 2018 | 13:10 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Central Islands, Jubi – Tim operasi gabungan telah berhasil menyelamatkan 27 ikan lumba-lumba yang disekap dalam sebuah kandang mengapung di Mbungana, provinsi Central Islands, Kepulauan Solomon.

Tim gabungan terdiri dari Kementerian Perikanan dan Maritim (MFMR) dan Kesatuan Polisi Kepulauan Solomon (RSIPF). Mereka bergerak setelah menerima laporan adanya sekelompok ikan lumba yang disekap di sebuah kandang terapung. Tindakan itu melanggar ketentuan UU Perikanan tahun 2015. Sebagai tindak lanjut laporan itu, tim gabungan polisi dan MFMR bersama membebaskan lumba-lumba.

Dalam UU Perikanan, Kepulauan Solomon melarang ekspor ikan lumba-lumba. Lumba-lumba yang disekap itu diduga akan diekspor ke negara lain. Sekretaris Kementerian Perikanan, Ferral Lasi mengonfirmasi hal itu dan menyatakan bahwa aksi gabungan itu sudah sesuai dengan UU.

“Peraturan sekarang melarang ekspor lumba-lumba, oleh karena itu siapapun yang kedapatan menjual dan menahan ikan lumba-lumba untuk dijual atau diekspor akan didenda 500.000 dolar dan hukuman penjara selama dua tahun atau keduanya,” ujar Lasi.

Pekan lalu, kementerian juga melakukan aksi pembebasan lumba-lumba di Kolombangara yang disekap untuk kemudian akan dijual.

Kini, kepolisian tengah melakukan penyelidikan untuk menangkap pelaku penyekapan lumba-lumba di kedua tempat tersebut.

Penjualan lumba-lumba secara ilegal tetap marak dari Solomon mengingat negara itu memiliki perairan yang dihuni banyak ikan tersebut. Ketentuan pelarangan ekspor lumba-lumba itu dilakukan juga dalam rangka politik perdagangan.

Jika Kepulauan Solomon kedapatan mengekspor lumba-lumba, maka produsen tuna akan menghentikan pembelian tuna kepada Solomon. Hal itu merupakan bagian dari upaya menegakkan komitmen menjaga kelestarian alam laut. “Banyak kelompok yang menolak aturan penjualan lumba-lumba. Namun, jika mereka kita turuti maka industri tuna yang dikerjakan oleh kurang lebih 2.000 tenaga kerja akan bisa gulung tikar karena pembeli ikan tuna akan menghentikan pembeliannya,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Perjuangan Kiribati dari ancaman tenggelam

Selanjutnya

Whipps pimpin perolehan suara

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23515x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19192x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15652x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12721x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe