Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Seni & Budaya
  3. Kepak reggae di Bumi Cenderawasih (2)
  • Minggu, 14 Oktober 2018 — 12:30
  • 651x views

Kepak reggae di Bumi Cenderawasih (2)

"AB Radio dibentuk sekitar tahun 2000 atau 2001. Seingat saya jaraknya hanya beberapa bulan, kemudian De Sagoo menyusul dibentuk."
Personel AB Radio and De Sagoo bersama Komunitas Rasta Kribo (KORK) Papua. -Jubi/Kristianto Galuwo
Galuwo
Editor :

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi

DI TERAS sebuah rumah, tampak riuh sekelompok pemuda. Beberapa di antaranya menyandang alat-alat musik berupa perkusi dan gitar.

Mereka adalah dua grup band reggae yakni AB Radio dan De Sagoo. Selain itu, beberapa di antaranya adalah Komunitas Rasta Kribo (KORK) Papua. Sekitar pukul 9 malam, Senin (1/10/2018), Jubi menemui mereka di Waena, Kota Jayapura.

Salah seorang personel, Boi Erari (36) mengatakan, AB Radio and De Sagoo terdiri dari sepuluh personel yang rata-rata adalah Orang Asli Papua (OAP). Para personel itu di antaranya ia sendiri sebagai vokalis, Bernard Rumkorem dan Alfredo Suabei (bassist), John Seranik (gitaris), Heru Mansumbauw (drummer), Erick Mandosir (perkusi), Paplex (vokalis dan gitaris), Otis Tigi (gitar melodi), dan Donny Revassy (keyboardist).

"Erick Mandosir juga pernah di Tropico Rasta dulu. Cerita soal De Sagoo dan AB Radio ini, jadi sebenarnya kami ini satu. Dulu memang pisah. Tapi sekarang, setiap kali isi acara kami biasa dipanggil AB Radio and De Sagoo," jelasnya.

Menurut Boi, tahun dibentuknya kedua band ini pun hampir bersamaan. Meski AB Radio yang lebih awal terbentuk.

"AB Radio dibentuk sekitar tahun 2000 atau 2001. Seingat saya jaraknya hanya beberapa bulan, kemudian De Sagoo menyusul dibentuk."

Selama mengisi acara, kedua band ini sering membawakan lagu ciptaan, serta lagu-lagu dari musisi reggae luar dan dalam negeri. Tapi tak hanya itu, lagu-lagu daerah pun banyak mereka bawakan dengan nuansa reggae.

"Sebenarnya lagu-lagu daerah di Papua itu, beat-nya tidak jauh-jauh dengan reggae. Jadi ketika meng-cover-nya enak." kata Boi.

Banyak menurut dia lagu daerah yang bercerita tentang alam dan penciptanya, cinta kasih, dan budaya. Mereka pun sempat membuat lagu berisi kritik sosial, tapi hanya dibawakan di kalangan tertentu saja.

"Kalau lagu ciptaan, sudah sekitar lima puluhan lagu. Tapi kami seleksi sepuluh saja untuk persiapan membuat album nanti. Tema lagunya juga seputar itu, cinta kasih, budaya, dan alam. Yang sering kami bawakan single berjudul Welcome to Papua."

Rencananya, kata dia, album itu akan dirilis tahun depan yang akan diberi nama Lotus. Nama album Lotus terinspirasi dari kata teratai, sesuai nama kompleks tempat mereka biasa berkumpul, di Jalan Teratai 2, Perumnas 1, Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura.

"Nanti ada beberapa lagu yang memakai alat musik tradisional Papua seperti tifa, pikon, ukulele, dan tabura."

Sejak dibentuk tahun 2000, AB Radio and De Sagoo baru dua kali di luar kota, seperti Jakarta pada 2005 dan Manado pada 2009. Di Jayapura sendiri, mereka biasanya menghibur di beberapa kafe.

"Honor biasanya selain dibagi ke setiap personel, ada yang disisihkan untuk uang kas. Nanti uangnya dipakai buat maintenance alat."

Lain cerita disampaikan Ketua Komunitas Rasta Kribo (KORK), Thedy Pekei. Ia lebih banyak menyinggung soal kurangnya perhatian pemerintah terhadap para musisi di Papua.

"Harusnya di sini ada fasilitas seperti Taman Budaya atau Gedung Kesenian tempat kami berkarya. Kami berharap agar lokasi eks Expo Waena direvitalisasi menjadi Taman Budaya. Seperti Taman Ismail Marzuki di Jakarta."

Ia mengaku, pemerintah termasuk Dewan Kesenian Tanah Papua, kurang mengakomodir para musisi dan seniman di Papua.

"Papua ada tiga ratus lebih suku. Semuanya memiliki seni dan budaya berbeda-beda. Maka harus ada wadah untuk menampung semua ini."

KORK sendiri yang dibentuk sejak 2009 ini, menginisiasi Papua Reggae Festival agar semua musisi reggae se-Tanah Papua bisa menyalurkan minat dan bakat di sana. Festival ini digelar setiap Oktober dan baru yang kedua kalinya.

"Nanti ada kompetisi band reggae pada 16 sampai 17 Oktober 2018 di PTC Entrop, Kota Jayapura. Yang lolos dalam kompetisi akan tampil pada acara puncak Papua Reggae Festival 19 sampai 20 Oktober 2018, di tempat yang sama."

Penggalangan dana untuk kegiatan tersebut, kata dia, sudah digelar di Pantai Hamadi, Jumat (21/9/2018). Ada sekitar 14 musisi yang hadir malam itu.

"Tahun kemarin sempat disponsori Gubernur Papua Lukas Enembe. Tapi tahun ini, kami menggalang dana dengan menggelar konser. Semua band tampil sukarela."

Namun, meski sibuk dengan penggalangan dana festival, mereka tak lupa dengan bencana gempa dan tsunami yang menimpa Palu, Donggala, dan Sigi, di Sulawesi Tengah. Dalam waktu dekat, mereka menginisiasi acara penggalangan dana untuk bantuan kepada para korban bencana.

“Kami sedang menyiapkan acaranya. Untuk aksi-aksi kemanusiaan seperti ini, kami tidak pernah alpa. Sama seperti ketika Lombok kemarin, kami juga menggalang dana bantuan,” kata Thedy. (Bersambung)

loading...

Sebelumnya

Kepak reggae di Bumi Cenderawasih (1)

Selanjutnya

Kandidat direktur WHO kecewa dukungan Pasifik berpindah

Simak Juga

Populer
Polhukam |— Kamis, 06 Desember 2018 WP | 34426x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 23056x views
Polhukam |— Minggu, 09 Desember 2018 WP | 18983x views

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe