Facebook Twitter Google+ RSS RSS
Show/Hide

  1. Home
  2. Koran Jubi
  3. Jika koteka dan ukiran Asmat ke UNESCO
  • Rabu, 07 November 2018 — 23:49
  • 12104x views

Jika koteka dan ukiran Asmat ke UNESCO

“Koteka dan ukiran Asmat ke UNESCO harus melalui proses panjang. Pertama-tama harus terdaftar menjadi warisan budaya lokal, lalu diusul ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui diplomasi budaya, pemerintah di Papua membentuk tim penelitian khusus warisan budaya takbenda itu sendiri, dan disampaikan ke Kemenko PMK. Jika didukung Kemendikbud dan Kemenko PMK, maka diusulkan ke UNESCO”
Masyarakat adat wilayah Lapago mengenakan koteka pada Festival Budaya Lembah Baliem - Jubi/Islami

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
banner

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

KOTEKA dan ukiran-ukiran Asmat, Biak, Kamoro, dan daerah lainnya di Papua merupakan mahakarya yang unik. Keunikan warisan budaya orang asli Papua ini, bahkan menggugah sejumlah pihak, termasuk peneliti, untuk mengusulkannya sebagai warisan budaya dunia takbenda ke UNESCO. Akankah upaya itu berhasil?

Sekretaris Dewan Adat Papua Wilayah Lapago, Engelbertus Surabut, mengatakan koteka yang menjadi busana pria Papua bernilai tinggi, terutama di wilayah adat Lapago dan Meepago. Koteka menjadi simbol dari pria muda dan dewasa, berwibawa dan bernilai seni.

“Koteka juga memperlihatkan karakter pria-pria dari setiap suku di dua wilayah adat (Meepago dan Lapago). Perbedaan ini menunjukan karakter dan nilai,” kata Surabut, Selasa, 6 November 2018.

Menurutnya, nilai dan karakter yang terkandung dalam koteka terancam punah, lantaran cara pandang dan stigma sebagai akibat dari perkembangan zaman.

“Padangan kuno, tidak bermoral, porno menjadi ancaman,” ujarnya.

Karena itu, semua pihak harus melestarikannya. Jaminan hukum adalah satu upaya melindungi koteka.

“Saya pikir sangat penting jaminan hukum internasional terhadap kekayaan masyarakat asli (Papua),” katanya.

Koteka dan ukiran Asmat sudah terdaftar sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Hingga 2017, seperti ditulis kwriu.kemdikbud.go.id terdapat 594 warisan budaya takbenda di Indonesia, 27 diantaranya dari Papua dan Papua Barat, seperti, yosim pancar, ukiran Asmat, barapen (Papua dan Papua Barat), tifa (Papua, Papua Barat, Maluku, NTT), noken, papeda, tomako batu, koteka, wor biak, elha, aker, honai, khombow, terfo, banondit (rumput kebar), hibihim (tari tumbutana), mod aki aksa igkojei, igya ser hanjob, ndambu, yu, pokem, fararior, farbakbuk, kuk kir kna, mansorandak, mbaham-matta/ko on kno mi mombi du qpona, dan anu beta tobat.

UNESCO mencatat noken untuk kategori warisan budaya takbenda (2012) dan Taman Nasional Lorentz (1999) untuk konservasi. Dengan mengusulkan koteka dan ukiran Asmat, Papua pada gilirannya menyumbangkan empat hartanya untuk dunia melalui Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB yang bermarkas di Paris, Perancis itu.

Penggagas noken ke UNESCO, Titus Christ Pekei, mengatakan koteka dan ukiran Asmat sudah dikenal luas, bahkan hingga ke mancanegara melalui para misionaris. Di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Belanda dan negara-negara Eropa dan Museum of Natural Art di New York, Amerika Serikat ditemukan museum Asmat. Oleh karena itu, penting untuk mengusulkannya ke UNESCO.

Namun, menurut dia, tak hanya ukiran Asmat, tapi juga ukiran Papua lainnya. Tema nominasinya mesti dikaji secara universal di Papua, sesuai kaidah menominasi warisan budaya takbenda/warisan, yang akan menjadi perhatian dan penilaian dewan konsultatif.

“Artinya, kalau ada dukungan dari semua pihak yang berkompeten, pemangku adat, agama dan pemerintah, serta masyarakat komunitas adat berbusana tradisi kearifan lokal Papua baik busana koteka, cawat, kulit kayu yang digunakan untuk tutup bagian organ kelamin dan lainnya, pun menjadi bagian dari kajiannya,” kata Pekei kepada Jubi.

Pemerintah dan masyarakat pada gilirannya jangan malas tahu, tetapi ekstra keras mendukung dan mendorongnya. Ia mencontohkan noken—yang terdapat di 7 wilayah adat. Lalu masuk ke aturan konvensi 2003 Tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda.

Pemerintah daerah di Tanah Papua juga perlu melindungi budaya khas Papua. Bahan baku pembuatan ukiran, baik Asmat, Kamoro, Biak, maupun suku-suku lainnya, harus dibudidayakan.

“Ukiran dan koteka pun belum lakukan. Tidak pikir pentingkan budaya akhirnya hilang dalam isu politisasi.”

Dirinya mengajak siapa pun agar melakukan gerakan satu orang satu noken. Tiap orang menanam satu pohon.

Koteka dan ukiran Asmat diusulkan ke UNESCO memang harus melalui proses panjang. Pertama-tama harus terdaftar menjadi warisan budaya lokal, lalu diusul ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui diplomasi budaya, pemerintah di Papua membentuk tim penelitian khusus warisan budaya takbenda itu sendiri, dan disampaikan ke Kemenko PMK. Jika didukung Kemendikbud dan Kemenko PMK, maka diusulkan ke UNESCO.

Usulan untuk didaftarkan UNESCO dianggap penting. Hanya saja ukiran disatukan menjadi ukiran Papua—tak hanya ukiran Asmat, tapi juga ukiran dari daerah lainnya di Papua.

Pengusulan sebagai warisan budaya takbenda ke organisasi yang didirikan tahun 1945 itu juga harus diawali penelitian. Balai Arkeologi Papua pernah meneliti ukiran Asmat tahun 2009. Laporan penelitiannya bisa menjadi pendukung data pengusulan ke UNESCO.

“Hasil penelitian menunjukkan ukiran Asmat tidak bisa dipisahkan dari tradisi prasejarah. Tradisi prasejarah dimana kehidupan tidak bisa dipisahkan dari lingkungan hidup sekitar. Motif-motif ukiran Asmat merupakan gambaran lingkungan sekitar orang Asmat,” kata peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto.

Pihaknya sangat mendukung usulan ke UNESCO, berupa data hasil penelitian pemakaian koteka sejak zaman prasejarah, dan perkembangan ukiran Asmat sejak masa prasejarah. Koteka merupakan bentuk kearifan lokal, ciri khas, dan identitas orang Papua.

Dari segi gayanya para ahli seni menyebut ukiran Asmat sebagai primitive art. Arkeolog menyebut motif-motif ukiran Asmat sudah ada sejak zaman prasejarah. Salah satu ciri khas motif prasejarah adalah fauna melata seperti biawak (soa-soa), buaya, dan ular.

“Pakaian tradisional seperti koteka serta ukiran Asmat merupakan obyek kajian etnoarkeologi. Arkeolog juga melakukan penelitian koteka dan ukiran Asmat sebagai data banding dalam penelitian pakaian dan ukiran prasejarah Papua,” ujarnya.

Ukiran Asmat akan dilindungi jika diusulkan ke UNESCO. Maka pemerintah juga harus melestarikannya secara formal dengan membangun museum khusus. Selain itu, kesejahteraan pengukir Asmat juga bakal meningkat, karena orang akan membeli dan memajang ukiran Asmat sebagai hiasan rumah. Ukiran Asmat juga akan menjadi materi muatan lokal pelajaran sekolah di Papua. (*)

loading...

Sebelumnya

Mahasiswa yang dikirim ke luar negeri harus membangun Papua

Selanjutnya

Ketika prajurit TNI mengajar warga Yanggandur baca tulis

Simak Juga

Populer

Subscribe to our mailing list

* indicates required
Jl. Sakura Gg Jati I No A5, Perumnas II Waena Jayapura - Papua (99351)
Telp: 0967 - 574209
Fax : 0967 - 574216
Email : [email protected]

Copyright © 2013. All rights Reserved PT Jujur Bicara Papua

Search Engine Submission - AddMe