Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Mimpi globalisasi Samoa berujung pada keputus-asaan
  • Jumat, 10 Agustus 2018 — 05:52
  • 362x views

Mimpi globalisasi Samoa berujung pada keputus-asaan

Dan sejak Samoa resmi menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), perbatasan kita terbuka kepada bermacam-macam produk dari seluruh belahan dunia yang perlu kita khawatirkan.
Samoa resmi menjadi anggota WTO sejak 10 Mei 2012. - WTO
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Mata'afa Keni Lesa

Globalisasi adalah suatu realitas dan Samoa pun tidak kebal dari dampaknya, baik positif maupun negatif. Dampak positifnya adalah bahwa dunia seolah telah menciut menjadi suatu desa global, masuknya teknologi dan inovasi telah membuat hal-hal tertentu menjadi semakin mudah.

Namun, di mana pun sesuatu yang baik itu berada, ia selalu ditemani juga dengan sesuatu yang buruk.

Sekarang, jika kita berbicara tentang globalisasi, kita tidak hanya berbicara mengenai kemajuan teknologi. Globalisasi juga melibatkan pergerakan orang, perdagangan, dan sejenisnya. Jika harus disempitkan, bisa dikatakan bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini adalah perdagangan.

Dan sejak Samoa resmi menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), perbatasan kita terbuka kepada bermacam-macam produk dari seluruh belahan dunia yang perlu kita khawatirkan.

Ketika gagasan mengenai Samoa bergabung sebagai anggota WTO pertama kali diusulkan, ide itu langsung disambut dengan reaksi pesimis yang kuat. Penolakan itu sebagian besar didasarkan oleh kekhawatiran bahwa ekonomi seperti Samoa - yang paling tidak berkembang - tidak dapat bergelut pada tingkat yang sama dengan negara lainnya, apalagi dengan kekuatan super seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa, dan lain-lain.

Sektor swasta, khususnya, sangat prihatin bahwa kepentingan industri lokal akan tenggelam akibat gelombang globalisasi.

Tapi seorang pria yang terus memimpin upaya masuk WTO pada saat itu adalah Menteri Perdagangan dan Industri, Hans Joachim Keil. Dia mengumandangkan pesan yang sederhana. Dia menegaskan “globalisasi adalah kenyataan dunia hari ini dan tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mengabaikannya”.

“Globalisasi terjadi karena hambatan dalam perdagangan tradisional (seperti pajak dan pembatasan kuota) telah berkurang secara drastis, menyediakan peluang kepada perusahaan-perusahaan untuk ekspansi ke pasar internasional.” Samoa resmi menjadi anggota WTO sejak 10 Mei 2012.

Bagaimana nasib Samoa sekarang?

Samoa hari-hari ini, usaha milik asing dan penjualan produk mereka yang lebih inferior, terus menjamur dan tidak dapat diabaikan. Menakutkan sekali melihat begitu banyak jenis produk, dengan label berbahasa asing yang tidak dapat kita mengerti.

Tetapi itu hanyalah satu dari sejumlah persoalan lainnya.

Ada juga masalah orang asing yang menyebabkan orang-orang kita sendiri untuk gulung tikar. Sudah berapa banyak toko-toko lokal yang kita lihat diambil alih oleh orang-orang Tiongkok dan orang asing lainnya dalam beberapa tahun terakhir?

Dan sementara hal ini telah terjadi, semakin banyak masyarakat kita yang terpaksa menjual roti daging panggang dan barbeque di pinggiran jalan.

Awal minggu ini, sebuah cerita di halaman depan koran ini mengangkat satu isu yang menarik, judulnya adalah "Rakyat diperingatkan tidak jadi muka untuk pendaftaran usaha milik asing”. Menurut laporan itu, Menteri Pendapatan, Tialavea Tionisio Hunt, mengungkapkan bahwa beberapa penduduk setempat ketahuan telah mengajukan izin perdagangan, untuk usaha yang dijalankan oleh orang asing.

“Hal ini ilegal dan kita telah mengirim beberapa petugas Kementerian Pendapatan untuk menyelidiki klaim ini,” kata Menteri Hunt.

“Masalahnya adalah rakyat kita sendiri. Mereka mengajukan permohonan seolah-olah mereka yang akan menjalankan usaha itu, namun kita menemukan ada oknum-oknum asal Tionghoa di ruang belakang yang memantau kamera dan mengawasi para pekerja.”

“Kami sudah menutup satu toko tahun lalu, ketika kantor kita memperoleh bukti kuat, untuk menunjukkan bahwa beberapa warga asing asal Tiongkok yang membiayai usaha itu, tapi izin usaha itu di bawah nama orang lain.”

Yah, sepertinya Menteri Hunt dan timnya harus berusaha lebih keras dalam upaya mereka. Melihat jumlah toko-toko milik asing hari ini, peraturan itu seperti diinjak-injak di depan mata kita.

Kalau dipikir-pikir, kita menjadi ragu, apakah masalah-masalah ini telah diperhitungkan sebagai bagian dari rencana awal, ketika pemerintah kita merangkul globalisasi dan pengaturan WTO? Apakah ada yang pernah curiga hal ini akan terjadi? Dan sekarang, ketika hal-hal ini sudah terjadi, apakah ada yang bisa menawarkan solusi?

Kekhawatirannya adalah semakin banyak masyarakat lokal sadar bahwa, jika mereka tidak segera melakukan sesuatu, mereka tidak akan memiliki apa-apa lagi.

Jika ada yang meminta pendapat kami yang rendah hati, kami yakin solusinya kembali kepada apa yang sudah kami katakan selama ini, bahwa pemerintah harus menginvestasikan dana untuk mendorong rakyat agar mengembangkan industri pertanian dan perkebunan.

Dengan tanah luas yang subur di Samoa, bayangkan jika ada jutaan tala (mata uang Samoa) tersedia bagi petani lokal, sehingga mereka mampu mendanai berbagai proyek untuk membudidayakan lahan mereka.

Selain itu, pemerintah harus berinvestasi dalam membangun pabrik-pabrik di mana produk pertanian kita, buah-buahan, mangga, pepaya, lemon, dan lain-lainnya yang tumbuh di atas tanah kita, bisa dikalengkan dan diekspor.

Dengan cara seperti itu lapangan pekerjaan bisa diciptakan, orang-orang akan memiliki uang di kantong mereka, dan ekonomi pun bergerak. Yang paling penting, ada fokus yang kuat terhadap ekspor yang mendatangkan pemasukan ke dompet negara.

Kekhawatiran tentang Samoa adalah bahwa karena tidak ada basis ekspor yang kuat, pemerintah akan terus bergantung pada usaha asing dan investor untuk menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya sendiri. Nah, hal ini sebenarnya tidak apa-apa, tetapi ia datang dengan harga yang lumayan mahal. Usaha-usaha asing ini akan memperkenalkan peraturan dan ketetapan di negara asal mereka, serta memaksakan kehendak mereka di Samoa, karena ujung-ujungnya, pengemis tidak dapat pilih-pilih.

Dan ketika masyarakat semakin putus asa, mereka tidak akan memiliki pilihan lainnya selain mengikuti kehendak usaha asing untuk bertahan hidup - bahkan jika ini memaksakan mereka untuk berbohong kepada Kementerian Pendapatan, tentang memiliki usaha tersebut. (Samoa Observer 3/8/2018)

 

Mata’afa Keni Lesa adalah seorang editor untuk Samoa Observer.

loading...

Sebelumnya

Pulau tetangga Ambae ini alami kelangkaan air bersih

Selanjutnya

Video viral kebrutalan polisi PNG bukti masalah mendalam

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23295x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19070x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15611x views
Meepago |— Rabu, 12 Desember 2018 WP | 12604x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe