Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. GPAI berdayakan mama-mama Papua
  • Jumat, 21 September 2018 — 06:05
  • 1148x views

GPAI berdayakan mama-mama Papua

“Memang lebih banyak bahan yang digunakan adalah kulit gaharu. Setiap hari pekerjaan tersebut digeluti. Hanya persoalannya adalah pemasaran keluar belum dilakukan,” katanya.
Caption: Sejumlah noken karya mama-mama Papua yang dipamerkan saat Kongres Nasional IV GPAI di halaman Bela Fiesta. – Jubi/Frans L Kobun
Ans K
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi , 

BERBAGAI kegiatan dijalankan dalam Kongres Nasional IV Wanita Gereja Persekutuan Alkitab Indonesia (GPAI) yang dipusatkan di Kabupaten Merauke.
Salah satu kegiatan menarik adalah pameran hasil kerajinan tangan mama-mama Papua, mulai dari noken dari berbagai jenis ukuran, juga sejumlah makanan ringan lain.
Di dalam gedung Bela Fiesta, terdapat beberapa stan dibangun. Berbagai kalangan ikut menyambangi sejumlah stan. Tidak ketinggalan juga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Yohana Yembise mendatangi setiap stan dan membeli beberapa kerajinan tangan mama-mama Papua.
Mama Ambrosia Sumaggi, dari salah satu kampung di Kabupaten Mappi, Kamis 19 September 2018, mengaku senang dan bangga dengan diselenggarakannya Kongres GPAI. Karena momen tersebut bisa dimanfaatkan untuk memamerkan hasil kerajinan tangan berupa noken.
“Memang kami mendengar kalau noken sudah dijual ke mana-mana. Hanya selama ini kami kesulitan menjualnya,” katanya.

Dia mengaku, baru pertama kali membawa beberapa noken dari kampung halaman hasil kerjanya sendiri, untuk dipamerkan dalam kegiatan dimaksud.
Dikatakan, sudah lama ia menekuni pekerjaan tersebut. Hanya saja, dia kesulitan memasarkan keluar daerah. Selama ini belum ada pameran digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mappi, sehingga hasil kerajinan noken belum sempat dijual.
Untuk bahan pembuatan noken dari kulit kayu gaharu serta sirsak hutan. Bahan-bahan tersebut didapat dengan keluar masuk hutan. Setelah itu diambil kulitnya sekaligus dikeringkan. Itu pun tidak dijemur di panas matahari, tetapi dianginkan di emperan maupun di dalam rumah. Sehari kemudian, sudah bisa digunakan atau dimanfaatkan menganyam noken.
“Memang lebih banyak bahan yang digunakan adalah kulit gaharu. Setiap hari pekerjaan tersebut digeluti. Hanya persoalannya adalah pemasaran keluar belum dilakukan,” katanya.

Hal serupa disampaikan Martha Yensenem. Dalam sehari, kata dia, tiga sampai empat noken bisa dianyam. Untuk kualitasnya, tidak perlu diragukan lagi.
“Ada sejumlah mama di kampung kami menekuni pekerjaan tersebut dan menghasilkan noken dalam jumlah banyak. Hanya permasalahannya adalah pemasaran,” ujarnya.
“Saya berterimakasih kepada GPAI yang menyelenggarakan kongres tersebut. Sehingga hasil kerajinan tangan dari kampung dapat dibawa sekaligus dipasarkan,” katanya.
Untuk harga, lanjut dia, ukuran kecil Rp 150.000, sedang dan besar berkisar antara Rp 300.000-Rp 500.000. “Bagi kami entah dibeli atau tidak, asal kami bisa memamerkan sekaligus menunjukkan bahwa mama-mama Papua dari kampung, mempunyai kemampuan membuat noken berkualitas.”
Ditanya tingkat soal tingkat kesulitan menganyam noken, Martha mengaku tidak ada kesulitan berarti.
“Kalau bahan dasar seperti kulit gaharu, tidak sulit juga, karena masih bisa didapatkan di beberapa lokasi atau tempat di hutan,” ujarnya.
Ditambahkan, dalam sehari dirinya bisa menyulam 4 sampai 5 noken untuk berbagai jenis ukuran.
Ketua Panitia Kongres Nasional IV Wanita GPAI, Gerda Boseren mengaku, ada beberapa hasil kerajinan dari sejumlah daerah di Indonesia ikut dipamerkan.
Selama ini, jelas dia, mereka sangat rindu menampilkan hasil kerajinan. Sehingga bertepatan dengan kongres itu, masing-masing daerah diberikan kesempatan membawa hasil kerajinan agar dapat dipajang di beberapa stan yang disiapkan.
“Kami dari panitia menyiapkan dua stan. Tentunya ini adalah sesuatu yang positif. Karena di sini gereja ikut berperan mendorong jemaatnya, dalam menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk dijual.”
GPAI, kata dia, memberikan tugas dan tanggung jawab kepada pemerintah daerah di setiap kabupaten, agar terus merangsang dan memberikan dorongan kepada kaum perempuan, untuk mengembangkan usaha apa saja yang memiliki nilai jual, sekaligus menopang kehidupan keluarga.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Yohana Yembise mengapresiasi para perempuan Papua yang kreatif.
“Secara pribadi saya mengapresiasi dan berharap agar talenta yang dimiliki, terus dikembangkan dengan baik di waktu mendatang. Lalu diteruskan kepada generasi berikut, agar tidak hilang begitu saja.”
Dalam kesempatan itu, Menteri Yohana memberikan kesempatan kepada GPAI mengajukan proposal kepada kementeriannya, jika ada kegiatan dan usaha yang membutuhkan dukungan dana.
“Silakan rincikan berbagai kegiatan dalam proposal dan dikirim ke Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, agar dapat diperjuangkan untuk mendapatkan anggaran,” katanya. (*)

loading...

Sebelumnya

Perdamaian harus diperjuangkan

Selanjutnya

Sebanyak 98 KK nelayan Kampung Binyeri Biak Numfor butuh perahu fiber

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34425x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23055x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18983x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe