Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pengalaman
  3. Belajar bertani dari Romanus Mbaraka
  • Senin, 14 Mei 2018 — 04:07
  • 6807x views

Belajar bertani dari Romanus Mbaraka

"Kedepan beras hasil penggilingan dari kebun saya akan rutin dikirim ke berbagai daerah , termasuk ke negara tetangga PNG," ujarnya.
Mantan Bupati Merauke, Romanus Mbaraka sedang berada di areal lahannya untuk menjaga kegiatan panen padi – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Angela Flassy
LipSus
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:37 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 17:24 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 08:58 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi , 

HAMPARAN Sawah seluas 50 hektare di Kampung Sarsang, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke itu, tampak menguning. Buliran-buliran padi merunduk, nyaris menyapu tanah.
Senin, 7 Mei 2018, pemilik lahan memanen sawah miliknya menggunakan harvester combine. Padi langsung dipotong dan gabah langsung masuk dalam karung. 
Sebelum dilakukan panen, didahului  ibadah singkat yang dipimpin Pastor Silvester Tokio, Pr, sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas kemurahan, sehingga padi tumbuh dengan baik hingga dapat dipanen, tanpa  terserang hama. 
Lahan luas yang ditanami padi itu adalah milik Bupati Merauke periode 2011-2016, Romanus Mbaraka. Mantan orang nomor satu di Kabupaten Merauke tersebut, kini lebih memilih berkebun setelah tak memimpin lagi. 
Pastor Silvester Tokio mengatakan, apa yang dilakukan Romanus Mbaraka dengan membuka lahan dalam skala luas, mestinya harus ditiru pejabat Papua lain di Papua. 
“Jika pejabat Papua membuka lahan , mereka tak hanya mengharapkan gaji setiap bulan. Tetapi dengan penghasilan tambahan dari membuka lahan, bisa membantu keluarga,” ujarnya. 
Selain untuk menghidupi keluarga, kata Pastor Silvester, juga beras yang ada, dapat dijual atau dibagi kepada masyarakat. 
Dikatakan, sebelum dan ketika menjadi bupati bahkan sudah tak menjabat lagi, Romanus masih ‘mandi’ lumpur mengolah lahan untuk pertanian. Ini sesuatu yang luar biasa.
“Saya harus jujur mengatakan, sangat langka menemukan mantan pejabat Papua yang memiliki orientasi bertani seperti  sosok Romanus Mbaraka,” katanya. 
Sementara itu, pemilik kebun, Romanus Mbaraka mengaku, setiap tahun, pasti memanen padi di atas lahannya. Tahun ini, katanya, kurang lebih 50 hektare lahan dibuka untuk ditanami padi. 
“Puji Tuhan, panen kali ini jauh lebih baik hasilnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk satu hektare, sekitar 4 ton gabah didapatkan bahkan lebih dari itu,” ungkapnya. 
“Saya mengatakan demikian lantaran bisa dapat dilihat dari  rumpun maupun bulir yang ada di setiap tangkai padi,” tuturnya. 
Dijelaskan, usia padi dari tanam hingga panen, kurang lebih empat bulan. Saat panen dilakukan, lahan juga dalam keadaan kering dan tak basah. 
Untuk proses panen, menggunakan harvester combine, jauh lebih baik dan mudah dibandingkan dengan tenaga manusia yang membutuhkan biaya besar. Lalu dengan peralatan itu, gabah yang gugur hanya sekitar 0,5 persen. 
“Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus karena sawah seluas 50 hektare yang ditanami padi, bebas dari ancaman serangan hama. Karena didesain teknis baik dari pengairan maupun hutan cadangan,” katanya.
Anak-anak Papua harus termotivasi
Lebih lanjut  Romanus meminta kepada anak-anak Papua yang memiliki uang serta mempunyai kemampuan baik, agar memanfaatkan dengan baik untuk jaminan masa tua nanti.  Tanah ini sangat luas dan potensial. Tinggal saja dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. 
Dijelaskan, bicara petani bukan untuk kayanya. Tetapi paling utama adalah agar asap dapur tetap mengepul dan tak berhenti. Uang juga, selalu ada meskipun jumlahnya tidak banyak. 
“Setiap kali panen, pasti ada uang ditangan yang sudah dapat kita peroleh. Ini pengalaman saya, karena setiap tahun pasti membuka lahan untuk padi,” katanya. 
Dia mengaku lebih senang dengan aktivitas berkebun, ketika sudah tak menjabat sebagai Bupati Merauke. Selain ada padi di sawah, juga kelapa, pisang, umbi-umbian dan lain-lain yang tersedia.
Ditanya setelah penggilingan gabah, kira-kira beras dijual kemana saja, Romanus mengaku, pihaknya telah memiliki jaringan di Bulog Sub Divre Merauke serta beberapa outlet lain baik di Boven Digoel, Mappi hingga Asmat. 
Bahkan, katanya, pernah melakukan pengiriman beras ke Papua Nugini (PNG). Hanya saja, belakangan terkendala  transportasi.
"Kedepan beras hasil penggilingan dari kebun saya akan rutin dikirim ke berbagai daerah , termasuk ke negara tetangga PNG," ujarnya.(*)

 

loading...

Sebelumnya

Jejak karya mendiang Donatus Moiwend

Selanjutnya

In memoriam Elieser Awom : Sniper pertama dari West Papua, pejuang Papua Merdeka

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34065x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18962x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17646x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe