Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Pertemuan dan keterlibatan Jepang di Kepulauan Pasifik
  • Selasa, 22 Mei 2018 — 20:24
  • 807x views

Pertemuan dan keterlibatan Jepang di Kepulauan Pasifik

Pertemuan-pertemuan PALM yang sebelumnya tidak banyak menarik perhatian umum, tetapi PALM8 ini mungkin akan berubah mengingat meningkatnya minat dan kepentingan negara-negara lain di Pasifik.
Pada tanggal 17 Januari 2017, Jepang mengumumkan jadwal PALM8 di Iikura Guest House, Kementerian Luar Negeri, Tokyo. - Embassy of Japan in the Kingdom of Tonga
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Melissa Liberatore

Jepang, seperti banyak negara lainnya, memiliki kepentingan strategis yang mendalam di kawasan Pasifik. Namun tidak seperti banyak negara tersebut, Jepang, setiap tiga tahun sekali, menjadi tuan rumah pertemuan sebuah forum antaranya dengan semua pemimpin dari 14 negara di Kepulauan Pasifik (Pacific Island countries; PICs), serta perwakilan kementerian dari Australia dan Selandia Baru.

Pertemuan para pemimpin dari Kepulauan Pasifik ini telah menjadi bagian penting dari strategi Jepang di Pasifik sejak 1997. Pertemuan ke-8 yang umumnya disebut PALM8 (Pacific Islands Leaders Meeting ke-8; PALM8) itu dimulai Jumat pekan lalu (18/05/2018) di Fukushima. Temanya: We Are Islanders — Partnerships Towards Prosperous, Free and Open Pacific’.

Pertemuan-pertemuan PALM yang sebelumnya tidak banyak menarik perhatian umum, tetapi PALM8 ini mungkin akan berubah mengingat meningkatnya minat dan kepentingan negara-negara lain di Pasifik.

Observasi yang dalam ditujukan pada kebijakan luar negeri Tiongkok yang lebih memaksa di kawasan itu, mulai dari pembangunan pulau buatannya di Laut Tiongkok Selatan hingga apa yang disebut debt-trap diplomacy’, diplomasi pemberian pinjaman lunak di seluruh belahan dunia, termasuk di Pasifik.

Tiongkok telah menjanjikan berbagai jenis proyek infrastruktur yang sangat dibutuhkan di negara-negara seperti Tonga, Samoa, Vanuatu dan Filipina. Akibatnya, sekarang banyak negara yang berhutang kepada Tiongkok, dan tidak jelas bagaimana mereka dapat membayar kembali pinjaman menggunung tersebut.

Keterlibatan Jepang di wilayah Pasifik bukanlah hal yang baru. Negara itu sudah memiliki keterlibatan yang dalam di Pasifik dan memiliki hubungan bilateral yang kuat dengan banyak negara PICs.

Jepang menyalurkan 10% dari semua bantuan pembangunan resmi (ODA) yang diterima negara-negara PICs. Angka itu menjadikannya donor internasional terbesar ketiga untuk daerah Oseania, hanya di kalahkan oleh Australia — yang menghibahkan 44% total ODA Pasifik— dan Selandia Baru (14%). Setiap kali pertemuan PALM berakhir, Jepang mengumumkan paket kerjasama untuk tiga tahun ke depannya yang berjumlah sekitar ¥ 50 Miliar (sekitar AS $ 500 Juta).

Jepang juga menyediakan bantuan dalam bentuk pembangunan infrastruktur, seperti yang terlihat dalam proyek mereka di Filipina, untuk membangun kereta bawah tanah di Kota Manila dan meningkatkan ketahanan banjir di sungai-sungai di Kota Davao, pembangunan jalan raya di Kepulauan Solomon, pembangunan sistem pembangkit listrik tenaga angin di Tonga, dan pembangunan jalan-jalan dan jembatan — dan proyek-proyek lainnya — di Papua Nugini.

Pertemuan-pertemuan PALM sebelumnya berlandaskan identitas bersama Jepang dan PICs, sebagai negara kepulauan di Samudra Pasifik, serta kepentingan bersama mereka dalam melestarikan dan mengelola sumber daya laut.

Pada saat PALM5 pada tahun 2009, misalnya, mereka menciptakan program dana bantuan Pacific Environment Community Fund, yang dipergunakan untuk mencari pendekatan praktis yang spesifik terhadap Pasifik agar bisa melawan perubahan iklim. Program tersebut yang melahirkan komitmen, setelah PALM7, untuk membangun sebuah pusat perubahan iklim di Pasifik, Pacific Climate Change Centre.

Karena isu perubahan iklim merupakan ancaman kelanjutan hidup bagi negara-negara kepulauan, para negara peserta PALM juga telah mengadopsi upaya-upaya mitigasi lainnya. Setelah PALM7, Jepang dan PICs juga memprakarsai program edukasi Pacific Leaders’ Educational Assistance for Development of State untuk meningkatkan kerjasama di beberapa bidang yang diprioritaskan, termasuk pengurangan risiko bencana, perubahan iklim, dan lingkungan.

Hal itu mendorong dimulainya Proyek Hybrid Island Smart Energy Integration for Resilient Islands, proyek yang bertujuan untuk memperkenalkan teknologi energi terbarukan ke dalam sistem tenaga listrik lima negara PICs, yang hingga saat ini bergantung sepenuhnya pada diesel.

Jepang juga telah lama menyuarakan dukungannya untuk pembangunan yang mandiri. Sebagai bukti, ia menyusun sebuah rencana untuk pengembangan kapasitas dan pelatihan dengan PICs. Di pertemuan PALM7, Jepang menguraikan rencananya yang berpusat pada pengembangan kapasitas dan transfer teknologi, misalnya dengan menawarkan program pertukaran untuk sekitar 4.000 orang dari PICs. Sektor perdagangan juga sering menjadi topik utama dalam diskusi mereka.

Program pertukaran seperti itu memenuhi tujuan-tujuan diplomatik Jepang lainnya: rapat-rapat PALM adalah platform yang penting bagi Jepang untuk mempromosikan nilai-nilai dasar yang krusial bagi kepentingannya sendiri, seperti pembangunan yang bekerlanjutan, transparansi, dan kebebasan lintas di lautan. Semua nilai-nilai itu sesuai dengan strategi Jepang, Free and Open Indo-Pacific Strategy.

Mengingat kekhawatiran yang membumbung tentang keterlibatan Tiongkok di Pasifik, PALM8 akan menjadi kesempatan yang baik bagi Jepang dan negara PICs, untuk terus mempromosikan nilai-nilai seperti kebebasan maritim, hukum, perdamaian dan keamanan, dan transparansi.

Kita mengharapkan topik-topik seperti bantuan bidang maritime, penegakan hukum maritim, pengelolaan sumber daya perikanan, pembangunan yang independen dan berkelanjutan, dan program pertukaran, turut terdaftar dalam agenda pertemuan.

Konsistensi dalam topik-topik PALM dari awalnya hingga saat ini menunjukkan, bahwa strategi Jepang di Pasifik bukanlah untuk ‘berlomba’ dengan Tiongkok di Pasifik.

Sebaliknya, strategi ini memperkuat keunggulan utama Jepang dibandingkan negara lainnya seperti teknologi dan inovasi, pengalamannya dalam sistem pengurangan risiko bencana alam, dan, yang paling penting bagi Kepulauan Pasifik, pemahaman bersama tentang pentingnya perikanan dalam ekonomi mereka.

Meskipun Jepang telah semakin aktif di benua Asia Tenggara dalam bidang tata kelola keamanan maritim, Jepang belum memulai upaya yang serupa di Pasifik. Seperti pendapat beberapa analis, PICs perlu mengembangkan strategi keamanan maritim regional. Pertemuan PALM8 ini adalah peluang yang bagus.

Selain itu, Jepang juga tidak pernah berusaha untuk memonopoli pertemuan PALM. Jepang mengundang Amerika Serikat untuk berpartisipasi dalam PALM6. Tahun ini, Jepang juga mengundang Kaledonia Baru dan Polinesia Prancis agar juga menghadiri PALM untuk pertama kalinya.

Negara-negara dengan kepentingan strategis di Pasifik, seperti Australia, harus mengakui bahwa pertemuan-pertemuan PALM menunjukkan keterlibatan internasional yang konsisten, proaktif, dan langgeng dengan negara-negara PICs, dedikasi yang tidak berhasil ditiru oleh negara lain. Pelan tapi pasti, Jepang sudah menyalip negara lainnya di Pasifik. (The Strategist — blog The Australian Strategic Policy Institute)

Melissa Liberatore adalah staf peneliti di ASPI.

loading...

Sebelumnya

Petisi untuk dakwa PM Tonga dan enam menteri beredar

Selanjutnya

Kepulauan Solomon bahas masalah Papua

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34470x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23173x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19029x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15593x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe