Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Opinitorial
  3. Pembunuhan yang berulang
  • Rabu, 19 September 2018 — 06:36
  • 1524x views

Pembunuhan yang berulang

Menurut Setara Institute for Democracy and Peace, hal itu terjadi karena masyarakat Papua masih dianggap musuh oleh pemerintah. Akibatnya angka pelanggaran HAM di Papua meningkat.
Korban Yudas Gebze yang diduga dianiaya sejumlah oknum aparat keamanan di rumah duka – Jubi/ Frans L Kobun
Angela Flassy
Editor :

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

November 2017 lalu,  Izak, seorang warga di kampung Woner, distrik Kimaam, kabupaten Merauke tewas setelah dianiaya oknum anggota TNI Yalet yang bertugas di Kampung Woner. Izak dalam keadaan mabuk memrotes kepala kampung Woner yang tidak transparan mengelola dana desa selama tiga tahun terakhir. Nilainya mencapai miliaran rupiah. Oknum anggota TNI Walet lalu menangkapnya, membawa ke pos Yalet dan dipukul berulang kali. Setelah itu baru diantar ke Polsek Kimaam. Dan tewas di sana.

Sebelumnya, 14 September 2016, seorang pemuda di Wanam Wogikel, Distrik Ilwayab-Merauke, Melky Balagaize (19 tahun) dipukul dan ditembak oleh dua orang oknum Polisi Air dan Udara (Polairud/Polair) yang diduga dalam keadaan mabuk. Saat itu Melky hendak mengembalikan parang milik temannya.

Kini pada pertengahan 14 September 2018, kejadian yang mirip juga terjadi. Oknum aparat keamanan melakukan kekerasan kepada OAP, tapi kali ini terhadap Yudas Gebze, warga Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, juga di Kabupaten Merauke. Yudas adalah seorang DPO yang seharusnya memiliki hak untuk diperiksa, menjalani peradilan lalu dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Negara Indonesia. Namun ia tak mendaptkan haknya, Yudas kehilangan nyawa saat proses penangkapan.

Setiap kali ada penangkapan, tentu akan meningkatkan rasa antipati masyarakat asli kepada aparat keamanan.Setiap kali terjadi penembakan dan pembunuhan, Orang Papua memohon Pemerintah Provinsi Papua untuk menarik keluar aparat keamanan yang nyaris ada disetiap distrik. Namun tak terjadi.

Menurut Setara Institute for Democracy and Peace, hal itu terjadi karena masyarakat Papua masih dianggap musuh oleh pemerintah. Akibatnya angka pelanggaran HAM di Papua meningkat.

Setara merekomendasikan agar ada langkah pendekatan langsung dari pemerintah pusat kepada masyarakat Papua. Jika tidak, rasa nasionalisme masyarakat Papua terhadap Indonesia terus berkurang.(*)

loading...

Sebelumnya

Ekologi dan dunia yang berubah (2)

Selanjutnya

Perdamaian harus diperjuangkan

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34428x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23059x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18984x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe