Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Ekonomi
  3. Menjawab keluhan di Pasar Pharaa
  • Kamis, 20 September 2018 — 10:46
  • 845x views

Menjawab keluhan di Pasar Pharaa

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jayapura menata dua pasar, yakni Pasar (sentral) Pharaa Sentani dan Pasar (rakyat) Doyo Baru, serta menertibkan pasar-pasar liar. Kebijakan itu sebagai jawaban kerugian yang dialami pedagang karena pasar sepi.
Jully Alua berjualan di Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura - Jubi/Yance Wenda
Yance Wenda
Editor : Syofiardi

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

JULLY ALUA, perempuan 39 tahun asal Lembah Baliem, sudah berdagang sayur di Pasar Pharaa Sentani, Kabupaten Jayapura sejak enam tahun silam. Banyak hal yang dialami ibu dua anak tersebut ketika gedung baru pasar mulai difungsikan.

“Pertama sekali kami masuk bangunan baru, sepi sekali pembeli, sampai modal putus-putus, kalau modal satu hari keluar Rp 1 juta itu putus, paling baliknya hanya Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu, yang ada itu kerugian terus,” ujarnya kepada Jubi di Pasar Pharaa, Selasa, 18 September 2018.

Kondisi seperti itu, kata Jully, terjadi cukup lama, bahkan sampai enam-tujuh bulan. Kebanyakan pedagang mengambil tempat, lalu ditinggalkan, dan pergi pindah berjualan di tempat lain yang lebih ramai.

“Pernah saya punya jualan kering, jadi saya kasih orang untuk makanan babi,” katanya.

Meski pembeli waktu itu tidak seramai sekarang dan pendapatan sedikit, namun Alua tetap bertahan untuk mengadu nasibnya.

“Dari waktu pasar terbakar, sepi sekali, tapi penjual yang di pasar lama mulai masuk ke gedung baru ini, semakin lama semakin ramai, pembeli mulai ramai pada Maret 2017,” ujarnya.

Namun pendapatan lebih tetap pada hari-hari besar seperti Natal, Lebaran, dan tahun baru. Kemudian setelah ditutupnya ‘pasar-pasar kaget’ di pinggir jalan, cukup membantu pendapatan pedagang di Pasar Pharaa Sentani.

“Sekarang ini kan sudah mulai ditutup pasar-pasar kecil, kepala dinas dia kerja sangat baik sekali, jadi kita bisa bernapas lega sedikit, untuk biaya anak sekolah dan kebutuhan rumah, dalam satu hari sekarang sudah bisa simpan Rp 200 ribu,” katanya.

Untuk berjualan sayur, tomat, bawang, rica, dan lainnya, dengan modal Rp 2 juta, biasanya Alua bisa menghasilkan sedikitnya Rp 2,3 juta. Jika ramai dalam sehari ia bisa beruntung Rp 1 juta. Jika pendapatan stabil ia bisa menabung sebulan Rp 5 juta sampai Rp 6 juta.

“Yang penting pakai sedikit dan yang lain simpan untuk masa depan anak-anak, apalagi per bulan ini biaya anak sekolah itu mahal,” katanya.

Sebagai pedagang ia berpikir bagaimana memutar uang dan mengembalikan modal. Selain itu sebagai seorang ibu ia juga berpikir bagaimana mendapatkan biaya untuk makan anak-anak di rumah dan biaya pendidikan mereka.

“Kalau modal putus itu satu-satunya jalan yaitu kredit di bank sebesar Rp 5 juta atau Rp 6 juta dan itu setorannya per hari Rp 50 ribu,” katanya.

Suami Alua telah meninggal dan ia hidup bersama kedua anaknya. Sebagai ibu dan sekaligus tumpuan keluarga ia harus bekerja keras dan mengatur keuangan untuk masa depan keluarganya.

“Saya ada beli mobil Star Wagon dan mobil itu beroprasi di Wamena, terus anak yang pertama kuliah di Malang dan yang kedua PAUD, terus saya beli tanah dengan ukuran 20 x 25 dengan harga Rp 30 juta dan bor air dengan biaya Rp 30 juta karena tidak ada air jadi,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jayapura, Yos Levie Yoku, mengatakan banyaknya pedagang tidak bertahan dan akhirnya keluar dari Pasar Pharaa karena pasar tersebut kurang tertata dengan baik dan kurang penerangan.

“Akibatnya, pedagang tidak bisa mendapatkan pembeli dengan baik dan akses kendaraan di pasar juga tidak tersedia sampai sore hingga malam hari,” katanya.

Pasar menjadi sepi karena pembeli beralih ke pasar eks di pinggir jalan, baik di Sosial, maupun pojok, pasar lama, dan di polres. Pembeli semakin malas datang ke Pasar Pharaa.

Padahal pedagang harus memutar modal dan mama-mama Papua yang membawa hasil bumi menjadi berpikir akan membawa pulang apa dari hasil jualan yang tidak laku.

“Siapa yang mau bertahan duduk berjualan dari pagi sampai sore kalau tidak ada pembeli, akhirnya mereka lari ke tempat yang ramai,” ujarnya.

Sesuai perintah Bupati Jayapura, Disperindag turun tangan mengatasi dengan menata Pasar Doyo Baru dan Pasar Pharaa yang merupakan pasar sentral di Kabupaten Jayapura.

“Kita menata satu orang satu tempat jualan dan silakan mereka mau jualan dari pagi sampai sore, konsekuensinya kami harus siapkan penerangan, MCK, dan mengatur arus lalu lintas, serta mengimbau melalui media-media resmi,” katanya.

Yoku menjelaskan pada 2016 telah digabung kedua Unit Pelaksana Teknis pasar ke Dinas, sehingga kebijakan yang ia lakukan sesuai kewenangan dan aturan.

“Dengan begitu, suka tidak suka perangkat yang ada di bawah saya harus mendukung, setiap kali saya ke pasar, saya akan ke kantor pasar dulu walaupun UPT-nya sudah tidak ada, tapi saya harus berkoordinasi dengan mereka karena mereka yang bertangung jawab sebagai pengelola pasar,” ujarnya.

Ia menjelaskan dalam menertibkan Pasar Doyo Baru dan Pasar Sentral Pharaa Sentani, ia tidak melakukanya sendiri, melainkan bekerja sama dengan masyarakat.

“Kami libatkan pemerintah, pemilik tanah sebagai hak ulayat, kami duduk bersama lebih dulu, kita evaluasi langkah apa yang harus kami ambil dan tinggal pasar lama yang nanti akan kami lakukan pada Jumat,” katanya.

Ia berharap dengan penertiban dan pengaturan kedua pasar akan menguntungkan pedagang sehingga mereka mendapatkan uang yang cukup untuk kebutuhan mereka. (*)

loading...

Sebelumnya

Kebutuhan daging untuk PON Papua akan dipasok dari PNG

Selanjutnya

Inilah komoditas penyumbang inflasi di Kota Jayapura

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34466x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23163x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19026x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15591x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe