Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Ekologi dan dunia yang berubah (3)
  • Rabu, 03 Oktober 2018 — 21:59
  • 1804x views

Ekologi dan dunia yang berubah (3)

Situasi yang sulit membuat mereka harus merespons perubahan tersebut dengan cepat. Menghasilkan uang dengan cepat menjadi janji yang menggiurkan yang ditawarkan oleh orang-orang yang bertujuan untuk mengeruk kekayaan alam mereka. 
Sakralitas ruang-ruang ekologi masyarakat lokal adalah salah satu cara mereka untuk bertahan di tengah arus perubahan sosial yang semakin deras - Jubi/Dok. Penulis
Admin Jubi
Editor : Timoteus Marten

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Oleh I Ngurah Suryawan

Orang Marori dan Kanum di Kabupaten Merauke saat ini menghadapi situasi dilematis menyangkut pengelolaan sumber daya alamnya. Kekayaan alam mereka di sekitar kampung, di wilayah-wilayah sakral dan pamali, terus menjadi incaran bukan hanya oleh perusahaan, melainkan juga oleh perusak lingkungan dengan menggunakan anak muda kampung sebagai kaki tangannya.

Situasi yang sulit membuat mereka harus merespons perubahan tersebut dengan cepat. Menghasilkan uang dengan cepat menjadi janji yang menggiurkan yang ditawarkan oleh orang-orang yang bertujuan untuk mengeruk kekayaan alam mereka. 

Perburuan liar dan sensor (pemotongan) kayu adalah dua aktivitas yang begitu lekat dengan keseharian masyarakat Marori dan Kanum. Kedua aktivitas ini mewarnai kehidupan di kampung-kampung di kawasan Taman Nasional Wasur, Kabupaten Merauke, Papua secara umum.

Penggerak aktivitas ini adalah para pengepul (pembeli) yang biasa mereka sebut berasal dari kota Merauke. Para pengepul ini didominasi oleh para pendatang yang akan dengan bersemangat berburu, mencari ikan, ataupun memotong kayu-kayu di wilayah kampung-kampung orang Marori dan Kanum.

Para pengepul ini juga bisa hanya membeli dari para anak buahnya yaitu anak muda ataupun warga di kampung-kampung yang sudah menjadi langganan mereka. 

Yunus Maiwa, salah seorang tetua orang Kanum di Kampung Toemrauw, mengungkapkan kisah menyedihkan yang terjadi di kampungnya. Kondisi kini yang terjadi adalah sungguh di luar dugaan.

Saat ini yang terjadi di wilayah orang Kanum, khususnya di Kampung Tomerauw adalah perburuan yang sudah mulai melebar ke berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah sakral dari beberapa marga. Perburuan dilakukan di daerah-daerah yang justru jauh dari kampung dan menjadi daerah pamali dan disakralkan oleh masyarakat Kanum di Kampung Tomerauw. 

Yunus Maiwa dengan lirih mengungkapkan: Sekarang perburuan ini melebar. Tidak ada tempat istirahat (dari perburuan). Binatang tidak tenang, lari-lari terus karena dikejar manusia yang berburu. Padahal sebenarnya binatang masih ada di wilayah tersebut.

Situasi tersebut sungguh sangat disayangkan oleh masyarakat Kanum di Kampung Tomerauw. Perburuan yang dilakukan oleh manusia menyebabkan binatang yang biasanya tenang dan mencari makanan hingga mendekati perkampungan, kini menjauh karena takut akan diburu.

Masyarakat meyakini bahwa binatang masih ada dan hidup berkembang biak dengan damai tanpa perburuan dari manusia. 

Marga Maiwa berupaya untuk menjaga keseimbangan alamnya, terutama untuk menjaga kekayaan sumber daya alam. Oleh sebab itulah mereka memberlakukan Sasi untuk membatasi sementara waktu perburuan terhadap hewan yang sudah terlanjur berkembang marak di wilayah orang Kanum.

Ritual sasi yang sering dilakukan adalah Sasi Adat. Dalam Sasi Adat ini yang disasi adalah tempat-tempat yang menjadi tempat hidup dari hewan yang akan di (kawasan) sasi. Lokasinya pun tidak terbatas dan membentang luas sesuai dengan perkiraan dari marga pemilik hak ulayat lokasi tersebut. 

Lokasi yang tidak terbatas ini mempertimbangkan jangkauan dan berhubungan dengan kepemilikan tanah ulayat yang menjadi lokasi sasi tersebut. Tujuannya pun sangat tegas yaitu agar tempat yang menjadi lokasi sasi tersebut tidak terganggu lagi dengan perburuan yang dilakukan oleh orang-orang dari luar orang Kanum maupun orang Kanum sendiri.

Sanksinya juga sangat tegas yaitu pembayaran denda berupa pohon Wati, babi, bahkan uang. Sanksi yang beragam ini juga adalah kesepakatan dari marga-marga yang melakukan sasi tersebut.

Begitu juga yang berlaku dengan waktu pelaksanaan yang juga disepakati oleh marga-marga yang melakukan sasi tersebut.

Perburuan liar dan tidak terkendali adalah alasan kuat lainnya untuk melaksanakan sasi. Situasi perburuan liar ini sangat memprihatinkan bagi orang Kanum, sehingga diperlukan langkah cepat untuk melakukan sasi.

Yunus Maiwa mengungkapkan bahwa perburuan hewan (kangguru, rusa, buaya, dan babi) dan ikan sudah menguasai semua tempat yang berada di wilayah orang Kanum. Masyarakat bukannya diam.

Mereka sudah berusaha untuk mencari pemburu-pemburu tersebut, namun mencarinya setengah mati. Tetap saja berlangsung tanpa henti perburuan tersebut sehingga mengancam keberadaan hewan-hewan yang berada di wilayah orang Kanum. 

Orang Kanum melakukan ritual sasi dengan memberi tanda di suatu tempat. Tandanya berupa potongan tiang dari kayu yang tahan lama. Biasanya digunakan kayu besi karena akan tahan bertahun-tahun.

Ini dilakukan karena pelaksanaan sasi bisa berlangsung lebih dari satu tahun sesuai dengan kebutuhan dan keputusan dari masing-masing marga pemilik hak ulayat tempat berlangsungnya sasi.

Potongan kayu tersebut kemudian diikat dengan alang-alang dan daun kelapa. Potongan kayu panjang tersebut kemudian ditancapkan di wilayah-wilayah yang diberlakukan sasi. Ada juga yang dipasang di pohon kelapa. Ciri dari sasi tersebut sesuai dengan kondisi wilayah yang akan disasi. Jika tanda tersebut sudah terpasang, bisa dipastikan bahwa tempat tersebut sedang disasi menurut adat dari orang Kanum. (*)

Penulis adalah antropolog dan dosen di Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat

loading...

Sebelumnya

Cegah demo, Pemkab Merauke harus buka ruang dialog

Selanjutnya

Menggarap potensi ekspor tuna Papua

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34426x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23057x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18984x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe