Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Features
  3. DXH Crew, kritik lewat lirik (2)
  • Sabtu, 11 Agustus 2018 — 01:26
  • 1271x views

DXH Crew, kritik lewat lirik (2)

“Lagu Mutiara, juga bercerita soal hutan sagu, dan kekayaan alam Papua yang mulai hilang. Saya terinspirasi dari status di media sosial seorang senior kami di Papua. Ia cukup kritis.”
Tiga personel DXH Crew, Jow Ariesto Rumbrar (kiri), Onesias Urbinas (tengah), Rocky Haumahu (kanan), di studio rekaman mereka. - Jubi/Kristianto Galuwo
Galuwo
Editor : Admin Jubi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

SWETER hitam bergambar Pulau Papua bercorak Bintang Kejora, membalut tubuh pria tambun bernama Onesias Urbinas. Di punggung sweter, tertulis One People, One Soul masih dengan corak yang sama berwarna merah, biru, dan putih.

Pria bernama panggung Epo ini, salah satu personel DXH Crew, grup hip-hop di Kota Jayapura. Saat ditemui di rumah kontrakannya sekaligus studio rekaman, di Polimak 2 Karang, Kota Jayapura, Senin (2/7/2018), Epo tengah bersama dua orang temannya, Rocky Haumahu, 26, dan Jow Ariesto Rumbrar, 26, yang juga personel DXH Crew.

“Kami dibentuk sejak 16 April 2011. Awalnya kami beranggotakan lebih dari sepuluh orang. Tapi karena kesibukan masing-masing yang aktif sekarang tinggal kami berenam. Jadi masih ada tiga anggota lagi yakni Jordan Karelau, Krestensen Watopa, dan Alexander Wanggai,” kata pria berusia 26 itu, sembari mengatur posisi snapback bertuliskan West Papua, yang bertengger di kepalanya.

Epo berkisah, awal perkenalannya dengan musik hip-hop ketika ia masih di sekolah menengah pertama, pada medio 2005. Saat itu, kupingnya terasa nyaman ketika mendengar irama lagu grup NEO, salah satu grup rap yang tenar di Jakarta sejak tahun 1990-an itu. “Lagu-lagu Eminem juga sedang hits kala itu.”

Seiring waktu, ia dan kawan-kawannya mulai terpengaruh penyanyi hip-hop atau para rapper Afro-Amerika, seperti N.W.A, Nas, Jay-Z, dan Snoop Doog. Epo mengaku, darah ras Melanesia yang mengalir di tubuhnya, membuat ia tertarik dengan rapper berkulit hitam di Amerika.

“Bapa sa (saya) dari Biak, sementara Mama sa dari Palu. Di Papua, selain reggae, hip-hop juga digemari anak-anak muda. Dan rata-rata idola kami musisi-musisi hip-hop kulit hitam di Amerika.”

Selama berkarya, DXH Crew telah melahirkan seratus lebih lagu. Akan tetapi, saat ini mereka hanya menyeleksi beberapa single, yang kemudian mereka buat video klipnya dan diunggah di Youtube.

“Dalam lirik, kami sering memakai bahasa lokal, misal ko (kau) dan sa (saya). Beberapa lagu kami bisa ditonton di Youtube,” kata pria yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik, Universitas Pandanaran, Semarang. Pada 2015, Epo memilih cuti panjang dan kembali ke Papua.

Epo selain mencipta lagu untuk DXH Crew, ia belum lama ini mencipta single berjudul Mutiara, yang dinyanyikan oleh Shesnie R.E.P, dan video klipnya berisi tari kontemporer dari penari asal Papua, Abugrey, yang kini bermukim di Jakarta. Lagu Mutiara bergenre etnik dan hanya diiringi ketukan tifa. Liriknya mengkritisi soal eksploitasi sumber daya alam di Papua.

“Lagu Mutiara, juga bercerita soal hutan sagu, dan kekayaan alam Papua yang mulai hilang. Saya terinspirasi dari status di media sosial seorang senior kami di Papua. Ia cukup kritis.”

Sebagai bentuk penghargaan untuk para rapper di Papua dan Papua barat, Epo baru-baru ini menginisiasi Black Kasuari Papuan Awards 2018.

“Ini baru kali pertama dihelat. Kami sedang mengumpulkan data, dan akan menyeleksinya. Semoga ini menjadi wadah agar para rapper di tanah Papua bisa terus berkarya.”

Tahun depan, kata salah satu personel DXH Crew, Jow Ariesto Rumbrar, mereka akan merilis album perdana bertajuk Bintang Kejorap. Sebagian materi lagu di album tersebut berisi kritik sosial.

“Medium kita untuk mengkritik ada banyak. Salah satunya dalam musik. Kami tak bisa menutup mata, bahwa di Papua ada banyak terjadi kasus pelanggaran HAM yang belum tuntas,” kata Jow, yang juga sempat berkuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, dan juga memilih cuti panjang sejak 2016.

Jow mengatakan, di Papua dan Papua barat, ada ratusan grup dan penyanyi hip-hop. Akan tetapi, hanya segelintir saja yang lirik-liriknya berisi kritik sosial.

“Kebanyakan hanya main diss sesama rapper. Dissing memang biasa di hip-hop, itu juga untuk melatih mental adik-adik. Tapi dissing tak hanya soal hujat menghujat, yang terpenting adalah seberapa kaya perbendaharaan kata para rapper. Untuk itulah, di beberapa ajang perlombaan, kami sering memasukkan kategori kritik sosial.”

Sekarang ini, DXH Crew mengampu beberapa grup hip-hop di Jayapura, di antaranya 09 Project, Area 22, dan grup rapper yang semuanya perempuan bernama Permen R.E.P.

“Di era serba digital ini, cukup membantu kami untuk mempromosikan lagu. Apalagi sejak ada Youtube. Kami lebih mudah melempar single terbaru.” (Bersambung)

loading...

Sebelumnya

Tambang ilegal di Korowai ditutup, helikopter disegel

Selanjutnya

Anak dibawah umur jadi supir angkot, warga khawatir keselamatan berkendara

Simak Juga

Terkini

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34241x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 21966x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18456x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe