Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Pasifik
  3. Kedaulatan Vs Ketergantungan di Pasifik
  • Senin, 24 September 2018 — 09:27
  • 1067x views

Kedaulatan Vs Ketergantungan di Pasifik

Karena perasaan orang-orang tentang kemerdekaan itu sangat kuat.
Kepulauan Gilbert, Kiribati. - The Lowy Institute/Charly W. Karl/Flickr
Elisabeth Giay
Editor : Galuwo

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Bruce Hill

Setiap kali seorang pemimpin dari Kepulauan Pasifik bersikeras negaranya adalah negara yang independen, berdaulat, berdiri tegak dengan dua kakinya sendiri, dan tidak memerlukan bantuan atau saran dari pihak lain, itu umumnya berarti sebaliknya.

Presiden Baron Waqa dari Nauru menggunakan kata ‘independen’ dan ‘berdaulat’ dalam hampir setiap dua kalimat, selama menyelenggarakan Forum Kepulauan Pasifik (PIF) baru-baru ini, ketika konfrontasi dengan Tiongkok terjadi, dan ketika polisinya menahan jurnalis TVNZ, Barbara Dreaver, karena berbicara dengan seorang pengungsi.

Dreaver dibebaskan dan akreditasi media PIF-nya dikembalikan menyusul, menurut informasi yang saya dengar, tekanan diplomatik keras dari Wellington di belakang layar. Hal ini dengan sendiri menunjukkan bagaimana keseimbangan kekuatan bekerja di kawasan Pasifik.

Momen seperti itu seringkali menjadi tontonan yang kurang menyenangkan, menyaksikan seorang pemimpin merasakan pentingnya menekankan hal-hal ini, karena realitas yang pahit adalah meskipun banyak negara Pasifik, mampu menjalankan negaranya dengan baik-baik saja sebagai entitas independen, negara-negara lainnya menghadapi tantangan menakutkan yang menimbulkan pertanyaan tentang status mereka.

Contoh tantangan yang paling umum, negara-negara kepulauan yang kecil sangat rentan terhadap bencana alam. Satu siklon besar, tsunami, atau gempa bumi yang menimpa negara-negara seukuran Niue, Tokelau, atau Palau, dapat meruntuhkan ekonomi mereka dan mengirimkan mereka kembali ke garis awal pembangunan.

Namun, tantangan yang lebih serius adalah perpindahan populasi dari negara-negara kepulauan kecil, ke negara-negara metropolitan yang berada di dalam atau yang berbatasan dengan wilayah tersebut, seperti Australia, Selandia Baru dan Amerika Serikat.

Ketika kita memiliki sekitar 1.700 orang Niue di Niue, tetapi hampir 25.000 di Selandia Baru, di manakah pusat gravitasi bahasa dan budaya orang Niue? Demikian juga untuk Tokelau, dengan populasi kurang dari 1.500 orang di tiga atol itu sendiri, tetapi hampir lima kali jumlah itu menetap di Selandia Baru.

Situasi yang serupa dengan ini juga terjadi untuk Samoa, sementara beberapa tahun yang lalu Tonga melampaui tonggak penting dalam perjalanan ini, ketika jumlah populasi Tonga yang tinggal di luar negeri melewati jumlah mereka di dalam negara itu. Beberapa negara Pasifik lainnya juga tampaknya menuju ke arah ini. Beberapa pihak telah memprediksikan kemungkinan migrasi skala besar dalam beberapa dekade mendatang, dari bangsa-bangsa Melanesia ke Australia untuk menghindari tekanan populasi.

Sudah jelas bahwa Niue adalah contoh yang terlalu ekstrem, tetapi ketika semakin banyak orang dari negara tertentu tinggal dan bermigrasi ke negara lain, apakah tren ini tidak menimbulkan tanda tanya tentang status negara tersebut?

Masalahnya adalah, hampir tidak mungkin bagi kita untuk bisa membahas topik ini tanpa emosional dan menyentuh perasaan orang lain. Saya pernah berdiskusi dengan pejabat-pejabat dan politisi-politisi Selandia Baru di masa lalu tentang Niue. Mereka menyatakan bahwa kemerdekaan Niue itu sangat mahal dan memakan banyak uang, terutama merugikan uang warga pembayar pajak Selandia Baru, dan mungkin, sejujurnya, akan lebih murah untuk memasukkan Niue sebagai satu pemerintah lokal Selandia Baru, lalu memberikan beberapa dispensasi khusus untuk transportasi dan kepemilikan lahan.

Tetapi coba sarankan solusi itu kepada orang Niue asli, Anda sebaiknya berdiri jauh dari jangkauannya.

Tak seorang pun dari para pejabat Selandia Baru yang saya ajak diskusi, bersedia untuk menyampaikan ide tersebut kepada Pemerintah Niue. Mereka memberitahu kepada saya bahwa mereka akan menunggu sampai Niue menyadari itu sendiri, yang berarti dalam hal ini, saya menduga, mereka akan menunggu dengan sia-sia.

Karena perasaan orang-orang tentang kemerdekaan itu sangat kuat.

Saya sempat menghabiskan hampir tiga bulan di Irlandia baru-baru ini, dan walaupun beberapa orang Irlandia yang saya temui berpegang pada retorika standar tentang membenci Inggris, saya juga tidak bisa mengabaikan bahwa kebencian itu diimbangi oleh ketergantungan ekonomi mereka terhadap Inggris.

Ekspor terbesar Irlandia adalah orang-orangnya, dan hal ini sudah ada sejak lama. Fakta bahwa mereka cenderung bekerja dan merantau ke Inggris, tampaknya justru memperparah sejumlah sentimen anti-Inggris yang sudah ada sejak dulu. Hal ini menciptakan satu jenis hubungan dimana ‘saya (Irlandia) tidak menyukai kamu (Inggris), berikan uangmu kepada saya sekarang’.

Saya yakin banyak penduduk Kepulauan Pasifik yang mengerti hubungan seperti itu. Hal yang serupa mulai terjadi di wilayah ini. Sudah jelas, orang-orang terus berpindah di sekitar Pasifik, dan umumnya perpindahan ini ke arah Australia dan Selandia Baru.

Apakah mereka masih ingin mempertahankan identitas nasional mereka, dan menganggap diri sebagai ekspatriat yang akan kembali ke kampung masing-masing setelah pensiun? Mungkin mereka akan memilih, untuk sepenuhnya berasimilasi ke lingkungan yang baru, dan menjadi warga tetap di Selandia Baru dan Australia. Atau mungkin mereka akan berakulturasi dengan kebiasaan negara baru mereka, sambil tetap mempertahankan identitas budaya dan bahasa mereka?

Dan hubungan baru seperti apa yang bisa dikembangkan antara negara-negara kecil, seperti negara-negara Kepulauan Pasifik yang rentan, dengan kedua tetangga mereka yang jauh lebih besar, terutama ketika proporsi orang mereka yang tinggal di negara tetangga terus meningkat? Mungkinkah ada solusi ketiga di antara mencoba untuk mempertahankan kedaulatan penuh, dan ditelan karena ketergantungan?

Seperti apakah hubungan interdependen ini?

Saya tidak memiliki jawaban nyata, belum ada yang bisa menjawabnya. Tetapi, dengan negara-negara kecil seperti Kiribati berbicara tentang memindahkan seluruh negara mereka secara permanen akibat perubahan iklim, mungkin ini adalah jenis pertanyaan yang perlu ditanyakan mulai sekarang dan bukan nanti. (The Interpreter by Lowy Institute, 21/9/2018)

Bruce Hill adalah salah satu jurnalis senior Pasifik yang paling berpengalaman, setelah bergabung dengan Radio New Zealand International pada 1993, dan sejak 2000 dengan program ABC Beat di Melbourne. Dia sudah pernah meliput siklon, perang sipil, tsunami, kekerasan, dan masalah HAM di seluruh wilayah Kepulauan Pasifik selama 25 tahun sampai hari ini.

loading...

Sebelumnya

Pemerintah Solomon didesak hentikan RUU kontroversial

Selanjutnya

Menteri dipecat, politik Kepulauan Cook labil

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34466x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23165x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 19026x views
Lingkungan |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 15593x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe