Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Migrasi dan relokasi paksa akibat perubahan iklim jadi topik sensitif 
  • Sabtu, 14 Juli 2018 — 13:34
  • 595x views

Migrasi dan relokasi paksa akibat perubahan iklim jadi topik sensitif 

Asosiasi LSM di kawasan Kepulauan Pasifik (PIANGO) menyelenggarakan konferensi koalisi para pemimpin Pasifik di Tahiti minggu ini untuk membahas solusi migrasi dan perpindahan yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Direktur PIANGO, Emele Duituturaga - RNZI
Admin Jubi
Editor : Zely Ariane

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Tahiti, Jubi - Asosiasi LSM di kawasan Kepulauan Pasifik (PIANGO) menyelenggarakan konferensi koalisi para pemimpin Pasifik di Tahiti minggu ini untuk membahas solusi migrasi dan perpindahan yang disebabkan oleh perubahan iklim.

Memuji para pemimpin Kepulauan Pasifik karena berbagai upaya mereka yang berkelanjutan terkait persoalan ini, Direktur PIANGO, Emele Duituturaga, mengatakan bahwa masalah ini memengaruhi setiap orang di Pasifik dan, oleh karena itu, memerlukan upaya bersama oleh semua orang.

Duituturaga mengatakan masyarakat sipil juga mengakui bahwa perubahan iklim adalah salah satu tantangan paling mendesak yang dihadapi planet ini, yang berdampak pada kemampuan manusia mewujudkan HAM dan pembangunan berkelanjutan untuk generasi saat ini dan masa depan, dan bahwa kelompok sipil akan terus mengajukan pertanyaan yang sama.

Dia menegaskan bahwa semua penduduk Kepulauan Pasifik menanggung beban terbesar dan terberat dari bencana perubahan iklim yang ‘bukan kami ciptakan’.

“Hubungan antara perubahan iklim dan migrasi belum banyak dibicarakan di Pasifik, mungkin karena ini adalah subjek yang tidak nyaman, tetapi ada sebagian dari kita yang ingin memulai diskusi ini, dan pemerintah-pemerintah kita perlu mempertimbangkan dan menerima bahwa migrasi akibat dari atau terkait perubahan iklim sudah mulai terjadi.

“Migrasi yang disebabkan oleh perubahan iklim mengacu pada orang-orang yang harus meninggalkan rumah mereka sebagai akibat dari dampak iklim. Relokasi paksa mungkin adalah kata yang lebih jelas untuk mengacu pada tantangan ini," ujarnya. 

Menyinggung dampak sejumlah kejadian siklon yang menyerang dan meluluhlantakkan Fiji dan kawasan Pasifik, Duituturaga menyatakan “trauma masih dirasakan dan kehidupan masih sulit bagi banyak orang (di Fiji), ribuan diantaranya harus bertahan hidup di gubuk-gubuk dan tenda. Sampai sekarang masih ada keluarga-keluarga yang masih tinggal di bawah tenda terpal.” (*)

loading...

Sebelumnya

Kaledonia Baru jadi isu dekolonisasi di era modern  

Selanjutnya

Situasi krisis pengungsi Ambae di Maewo pengaruhi kesehatan mental anak-anak 

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34071x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19184x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 17678x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe