Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Polhukam
  3. Benny Giay : dua komisioner Panwaslu Paniai - Deiyai sandera masa depan orang Mee
  • Kamis, 05 Juli 2018 — 22:34
  • 3398x views

Benny Giay : dua komisioner Panwaslu Paniai - Deiyai sandera masa depan orang Mee

dua komisioner Panwaslu di Paniai dan Deiyai yang menyandang gelar Sarjana Teologia, bermain dengan dukung para calon bupati orang Mee yang tidak punya hati
Pdt. Benny Giay (kanan) dalam sebuah kesempatan – Jubi/Abeth You
Abeth You
Editor : Syam Terrajana
LipSus
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 08:58 WP
Features |
Senin, 10 Desember 2018 | 00:09 WP
Features |
Minggu, 09 Desember 2018 | 20:46 WP
Features |
Minggu, 09 Desember 2018 | 03:29 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi 

Nabire, Jubi – Ketua Sinode Kingmi Tanah Papua, Pdt. Benny Giay menegaskan, kehidupan suku Mee di Meuwo sedang disandera oleh elit-elit politik dan lembaga Panwaslu di Kabupaten Deiyai dan Paniai yang sedang dibiarkan ‘bermain di ruang bebas’.

Giay menyatakan, dirinya terganggu ketika mendengar dua komisioner Panwaslu di Paniai dan Deiyai yang menyandang gelar Sarjana Teologia, bermain dengan dukung para calon bupati orang Mee yang tidak punya hati (nurani) untuk memajukan orang Mee, agaŕ ke depan mereka bisa bersaing dengan masyarakat adat dan etnis lainnya dari Indonsia dalam segala bidang.

“Yang kami maksud ialah dukungan yang sedang diberikan ketua Panwas Deiyai Pdt. Yulianus Takimai, kepada bupati petahana, Dance Takimai yang mencalonkan diri dan Bupati Isaias Douw yang mencalonkan anaknya. Juga anggota Panwaslu Paniai, Yaved Pigai, S.Th yang mendukung calon petahana, Hengky Kayame. Ketiga calon bupati ini menghabiskan dana yang mereka rampok selama mereka menjabat sebagai bupati,” ungkap Pdt. Benny Giay kepada Jubi melalui selularnya, Kamis, (5/7/2018).

Pria yang juga dikenal sebagai aktivis dan antropolog  ini mengatakan, calon petahana Deiyai selama lima tahun tahun berkuasa, menurut masyarakat Deiyai, hanya masuk paling banyak 30 hari. Selama lima tahun lebih banyak tinggal Nabire, Jayapura atau Jakarta untuk urusan pribadi. Sementara kesehatan dan pendidikan masyarakat tidak dipikirkan. Pada 2017 lalu, antara April - Juli ada sekitar 100 anak Tigi Barat meninggal dunia, kepala Dinas Kesehatan Deiyai tidak ada di tempat

“Ini dosa yang harus dipikul bersama Pdt. Yulianus Takimai. Dance Takimai dapat suara sampai ribuan dalam pemilihan tanggal 27 Juli lalu? Dia pergi beli-beli suara dengan uang-uang pembangunan yang dia sudah rampok dari masyarakat selama lima tahun lalu,” katanya.

Ia menegaskan, calon Bupati Deiyai,Inarius Douw yang dicalonkan oleh ayahnya, Isaias Douw selaku bupati Nabire. Menurutnya, masyarakat Deiyai pintar karena sudah kenal orientasi dan wataknya. Pembangunan kata dia, khusus dalam bidang kesehatan dan pendidikan, sama sekali tidak dirasakan di Nabire, bahkan di pinggiran kota.

“Kata masyarakat, rampok uang pembangunan untuk kepentingan anak dan istrinya jadi DPRD, Bupati di Meuwo supaya ke depan mereka juga rampok uang-uang dari kabupaten-kabupaten itu untuk dukung dia menuju Gubernur Provinsi Papua Tengah. Buktinya Bupati Isaias sudah angkat salah satu anaknya jadi Ketua DPRD Nabire,” kata pria yang meraih gelar doktor sosial antropologi dari Universitas Free Amsterdam ini

“Setelah anaknya Rius jadi Bupati Deiyai dengan bantuan dari Pdt Yulianus Takimai selaku ketua Panwas Deiyai, program lanjutan dari Isaias ialah tempatkan istrinya jadi Bupati Nabire yang kemudian akan bekerja sama dengan anaknya, seperti bupati Deiyai, Dogiyai, Nabire dan Paniai untuk gunakan semua uang rakyat untuk bayar Jakarta agar percepatan pemekaran Provinsi Papua Tengah dan mengangkat Isaias Douw sebagai Gubernur Papua Tengah,” tuturnya.

Untuk Hengki Kayame, calon petahana Paniai, kata Giay, janji lepas garuda dari dadanya aat empat siswa SMA yang tak berdosa itu dibaringkan di lapangan Karel Gobay Enarotali setelah ditembak mati masih ingat jelas.

“Calon Bupati Paniai, Hengki Kayame juga maju kembali atas hasil rampokan uang masyarakat dan hak-hal ASN yang dirampok selama ini. Nah, inilah bupati-bupati terkutuk yang didukung oleh Pdt Yulianus Takimai dan Yaved Pigai, sarjana teologia. Kamu dua, hamba Tuhan yang dibutakan uang hasil rampokan para Bupati tadi,” katanya marah.

Ketua DPRD Kabupaten Paniai, Herman Adii mengatakan, dengan memperhatikan permainan para bupati orang Mee dengan watak yang kampungan ini, pihaknya bertanya di mana posisi generasi muda masyarakat Meuwo ke depan dalam konteks pergaulan orang Meuwo dengan masyarakat, wilayah dan para pendatang lainnya di tanah ini, apabila tidak ada kesadaran untuk hentikan elit orang Mee yang berjiwa kerdil ini, tetapi punya kekuasaan dan modal yang tak terbatas demikian.

“Karena sepak terjangnya itu menggenapi misi negara untuk habiskan orang asli Papua. Indonesia pinjam tangan kaki pikiran Papua yang bodoh untuk habiskan orang Papua. Jadi, saya mau katakan bahwa kinerja Panwas di Paniai patut dipertanyakan sehingga kacau begini,” katanya.(*)

 

loading...

Sebelumnya

Peradi Papua: PKPU Nomor 20 langkah maju

Selanjutnya

Pesan legislator untuk KPU Papua yang baru

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 32534x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 14439x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 13188x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe