Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Meneruskan usaha orangtua menjual bunga anggrek
  • Selasa, 20 Maret 2018 — 03:09
  • 1334x views

Meneruskan usaha orangtua menjual bunga anggrek

“Memang ada yang kami dapatkan di tanah, setelah orang menebang pohon. Di situ anggrek diambil dan dibawa pulang. Tetapi lebih banyak kami panjat dan mengambil sendiri di atas pohon,” katanya.
Maria Agustina Kaize sedang membersihkan pot-pot yang berisi bunga anggrek – Jubi/Frans L. Kobun
Editor : Edho Sinaga

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Merauke, Jubi - Dari jalan umum, jalur menuju Distrik Sota, perbatasan RI-PNG, rumah Dominikus Kaize, warga Kampung Wasur, Merauke, tidak kelihatan.  Pekarangan rumahnya pun nyaris tak ada.

Rumah dan pekarangan yang tak kelihatan itu, bukan dipagar dengan seng atau tembok. Namun, ia membuat lapak untuk menempatkan ratusan pot plastik dan kayu, yang ditanami anakan bunga anggrek.

Untuk melindungi anggrek agar tak terkena sinar matahari, ia menutupnya dengan daun kelapa.

Beragam bunga anggrek ditemukan di pekarangan rumah Kaize. Siapa saja boleh memilih sesuai keinginan, sebab di situ sudah disediakan 15 jenis anggrek.

Anak kandung Dominikus Kaize, Maria Agustina Kaize, terlihat sibuk membersihkan anggrek dalam pot.

Ketika disambangi Jubi, ia pun menghentikan aktivitasnya. Lalu dengan ramah menerima Jubi, bahkan dengan senang hati diwawancarai.

“Saya sudah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) Satu Atap Terintegrasi Wasur tahun 2017 lalu. Hanya belum bisa lanjut ke perguruan tinggi (PT). Karena masih mencari tambahan uang terlebih dahulu,” ungkap Maria, mengawali pembicaraan dengan Jubi, Kamis, (15/3/2018).

Maria menuturkan, usaha bunga anggrek dirintis orang tuanya sejak belasan tahun silam, lalu dikembangkannya hingga sekarang.

“Bapa sudah istirahat dan memberikan kepercayaan kepada saya untuk melanjutkan. Tentunya harus saya teruskan usaha ini,” katanya.

Untuk mendapatkan bunga anggrek, kata dia, mereka harus masuk ke hutan terlebih dahulu. Selanjutnya mereka memanjat pohon dan mengambil anggreknya. Umumnya anggrek menempel di batang pohon.

“Memang ada yang kami dapatkan di tanah, setelah orang menebang pohon. Di situ anggrek diambil dan dibawa pulang. Tetapi lebih banyak kami panjat dan mengambil sendiri di atas pohon,” katanya.

Anggrek yang diambil, berukuran kecil dan besar. Untuk ukuran besar, masih dipisahkan lagi menjadi tiga sampai empat rumpun. Lalu dimasukkan dalam pot yang telah disediakan.

Dia mengaku, kurang lebih terdapat 15 jenis anggrek diambil dari hutan, sekaligus dirawat dengan dimasukkan ke dalam setiap pot. Ada anggrek jenis ungu, daun pisang, kelinci kuning dan sejumlah jenis lainnya.

Dari belasan jenis bunga anggrek itu, katanya, anggrek jenis kelinci kuning dan ungu paling banyak diminati. Harganya pun bervariasi. Dari yang paling mahal dengan harga Rp250 ribu/pot sampai termurah Rp75 ribu/pot.

Ia mengaku, pengunjung tak menentu tiap hari.

“Paling banyak 10 orang. Tetapi kalau ada kunjungan bisa sampai puluhan orang,” ujarnya.

“Setiap hari saya merawat dan membersihkan pot bunga yang ada. Kalau ada batang kering diambil. Itu rutinitas setiap pagi dilakukan,” lanjutnya.

Dalam seminggu, dirinya menyemprot anggrek-anggreknya dengan obat cairan, sebab anggrek-anggrek itu sering dikerumuni ulat.

Pendapatan yang diperoleh dari penjualan anggrek digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari. Juga sedikit disisihkan untuk membayar jasa orang lain, yang pergi mencari anggrek di hutan.

“Kalau saya sibuk mengurus ratusan pot anggrek di rumah, terpaksa menyewa orang pergi mencari lagi. Karena sering banyak orang datang membeli,” tuturnya.

Dominikus Kaize, orang tua Maria mengaku, saat ini usaha bunga anggrek diserahkan kepada anaknya. “Begitu anak tamat sekolah, saya serahkan ke dia, mengurus dan merawat, termasuk melayani siapa saja yang datang membeli,” katanya.

Dijelaskan, banyak manfaat dari usaha bunga anggrek. Usaha ini setidaknya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Untuk mendapatkan bunga anggrek, tidaklah mudah. Karena harus memanjat dan mengambilnya di atas pohon. Namun demikian, sudah menjadi rutinitas yang dijalankan setiap hari,” kata Dominikus Kaize.

Mariana Ana, seorang ibu di Wasur Kampung, juga mengaku memelihara bunga anggrek dalam pot. Hanya jumlahnya tidak sebanyak milik Dominikus Kaize.

“Bapak Domi punya paling banyak mencapai ratusan pot dari berbagai jenis yang dirawat dan dipelihara,” katanya.

Para pelanggan atau pembeli terlebih dahulu memesan sebelum membeli anggreknya.

“Kalau tidak ada, maka suami saya pergi mencari di hutan,” ujar Mariana Ana.

Ia mengaku tidak rutin kami mencari bunga anggrek di hutan. Mencarinya pun ketika ada pesanan, sehingga pelanggan langsung membeli dan mengambilnya. (*/Timo Marten)

loading...

Sebelumnya

Harapan guru dan siswa dari pojok baca bank di sekolah

Selanjutnya

Menyoal pungli di sekolah

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23404x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19120x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15623x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12655x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe