Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lembar Olahraga
  3. Puslatprov harus kompak, tidak boleh ada penghianat
  • Jumat, 09 Maret 2018 — 11:35
  • 715x views

Puslatprov harus kompak, tidak boleh ada penghianat

“Tidak ada penghianat di dalam, tidak boleh. Jadi semuanya harus kompak,” tegasnya.
Nyoman Cantiasa berdiskusi dengan salah satu anggota Puslatprov, Daniel Womsiwor – Jubi/Jean Bisay
Jean Bisay
Editor :

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi,

Jayapura, Jubi - Mengejar sukses prestasi di Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020. Sebagai tuan rumah, KONI Papua mulai pasang kuda-kuda. Langkah pertama ditempuh dengan membentuk Pusat Latihan Provinsi (Puslatprov).

Puslatprov dipimpin Nyoman Cantiasa yang juga Kasdam XVII/Cenderawasih. Legitimasi lewat SK ketua umum KONI Papua nomor 04/SKEP/KONI Papua/II/2018, tertanggal 20 Februari 2018.

Pria asal Bali ini bertindak sebagai komandan buat 48 personil plus anggota Polri dan TNI yang masuk dalam anggota keamanan.

Kepada wartawan di kantor PB PON, Rabu 7 Maret 2018, Nyoman Cantiasa mengatakan  SK Puslatprov sudah resmi diserahkan Sekretaris Umum KONI Papua kepada dirinya disela-sela rapat KONI dan PB PON Papua.

“Saya sudah menerima SK ini, maka tugas selanjutnya mulai rekrutmen atlet sampai dengan persiapan TC atlet bisa dilakukan oleh tim pelaksana Puslatprov Papua,” tegasnya.

Sebelum menerima SK Puslatprov, dirinya sudah melaporkan kepada Pangdam XVII/Cenderewasih, selaku pimpinan dan atasan.

“Saya sudah lapor ke Pangdam dan saya siap bekerja untuk merekrut anak-anak Papua yang dipersiapkan untuk PON XX,” katanya.

Sebagai seorang prajurit TNI, Cantiasa bergerak cepat menggelar rapat perdana sekaligus perkenalan dengan seluruh personil, Kamis 8 Maret 2018 di kantor PB PON.

Cantiasa bilang dalam rangka tujuan sukses prestasi dan penyelenggaraan di PON 2020, pihaknya mengawali dengan membedah atau mengevaluasi kegiatan PON sebelumnya. Karena tanpa evaluasi itu tidak mungkin kita maju ke depan.

“Dalam rapat tadi sudah kami sampaikan kepada semua personil yang terlibat dalam Puslatprov bahwa minggu depan akan dipaparkan oleh ketua Satgas PON 2016,” ujarnya.

Memaparkan evaluasi dari hasil PON sebelumnya mulai peluang, potensi dan kendala. Setelah semua itu kita bedah dan dapat, barulah kita mulai berjalan ke depan.

Cantiasa akui dari masukan yang diterima, banyak masalah dan konflik yang timbul sebelumnya saat persiapan atlet menuju PON. Ia tidak mau ada konflik dan dalam tim harus kompak.

“Tidak ada penghianat di dalam, tidak boleh. Jadi semuanya harus kompak,” tegasnya.

Mantan atlet Papua, Ferdinand Fairyo akrab disapa Nando menilai penunjukan Kasdam adalah perhitungan yang tepat,  karena 3 PON selalu gagal dipimpin oleh orang KONI sendiri.

Ketua umum KONI Papua, Lukas Enembe merasa perlu membuat perbedaan, sehingga lebih fokus dan disiplin. Tentunya baik dari sisi teknis maupun non teknis.

“Contoh kami cabang olahraga sepak bola saat menjuarai PON 13 di manajeri langsung Pangdam E.E Mangindaan saat itu dan Deki Wattimena saat itu sebagai komandan POM, sehingga tim disiplin dan berhasil. Termasuk tim tur ke Australia,” Nando mengenang.

Kasdam sebagai ketua tentu punya strategi dan taktik dalam meraih prestasi, karena sesuai tupoksi kemiliteran yang pasti dan terintegrasi. Sehingga dapat dipercaya publik dan masyarakat Papua.

Sekarang Kasdam tinggal mengangkat orang yang betul-betul menguasai bidang sports sains dan iptek, sehingga dapat mengontrol program latihan oleh para pelatih dan memberi solusi perbaikan program jika tidak sesuai sehingga jadi jaminan prestasi.

“Bukankah KONI sudah punya bidang sports sains dan iptek, jadi bisa manfaatkan,” ujarnya.

Mantan kapten Persipura ini berpendapat kegagalan selama ini terjadi karena penempatan orang yang tidak paham tentang bagaimana membuat prestasi, tapi lebih pada bagaimana berekreasi.

Kondisi inilah membuat gubernur marah dengan pembiayaan yang mencapai Rp 150 miliar pada periode pengurus KONI sebelumnya, tapi cuma 5 medali emas didapat dari atlet binaan KONI. Sedangkan 14 medali emas lainnya di beli, alias beli atlet dari luar Papua.

“Apakah ini yang disebut harga diri dan prestasi atlet Papua. Sebagai orang Papua silahkan menjawab,” kata Nando.

Sekretaris Umum KONI Papua Kenius Kogoya mengatakan, rencana TC PON 2020 merupakan tanggungjawab Puslatprov. Untuk mengatur waktunya termasuk untuk seleksi atlet juga.

“Kami dari KONI Papua memberikan tanggungjawab kepada Puslatprov untuk menjaring atlet dari sekarang,” ujarnya. (*)

loading...

Sebelumnya

460 karateka ramaikan kejuaraan Uncen Open 2018

Selanjutnya

Besok, Pengurus IMI Papua dilantik

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34249x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 22078x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18509x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe