Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Penkes
  3. Sawit merampas lahan masyarakat adat dan merusak pendidikan
  • Kamis, 19 April 2018 — 19:57
  • 1130x views

Sawit merampas lahan masyarakat adat dan merusak pendidikan

"Memang kesadaran anak asli Papua usia sekolah, khususnya di wilayah selatan untuk bersekolah perlu ditingkatkan. Selama ini banyak di antara mereka lebih memilih ikut orangtuanya berburu di hutan. Apalagi kini dengan adanya perusahaan sawit semakin parah," kata Maria Kaize menjawab pertanyaan Jubi, Kamis (19/4/2018).
Ilustrasi perkebunan sawit di Tanah Papua – Jubi/Dok.
Arjuna Pademme
Editor : Edho Sinaga

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi - Salah seorang legislator Papua dari 14 kursi Maria Elizabet Kaize mengatakan, investasi sawit khususnya di wilayah selatan Papua selain merampas lahan masyarakat adat, juga merusak pendidikan generasi muda Papua.

Maria Kaize yang berasal dari wilayah adat Anim Ha mengatakan, kehadiran sawit semakin memperparah kondisi pendidikan anak-anak asli Papua di wilayah Kabupaten Merauke, Boven Digoel dan sekitarnya.

Sawit menurut dia, membuat anak-anak asli Papua usia sekolah di wilayah selatan lebih memilih ikut orang tua mereka menjadi buruh dibandingkan ke sekolah.

"Memang kesadaran anak asli Papua usia sekolah, khususnya di wilayah selatan untuk bersekolah perlu ditingkatkan. Selama ini banyak di antara mereka lebih memilih ikut orangtuanya berburu di hutan. Apalagi kini dengan adanya perusahaan sawit semakin parah," kata Maria Kaize menjawab pertanyaan Jubi, Kamis (19/4/2018).

Ia mencontohkan di daerah Bio, Kabupaten Boven Digoel. Di wilayah itu banyak anak usia sekolah ikut orangtua mereka menjadi buruh sawit. Informasi ini diperoleh Maria Kaize dari adiknya yang guru di wilayah itu.

Katanya, hal seperti ini juga pernah terjadi di daerah Genyem dan Lereh, Kabupaten Jayapura saat perusahaan sawit baru beroperasi di daerah itu. 

"Itu menurut salah seorang guru dari Genyem yang saya temui beberapa waktu lalu. Solusi yang mereka ambil, mencari siswa hingga ke perkebunan. Mungkin cara ini dapat dipakai di kabupaten di selatan Papua. Namun harus ada dukungan dari pemerintah, gereja tokoh adat, masyarakat dan lainnya," ucapnya.

Salah seorang tokoh masyarakat Keerom, Servius Servo saat bertemu pelapor khusus PBB hak atas pangan, Hilal Elver mengatakan, peralihan lahan masyarakat di wilayahnya menjadi perkebunan sawit dibayar dengan harga sangat murah.

Bahkan ada yang hanya ditukar dengan gula dan garam. Katanya, ini masalah yang ada sejak dulu dan berlanjut hingga kini. 

"Selain untuk perkebunan sawit, hutan dan hutan sagu masyarakat adat banyak yang dimanfaatkan untuk pembangunan jalan dan infrastruktur pemerintah," kata Servius. (*)

loading...

Sebelumnya

Delapan kabupaten harus hapus nilai merah pelayanan kesehatan

Selanjutnya

Kerjasama Dinkes Papua dengan RS swasta dan klinik dilanjutkan

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23350x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19086x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15619x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12616x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe