Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Mamta
  3. Menyapa Skouw Sae di batas negara
  • Minggu, 22 September 2018 — 17:25
  • 828x views

Menyapa Skouw Sae di batas negara

Kampung ini tepat di sisi kiri jalan lintas batas negara, sesaat sebelum Pos Lintas Batas Negara RI-PNG, di Skouw-Wutung. Menuju perbatasan RI-PNG dan Skouw Sae butuh sekitar satu jam lebih melintasi jalan beraspal, berkelok-kelok, dan dipagari pepohonan. Sedangkan jalan produksi menuju kampungnya dipagari pohon-pohon kelapa. Dari pusat Kota Jayapura melalui Koya--kampung trasmigran dan pusat administrasi Distrik Muara Tami, kampung ini tak mudah dijangkau.
Kawasan pantai Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura - Jubi/Timo Marten
Timoteus Marten
Editor :

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KANTOR atau balai kampungnya tidak dibuka. Begitu juga kantor-kantor lainnya. Sunyi. Hanya beberapa babi yang menyeberang jalan.

Ada juga dua bocah yang mengayuh sepedanya. Satu duduk pada bagian depan dan satu lainnya mengayuh sambil mengusap peluh. Dua anak ini mengelilingi kampung.

Disambut temannya, bocah perempuan, yang mengenakan kaus merah muda. Lalu mereka ramai-ramai mengitari tiang salib setinggi kira-kira dua meter.

Salib yang terbuat dari dua balok ini, tepatnya ditancap di pertigaan. Persis di depan kantor Balai Musyawarah Kampung, yang berjejer dengan pustu, posyandu lansia, dan kantor-kantor lainnya, serta gereja tua.

Itulah kondisi Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, ketika disambangi Jubi, Jumat siang, 14 September 2018.

“Kami hari ini libur,” kata salah seorang siswa kelas 2 SD, usai memarkir sepedanya, ketika ditemui Jubi.

Ia adalah siswa SD Yayasan Persekolahan Kristen Skouw Sae. Konon sekolah ini dibuka tahun 1970. Lima tahun kemudian, namanya diganti menjadi SD Inpres Skouw Sae. Di sekolah inilah mereka merajut mimpi-mimpinya.

Gayanya lincah. Mengayuh sepeda hingga ujung kampung. Lantas kembali dari balik pohon kelapa, di tepi jalan.

Beberapa langkah kaki dari pertigaan kampung, lautan luas bergemuruh. Ombak menyapu garis pantai, pasir cokelat, potongan kayu, botol plastic, dan sabut kelapa.

Sejauh mata memandang, di ujung timur pantai, beberapa anak sedang bermain dengan ombak yang ganas.

Sedangkan di sudut pantai, rerumputan hijau, bunga-bungaan, dan pohon kelapa menari ria. Tepatnya di depan sebuah rumah kolong berdinding papan dan beberapa pondok kecil yang belum kelar. Atau di belakang Bamuskan Skouw Sae.

Kampung ini tepat di sisi kiri jalan lintas batas negara, sesaat sebelum Pos Lintas Batas Negara RI-PNG, di Skouw-Wutung.

Menuju perbatasan RI-PNG dan Skouw Sae butuh sekitar satu jam lebih melintasi jalan beraspal, berkelok-kelok, dan dipagari pepohonan. Sedangkan jalan produksi menuju kampungnya dipagari pohon-pohon kelapa.

Dari pusat Kota Jayapura melalui Koya--kampung trasmigran dan pusat administrasi Distrik Muara Tami, kampung ini tak mudah dijangkau.

Menurut penelusuran Jubi, nama asli Skouw Sae bernama Temawo. Namun, pada zaman dahulu orang Skouw Sae dan Skouw Yambe menyebutnya dengan Mawome.

Orang Temawo ini datang dari selatan dan barat. Mereka tinggal di perkampungan sekitar Kali Papeda, yang dihuni suku Awe, Rollo, Ramaela, Tampato, dan Sae Pattipeme. Kelompok-kelompok suku ini lalu bergabung dan membentuk Kampung Skouw Sae. Ketika itu namanya Kampung Bare.

Tahun berlalu dan musim berganti, tibalah tahun 1914. Saat itu terang injil dibawakan oleh penginjil guru Agustinus Mahulette. Ditemani dua guru asal Tobati dan Enggros. Namamya Laurenz Mano dan Laurenz Hanasbey.

Era Pemerintahan Presiden Soeharto, tahun 1970, Batalyon 172 membangun pos TNI di sini. Praktis setelah setahun Kampung Mosso, kampung tetangga Skouw Sae, dibakar.

Tak disebutkan apakah yang dibangun itu pos TNI Angkatan Darat atau Laut. Tapi pada sebuah plang, di sisi kanan di bawah tiang salib Kampung Skouw Sae, tertulis "Pos TNI AL".

Ondoafi Kampung Skouw Sae, David Lomo, tak menyebutkan hal-ihwal sejarah kampung ini. Beliau beralasan, baru menjabat sebagai tetua adat sejak dua tahun lalu. Menurut dia, Skouw Sae bermakna "ini kampung saya".

“Artinya, ini sa pu kampung,” kata Lomo, sambil melihat-lihat ke langit rumahnya, yang berada di sisi kiri jalan masuk kampung.

Luas kampungnya tak lebih dari 53 kilometer persegi, dengan penduduk yang heterogen. Penduduk asli kini berbaur dengan pendatang, yang bekerja sebagai ASN, tenaga kesehatan, guru, dan tentara.

Menuju kampung ini juga bakal melewati jembatan Hamadi-Holtekamp. Lomo mengaku sangat senang jika jembatan yang dibangun Kemen-PUPR sejak tahun 2015 ini, dan rampung akhir 2018, digunakan.

Dengan begitu, mobilitas warga Skouw Sae dan kampung lainnya di Distrik Muara Tami lebih mudah. Mereka lebih mudah memasarkan hasil-hasil laut, kebun, dan hasil karya kreatifnya di pusat kota melalui jalan darat.

Begitu pun sebaliknya. Masyarakat di pusat kota lebih mudah jika berekreasi ke beberapa spot Distrik Muara Tami dan Kabupaten Keerom. Paling tidak, “selamat” dari kemacetan di Distrik Abepura.

Sayangnya Kampung Skouw Sae, terutama kawasan pantainya, belum ditata baik. Padahal saban tahun sekira Rp 4 miliar dana yang bersumber dari Alokasi Dana Desa dan Dana Desa dikucurkan. Tahun ini meningkat sekitar Rp 7 miliar.

Realisasi dana kampung tahap pertama sebesar 20 persen tahun anggaran 2018 sejumlah Rp 1,3 miliar lebih.

“Sudah dibangun pondok-pondok kecil di situ (kawasan pantai),” kata Lomo.

Tak hanya itu, masih ditemukan sampah-sampah di kawasan pantai. Terdiri atas botol-botol plastik, kaleng bekas, sabut kelapa dan potongan kayu.

Sampah seharusnya masih menjadi perhatian serius. Namun, warga setempat seolah tak bermasalah dengan kondisi tersebut.

“Jangan buang sampah di halaman Pasifik,” ujar salah seorang dari tim Jubi, Kristianto.

“Betul ini halaman Samudra Pasifik,” sambung kawannya, Hengky Yeimo.

Pendapat dua kawan ini beralasan, mengingat Kampung Skouw Sae tepat menghadap lautan Pasifik di sebelah utara kampung, dan Koya Timur di sisi selatan, plus Kampung Skouw Mabo di bagian barat dan Kali Tami di sebelah timur.

Kampung ini juga bakal menjadi kampung wisata meski belum seramai Pantai Holtekamp di Koya dan Pos PLBN di Skouw-Wutung.

Selain itu, Dinas Perdagangan, Industri, dan Koperasi Kota Jayapura menjadikan Kampung Skouw Sae sebagai kampung industri. Mama-mama bahkan dilatih. membuat kerajinan lidi, tepatnya piring lidi dan minyak kelapa dengan nama Virgin Coconut Oil. (*)

loading...

Sebelumnya

Pemanfaatan dana desa di empat kampung Kota Jayapura memuaskan

Selanjutnya

Ratusan pengusaha wanita ikut pelatihan digital marketing

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34425x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23054x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18983x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe