Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Lingkungan
  3. Pendulang emas ilegal terus berdatangan ke Korowai
  • Minggu, 29 April 2018 — 17:02
  • 2644x views

Pendulang emas ilegal terus berdatangan ke Korowai

Agar menjadi barang bukti kata Alwin, mereka juga mengambil gambar dan merekam satu persatu wajah orang tersebut. Ada juga sedikit upaya dari mereka untuk menekan dengan merekam balik dan menanyakan nama.
Sejumlah orang yang diduga penambang emas ilegal saat tiba di Danowage, Korowai - Jubi/ Dok Alwin.
Agus Pabika
Editor : Edho Sinaga

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – Penambang emas ilegal kembali mendatangi kampung Danowage, pada Rabu (25/4/2018) sore, sekira pukul 16.00 WP. Kedatangan mereka ini langsung dilaporkan Alwin Felix, seorang guru di Danowage melalui pesan Whatsappnya. Ia mengatakan mendapati laporan itu dari anak-anak muridnya. Atas laporan itu, Alwin pun langsung menuju lokasi kejadian, mencari para penambang yang datang tersebut.

"Dari lokasi kejadian kami mendapati benar adanya kedatangan rombongan tersebut yang berencana berangkat ke Yafufla pada esok hari. Dari penuturan anggota tersebut tujuan mereka datang untuk mensurvey mengenai kadar emas dan mempertimbangkan apakah akan kembali lagi atau tidak," ujar Alwin.

Alwin mengungkapkan, para penambang juga mengatakan bahwa tujuan mereka untuk membangun daerah. Mereka akan meminta izin kepada pemilik wilayah, dan akan membangun rumah untuk masyarakat.

"Kepada kami salah satu rombongan tersebut mengatakan bahwa mereka datang atas inisiatif pribadi bukan perusahaan. Namun mereka memiliki donatur. Kami tanyakan lebih lagi siapa donatur tersebut mereka menjawab pak Theo, seorang yang sudah lama di Papua, tinggal di Tanah merah. Kami juga berhasil mendapatkan nomor kontak pak Theo tersebut," katanya.

Agar menjadi barang bukti kata Alwin, mereka juga mengambil gambar dan merekam satu persatu wajah orang tersebut. Ada juga sedikit upaya dari mereka untuk menekan dengan merekam balik dan menanyakan nama.

"Kami mengatakan ini ilegal, kalau legal pasti bapak-bapak akan bisa menunjukkan surat izin. Kedua kami tegaskan ini pencurian emas milik orang Korowai, dan orang Papua," terangnya.

Mewakili masyarakat di situ Alwin juga mengatakan pihaknya mendapatkan mandat dari pemerintah dan DPRP untuk melaporkan tindakan pencurian emas ini.

"Kami menegaskan tidak boleh menggunakan air perak atau merkuri. Kami juga mengedukasi orang-orang Korowai dan orang Papua lainnya yang ikut serta rombongan mengenai bahaya dari merkuri," katanya.

Alwin menjelaskan, air yang tercemar oleh merkuri tidak akan bisa dimurnikan kembali, dan akan mempengaruhi ikan dan ekosistem sungai bahkan laut. Manusia bisa menjadi lumpuh, gila, cacat mental dan fisik bahkan mati. Ke depan pihaknya berharap orang Korowai sadar akan hal ini dan peduli terhadap lingkungan bukan hanya tertarik pada uang.

Sebelumnya, penambang-penambang emas ilegal ini sudah mulai masuk sejak tahun 2017 melalui laporan-laporan masyarakat Korowai sendiri, hingga aktivis kemanusiaan yang bekerja di Korowai juga angkat suara. Namun Pemda setempat, hingga DPRP, dan Gubernur Papua, diam soal ini.

Yan Akobiarek, Ketua Kopkedat Papua yang dihubungi terpisah mengatakan, di mana kontrol pemerintah melihat pendulang yang terus berdatangan dari luar Korowai, mengambil kekayaan milik orang Korowai dan mereka miskin diatas kekayaan mereka sendiri.

"Bila kita tidak tangani serius persoalan ini mereka (pendulang) akan menguasai lahan masyarakat adat setempat, pemerintah harus mencari solusi bagi rakyat Korowai sendiri agar mereka menjadi tuan di atas tanahnya sendiri," katanya.

Yan berujar, apa saja akan dilakukan masyarakat Korowai untuk uang, karena selama ini selalu diabaikan oleh pemerintah dan ini dianggap menjadi peluang mereka untuk mengubah kehidupan mereka dengan menjual lahan kepada para penambang emas ilegal ini, dengan harga yang murah.

"Sekarang saja mereka tukar tempat mereka dengan beras dan mie agar para penambang itu menambang di tempat mereka  dan ini yang harus kita cegah bersama," harap Yan. (*)

loading...

Sebelumnya

DPRP ingin tanah adat diatur untuk perlindungan OAP

Selanjutnya

Kayu soang asli Papua terancam punah

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34197x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 21382x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18163x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe