Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kasus Vilikesa Soko coreng kepolisian Fiji
  • Minggu, 13 November 2016 — 18:18
  • 402x views

Kasus Vilikesa Soko coreng kepolisian Fiji

Terbunuhnya Vilikesa Soko di dalam sel tahanan pada tahun 2014 terus bergulir dan mencoreng nama kepolisian Fiji di dunia internasional.
Anggota kepolisian Fiji.--RNZI
RNZI
Editor : Lina Nursanty
LipSus
Features |
Selasa, 18 Desember 2018 | 16:32 WP
Features |
Senin, 17 Desember 2018 | 13:10 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Jubi | Portal Berita Tanah Papua No. 1,

Suva, Jubi – Terbunuhnya Vilikesa Soko di dalam sel tahanan pada tahun 2014 terus bergulir dan mencoreng nama kepolisian Fiji di dunia internasional.

Meski terkatung-katung, kepolisian telah menetapkan delapan anggota kepolisian dan satu anggota militer sebagai tersangka dan pengadilan telah mendakwa mereka. Mereka didakwa karena melakukan penyiksaan dan pelecehan seksual terhadap Vilikesa Soko hingga korban tewas dalam sel.

Vilikesa Soko (30) ditangkap polisi karena terlibat aksi pencurian di kota Nadi pada Agustus 2014. Ia tewas ketika menjalani perawatan di Rumah Sakit Lautoka setelah mendapat siksaan dan pelecehan seksual di dalam sel tahanan.

Selain Soko, korban lain bernama Senijeli Boila, juga mengalami hal serupa seperti Soko. Sejak itu, kasus Soko dan Boila menjadi perhatian publik baik di Fiji maupun dari dunia internasional tentang perilaku barbar anggota polisi Fiji.

Kedelapan anggota polisi yang menjadi pelaku kekerasan tersebut, yaitu Manasa Talala, Seruvi Caqusau, Kelevi Sewatu, Penaia Drauna, Filise Vere, Viliame Vereivalu, Jona Davonu dan Senitiki Natakasavu. Sementara, satu anggota militer yaitu Pita Matairavula merupakan mantan pengawal pribadi perdana menteri Frank Bainimarama.

Kasus kekerasan terhadap Soko dan Boila hampir menguap di Fiji andaikan masyarakat internasional tidak memberi tekanan kepada pemerintah Fiji untuk mengadili para pelaku. Hingga pada Februari 2015, Jaksa Agung Christopher Pryde mengumumkan bahwa sembilan orang tersebut yang terdiri dari delapan anggota polisi dan satu anggota militer bersalah dalam kasus tersebut.

Saat itu, Ben Groenewald selaku Kepala Kepolisian Fiji mempersilakan proses hukum berlanjut terhadap anak buahnya. Namun, beberapa bulan kemudian, Groenewald mengundurkan diri dan kembali ke Australia karena merasa frustrasi dengan militer yang saat itu dipimpin oleh Brigadir General Sitiveni Qiliho.

Di bawah tekanan internasional, akhirnya kasus ini terus bergulir. Jumat mendatang, pengadilan rencananya akan membacakan vonis hukuman bagi sembilan terdakwa. (*)

 

loading...

Sebelumnya

Kemenangan Trump buyarkan rencana transfer pengungsi

Selanjutnya

Mahkamah Agung Vanuatu tolak banding 14 anggota parlemen

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23515x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19193x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15652x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12721x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe